Pengetahuan-Saya

mindpiece


There are times where I have so much things to write but little aspiration to do it. No encouragement.

Saya sedang rajin mengunggah tulisan di blog saya di tumblr, http://forevernikn.tumblr.com/, sebagai bagian dari upaya untuk menjadikannya sebuah buku yang akan saya terbitkan sendiri. Ini merupakan impian masa kecil. Seingat saya sejak SD kelas 5 atau 6 saya sudah senang menulis puisi atau setidaknya apa yang saya pikir sebagai puisi. Pemicunya apalagi kalau bukan buku-buku puisi yang saya baca di perpustakaan umum, selanjutnya di perpustakaan SMP Negeri 196 Cilangkap. Waktu itu saya belum cukup mampu merangkai kata dan kalimat menjadi sebuah narasi. Ketika itu saya sedang senang mendengarkan lagu dan mengoleksi lirik-lirik lagu yang biasanya pendek dan punya rima. Awalnya saya mencoba menulis lirik lagu. Saya tidak mengenal puisi. Kedua orang tua saya bukan yang menyukai puisi.

Perlahan dari buku-buku puisi yang saya temukan di perpustakaan umum, saya pun belajar membuat puisi sendiri. Saya merasa ada sesuatu yang membuncah ketika selesai bergulat dengan kata-kata dan maknanya. Menyelesaikan sebuah puisi adalah perjuangan untuk belajar membentuk makna dan menyampaikan emosi dalam bentuk yang tertata, berirama, dan indah. Saya juga belajar menuangkan kemarahan, kekecewaan, kelucuan, keluguan, kebahagiaan, keheranan dan berbagai perasaan lain dalam bentuk yang lebih lentur. Saya belajar bagaimana merangkai kata-kata yang cocok mewakili perasaan saya.

Saya mempunyai beberapa buku puisi yang dulu saya namakan buku “Isi Hati” dan selanjutnya menjadi “Mindpiece”. Saya simpan terus buku-buku itu. Saya mengunggah di blog supaya masih ada arsip jika nantinya hilang. Kadang saya membeli buku puisi sebagai perbandingan dan belajar dari puisi karya orang lain.

Seingat saya, ada beberapa puisi yang saya tulis sambil nangis-nangis bombay baik karena sedih maupun karena marah. Menulis puisi itu seru dan nggak ada duanya. Kemudian muncul yang namanya website gratisan di geocities. Waktu itu seingat saya belum disebut sebagai blog. Sekitar setahun kemudian muncul fenomena blog. Saya pun menemukan tantangan baru, menulis lebih panjang.

Perlahan tapi pasti saya mulai meninggalkan puisi dan mulai menulis pengalaman sehari-hari dan pemaknaannya dalam blog. Sampai hari ini. Kemudian muncul fenomena 140 karakter di facebook dan twitter. Saya masih heran dengan pembatasan 140 karakter itu.

Satu hal yang paling saya suka dengan proyek blog dan buku puisi ini adalah saya dapat membacanya lagi dengan cara dan pemaknaan yang berbeda dari sebelumnya, dan masih bisa merenungi perasaan yang berkecamuk saat menuliskannya. Indah pada waktunya.

Malang, 14 September 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s