Pengetahuan-Saya

Produk gagal yang tidak pernah selesai


Senang sekali bisa menemukan dan meminjam buku Paulo Freire edisi bahasa Indonesia terbitan 1985 di antara koleksi perpustakaan Kota Malang. Bukunya sudah lusuh tapi tidak masalah karena masih layak dibaca.

Tulisan ini ingin mengutip dan menuliskan ulang beberapa bagian yang berkesan bagi saya. Juga untuk mengingatkan kembali makna pemberdayaan yang sesungguhnya, karena konsep pemberdayaan sudah terlalu sering digunakan dengan berbagai makna dan tujuan yang menggerus makna sejarahnya.

Freire dianggap sebagai salah satu pelopor pendidikan populer atau pendidikan orang dewasa. Tulisannya merupakan refleksi yang belum basi karena sampai sekarang, cara mendidik yang dia sebut sebagai pola bank atau menabung masih lazim dilakukan di institusi pendidikan formal. Pola menabung yang dia maksudkan disebut juga pendidikan bercerita dengan guru sebagai sumber. Pola pendidikan seperti itu menekankan murid untuk mencatat, menghapal dan mengulangi apa yang diajarkan guru tanpa memahami arti sesungguhnya dari ungkapan atau angka yang diucapkan. Dengan pola seperti itu, murid dianggap sebagai wadah kosong; tanpa kepribadian, tanpa minat, tanpa bakat, tanpa daya nalar, dan guru adalah penabung atau bankir yang memiliki kekuasaan mengisi wadah tersebut. Dalam pola menabung ini, pengetahuan menjadi seperti sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan ke orang lain yang tidak berpengetahuan.

Menurut Freire, pengetahuan hanya lahir melalui usaha penemuan dan penemuan ulang, pencarian manusia yang gelisah, terus-menerus, dan dilakukan secara berkelompok.

Saya dan pembaca mungkin pernah punya pengalaman di mana guru membicarakan dan menyampaikan realitas sebagai sesuatu yang statis, terpisah dari realitas lain, atau sama sekali asing. Sayangnya, ketidaktahuan murid justru dianggap sebagai pembenaran dari pola menabung ini. Saya merasa punya pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, tapi nampaknya pengalaman saya bukan hal yang penting. Bukan juga sebuah pengetahuan. Perlahan tapi pasti, saya hanya menjadi sosok yang diakui hanya jika saya tunduk pada variabel yang telah ditentukan di luar kehendak saya.

Perjuangan dimulai dari kesadaran bahwa mereka selama ini telah dihancurkan. Tindakan pembebasan harus memahami ketergantungan sebagai suatu titik lemah. Kaum tertindas enggan melakukan perlawanan dan tidak percaya pada kekuatan diri sendiri. Bagi penindas, menjadi ada berarti memiliki dengan mengorbankan mereka yang tidak memiliki apapun.

Bahan bacaan. Membaca buku, artikel majalah, dan menulis puisi adalah bagian dari membangkitkan kesadaran saya. Perpustakaan adalah oasis. Airnya memberi kesegaran dan menceriakan pori-pori tubuh. Melalui bacaan, saya membaca dan merasa realitas orang lain. Saya pun dulunya tidak percaya saya memiliki kekuatan. Tidak ada yang pernah mengatakan atau menyiratkan bahwa saya punya kekuatan, dalam bentuk apapun.

Freire menuliskan cerita kawannya mengenai sekelompok petani yang mengambil alih tanah pertanian dan menyandera tuan tanah. Namun tidak ada yang berani menjaga sandera karena mereka takut dan merasa bersalah telah menentang majikan mereka. Dengan kata lain, sang majikan sudah berada di dalam diri mereka.

Ini yang paling mengkhawatirkan, bahkan menakutkan. Ketika saya merasa sudah berdaya tapi sebenarnya kekuasaan majikan telah mengakar pada alam bawah sadar. Di satu sisi, saya takut melawan majikan. Di sisi lain, saya mungkin akan melakuan kekejaman yang sama seperti yang dilakukan majikan. Freire juga mencatat bahwa pemberontakan kaum tertindas biasanya sama kejamnyadengan kekejaman awal kaum penindas. I have become a person that I hated the most. Berkuasa tanpa kesadaran kritis ternyata berbeda dengan menjadi berdaya.

Kelompok elit berkuasa menggunakan pola pendidikan menabung untuk menumbuhkan sikap pasif dalam masyarakat dengan menenggelamkan kesadaran mereka dan mengisinya dengan slogan-slogan yang menciptakan rasa takut lebih besar terhadap kebebasan.

Komentar pendek saja, pendidikan tidak netral.

Pendidikan pola menabung melihat adanya dikotomi antara manusia dengan dunia: manusia semata-mata ada di dalam dunia, bukan bersama dunia; manusia adalah penonton bukan pencipta. Manusia dianggap bukan makhluk yang berkesadaran. Pendidikan seperti itu bermaksud menutup ruang untuk melihat realitas secara kritis.

Freire mengutip Fromm yang mengatakan penderitaan karena ketidakberdayaan berakar dari terganggunya keseimbangan dalam diri manusia. Keseimbangan terganggu oleh konsep pendidikan yang menyukai segala hal yang mekanis, statis, dan terkotak-kotak. Pola pendidikan menabung cenderung membuat dikotomi terhadap apapun. Padahal alam semesta tidak cukup dilihat dari dua sisi. Pendidikan yang mengekang dan menekankan doktrinasi melahirkan sikap membeo.

Freire mengingatkan agar masyarakat revolusioner tidak mewarisi dan terjebak pada metode pendidikan yang sama karena seringkali mereka tidak mengetahui dampak pola tersebut sehingga menggunakan metode tadi sebagai upaya pembebasan. Jangan membeo!

Di banyak belahan dunia, pendidikan menjadi bagian dari praktek dominasi daripada praktek kebebasan.

Begitulah saya. Produk Orde Baru. Mudah-mudahan produk gagal.

Ketika manusia mampu merefleksikan dunia dan dirinya sendiri secara bersamaan dan memperluas cakupan pengamatannya maka ia mulai mengarahkan perhatiannya kepada gejala yang selama ini tidak jelas.

Awalnya memang samar-samar karena mata hati sudah digelapkan dengan pendidikan pola menabung. Saya diajarkan bergantung pada pengetahuan orang lain. Saya diajarkan menunggu orang yang lebih berkuasa dan berpengetahuan menabung. Saya kelelahan karena ternyata wadah saya tidak kosong. Di dalamnya sudah berisi. Sulit dipercaya! Satu persatu mitos gugur. Saat itulah, saya mulai melihat.

Pendidikan menegaskan manusia sebagai makhluk yang berada dalam proses menjadi, sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna dalam dan dengan realitas yang juga tidak pernah selesai.

Saya belum selesai, mungkin tidak akan selesai. Namun pendidikan pola menabung telah menyelesaikan saya. Paling tidak setiap lulus dari sekolah formal, ditanamkan rasa bahwa pendidikan tahap ini sudah selesai dan waktunya melanjutkan bentuk tabungan ke deposito atau jenis investasi lain.

Ketika manusia menyadari dirinya sebagai suatu masalah dan menjadikannya sebagai obyek pemikiran maka pandangan magis dan naif yang melahirkan sikap fatalistik diharapkan berubah menjadi sikap kritis dan obyektif.

Pihak yang berkuasa sepertinya sangat sadar bahwa saya bisa membawa masalah, maka diselesaikanlah saya dengan cara paling sistematis. Pendidikan pola menabung. Sejak masuk SD saya sudah diajarkan menabung. Lalu saya dengar desas-desus kalau kepala sekolah mengambil sebagian tabungan para murid. Saya masih ingat walaupun para orang tua tidak membicarakannya secara langsung pada kami. Orang tua! Mereka pikir anak-anak tidak punya ingatan yang kuat. Berharaplah demikian!

Freire menawarkan solusi dari pola pendidikan yang menindas tersebut dengan memecahkan masalah kontradiksi antara guru-murid. Menurutnya, pendidikan kaum tertindas terdiri dari dua tahap:

  1. mengenali sebab terjadinya penindasan dan secara aktif melibatkan diri mengadakan perubahan
  2. ketika sudah terjadi perubahan maka pendidikan tidak lagi menjadi milik kaum tertindas tetapi menjadi milik seluruh manusia untuk mencapai kebebasan.

Dialog adalah bentuk perjumpaan di antara sesama manusia dengan perantaraan dunia. Tidak akan terjadi dialog jika salah satu pihak menolak hak orang/kelompok lain menamai dunia dengan kata-katanya sendiri.

Menamai dunia sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan saya adalah salah satu sumber kekuatan, sumber kesenangan, sumber keindahan, sumber kesadaran.

Freire juga menulis bahwa syarat lain terjadinya dialog adalah cinta dan harapan. Oleh karena itu, dialog tidak dapat berlangsung dalam hubungan yang bersifat dominasi karena berlawanan dengan cinta itu sendiri. Sementara harapan berakar dari ketidaksempurnaan manusia sehingga terus-menerus melakukan pencarian.

Mari berdialog dalam cinta! Mari mencari bukan mendominasi! Wah, bisa jadi slogan baru!

Freire mengingatkan bahwa manipulasi, pembuatan slogan, usaha “menabung”, menggolong-golongkan, dan pemberian resep (tips) tidak boleh menjadi unsur praksis revolusi karena semua itu merupakan unsur praksis dominasi.

Sebagai pustakawan yang terbiasa melakukan klasifikasi, upaya menggolong-golongkan sudah biasa saya lakukan. Sejak kecil pun saya sudah diajarkan dengan berbagai label selain halal dan haram. Saya juga diajarkan bahwa menabung itu sangat bagus. Tidak semuanya jelek tapi hanya menekankan bahwa usaha mempreteli ide-ide yang sudah tertanam tidak akan mudah.

Sumber: Freire, Paulo. 1985. Pendidikan Kaum Tertindas. LP3ES, Jakarta.

Malang, 21 Juli 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s