Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Seputar nilai dan peran perpustakaan komunitas


A Library is a communal place.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyentuh sedikit tentang perpustakaan komunitas dan sikap beberapa pustakawan yang menolak ide sebuah perpustakaan yang dikelola oleh seseorang atau sekelompok orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal ilmu perpustakaan. Ketidaksukaan sebagian pustakawan terhadap perpustakaan dilatarbelakangi oleh pengurangan jam kerja dan PHK akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa dan AS. Perpustakaan kemudian dihadapkan pada pilihan untuk menutup atau mengurangi (jam kerja dan kualitas) pelayanan dengan merekrut relawan yang tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan sebagai pustakawan.

Sebagaimana diketahui, perpustakaan komunitas (atau Taman Baca, Sudut Baca, dan nama lainnya) banyak berkembang di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Sebagian didirikan dan dikelola oleh pustakawan dengan bantuan relawan, sebagian lagi merupakan inisiatif dari warga sendiri yang menginginkan adanya perpustakaan di daerah mereka. Permasalahan di Indonesia, jangankan perpustakaan komunitas, sampai sekarang perpustakaan umum pun seringkali dikelola oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dan pelatihan ilmu perpustakaan yang memadai. Di masa lalu, mungkin juga sampai sekarang, perpustakaan identik sebagai tempat mutasi (jabatan transit dan dianggap “memberdayakan PNS”) untuk menampung pegawai negeri yang tidak mendapat tempat di departemen lain. Tidak ada pertimbangan mengenai minat apalagi keahlian dan pengetahuan dari si individu terhadap dunia kepustakawanan.

Pendanaan untuk mendirikan dan mengelola perpustakaan umum masih minim. Seluruh provinsi di Indonesia memiliki Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (kadang bernama Badan Arsip dan Perpustakaan) yang mengkoordinasi perpustakaan umum tingkat kabupaten/kota. Sumber dana anggaran perpustakaan di tingkat provinsi, sesuai data dari buku Profil Perpustakaan Umum Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia yang diterbitkan Perpustakaan Nasional (tahun 2011), berasal dari dana APBA dan APBN dengan komposisi persentase alokasi bervariasi. Misalnya di Aceh alokasi anggaran sebesar 10% untuk pengembangan koleksi dan 90% untuk belanja lain-lain tanpa diuraikan lebih jauh yang dimaksud dengan “lain-lain”. Sebagian besar Badan Perpustakaan provinsi lain tidak mengungkapkan alokasi anggaran mereka. Dana yang terbatas tersebut diupayakan untuk operasional beberapa perpustakaan tingkat kabupaten.

Sumber daya manusia sama bervariasinya. Dengan melihat dan menganalisis buku profil untuk wilayah 1 saja yang mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, saya melihat misalnya di provinsi Lampung SDM tenaga pengelola perpustakaan 61% berpendidikan SMA/SMK. Sementara SDM di Badan Perpustakaan di Sumatera Utara memiliki rasio 37% lulusan S1, 17% diploma dan 39% SMA/SMK. Badan Perpustakaan Lampung masih relatif “baru” berdiri yaitu 21 tahun, sementara di Sumatera Utara sudah beroperasi selama hampir 55 tahun. Itupun tidak dirinci mengenai bidang ilmu atau spesialisasi lulusan S1 dan diploma serta pelatihan kepustakawanan yang pernah diterima para pegawai.

Saya tidak ingin menyudutkan Badan Perpustakaan karena saya sendiri mengetahui bahwa banyak lulusan diploma dan sarjana ilmu perpustakaan yang lebih memilih untuk bekerja di lembaga profit, universitas swasta dan negeri, LSM, atau mencoba profesi lain daripada di sebuah perpustakaan tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Ada berbagai macam alasan, mulai dari suasana kerja, profesionalitas, birokrasi, jenjang karir dan jenjang honor, relokasi ke tempat terpencil, dan hambatan infrastruktur di daerah.

Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian orang tergerak untuk mendirikan perpustakaan komunitas dan mengajak keterlibatan masyarakat sebagai pengelola. Saya melihatnya sebagai upaya untuk mendekatkan perpustakaan yang di banyak tempat masih menjadi institusi asing dan koleksi serta pelayanannya seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu contoh adalah perpustakaan komunitas Karimun Jawa yang ingin meningkatkan efektivitas kegiatan belajar mengajar masyarakat melalui perpustakaan desa. Selain itu, perpustakaan komunitas tersebut berharap agar nantinya menjadi pusat budaya dan kegiatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain drop book (pengumpulan sumbangan buku-buku), pendataan buku, distribusi dan penyerahan buku, pengumpulan data atau kajian kesiapan komunitas, pengorganisasian kelompok masyarakat, penguatan kelompok, pelatihan manajemen perpustakaan komunitas, monitoring, serta evaluasi, dokumentasi, dan pelaporan.

Dalam beberapa literatur mengenai perpustakaan komunitas, beberapa kegiatan dan kesempatan yang dapat dilakukan oleh perpustakaan adalah membentuk dan mengelola kelompok baca, kelompok menulis, kelas bahasa, kelompok pembelajaran berbasis keluarga, pameran budaya dan museum, pementasan drama, kelas senam, pengajian, seminar, pelatihan, peluncuran dan diskusi buku, dan kegiatan lain untuk menjangkau sebanyak mungkin masyarakat lokal. Beberapa pustakawan dan penggerak perpustakaan komunitas di Inggris misalnya juga proaktif membangun aliansi dengan kelompok pelindung hak sipil untuk mendukung kegiatan mereka.

Jika sebuah perpustakaan umum biasanya didanai dari sumber-sumber publik (seperti uang pajak) dan dioperasikan oleh tenaga SDM dibayar oleh negara, maka perpustakaan komunitas didanai oleh komunitas tanpa menutup diri menerima bantuan dari lembaga di luar. Dalam debat di jejaring sosial, pustakawan di Inggris menegaskan kembali kewajiban negara untuk mendanai perpustakaan yang diakses oleh publik karena salah satu prinsip dari perpustakaan umum adalah menyediakan layanan dasar tanpa biaya. Namun melakukan advokasi bagi perubahan kebijakan perpustakaan di tengah masyarakat yang masih asing terhadap keberadaan dan peran perpustakaan sangat tidak bijaksana dilakukan. Kedua sisi perlu dilakukan bersama.

Di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, perpustakaan berkembang seiring dengan munculnya institusi pendidikan umum dan menjadi bagian penting dari transisi masyarakat pertanian ke masyarakat berbasis ekonomi industri. Perubahan sistem ekonomi tersebut membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan literasi dasar (membaca, menulis dan berhitung) dan keahlian khusus di bidang tertentu.

Di Amerika Serikat, perkembangan dan penyebaran perpustakaan tidak lepas dari sosok industrialis Andrew Carnegie yang selama lebih dari 40 tahun mensponsori pendirian hampir 1.700 perpustakaan umum. Pada periode tersebut, perpustakaan-perpustakaan tadi menjadi tumpuan bagi komunitas imigran dari seluruh dunia untuk belajar mandiri dan mengenal lebih mendalam mengenai negara baru mereka.

Di negara-negara di mana perekonomian ditopang oleh industri berat dan industri kreatif, beberapa penelitian telah dilakukan untuk menaksir nilai ekonomi, untuk individu maupun lembaga, dari perpustakaan umum. Ada nilai dan manfaat langsung dan tidak langsung dari sebuah perpustakaan. Dalam laporan penelitian berjudul “Measuring the economic benefits of arts and culture” yang disponsori Arts Council England tahun 2012, salah satu subyek penelitian adalah Bolton museums, libraries and archives yang mengelola 3 museum, 15 perpustakaan dan 1 pusat arsip. Rasio cost:benefit lembaga ini adalah 1:1.6 – artinya untuk setiap £10 yang dibelanjakan Bolton, dihasilkan nilai setara dengan £16. Teknik penilaian/penaksiran yang digunakan ada dua yaitu contingent valuation dan social return on investment. Sementara penelitian tahun 2008 terhadap perpustakaan-perpustakaan umum di New South Wales menunjukkan bahwa mereka menghasilkan nilai ekonomi setara dengan $4.24 untuk setiap $1 yang dikeluarkan dan memproduksi kegiatan ekonomi setara dengan $2.82 untuk setiap $1 yang dibelanjakan.

Pustakawan menggarisbawahi bahwa dampak dan besarnya nilai budaya dan ekonomi dari suatu perpustakaan terletak pada profesionalitas pengelolaannya. Di sini kemudian pustakawan mengingatkan masyarakat mengenai adanya dan pentingnya mempelajari ilmu perpustakaan. Mengelola perpustakaan tidak sekedar menjadi event organizer atau merapikan susunan koleksi di rak. Secara umum pustakawan merupakan profesi untuk membantu pengguna menemukan dan mengelola informasi dan menggunakannya secara efektif untuk tujuan pribadi dan profesional. Dengan kata lain pustakawan menjadi perantara/penghubung antara masyarakat pengguna dengan informasi yang ada di perpustakaannya (atau di perpustakaan lain).

Saat ini penilaian terhadap kompetensi suatu komunitas telah bergeser. Jika tadinya dilihat dari jumlah pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun maka sekarang dinilai dari kemampuan komunitas tersebut untuk terus belajar. Ini merupakan konteks di mana nilai jaringan sosial dan institusi seperti perpustakaan perlu dipertimbangkan. Dampaknya sangat besar untuk membantu individu dan masyarakat saling terhubung satu sama lain dan mempertahankan hubungan yang sudah terbentuk agar dapat memperlancar lingkaran pertukaran pengetahuan.

Sebagai institusi sosial, perpustakaan diharapkan memiliki daya adaptasi yang tinggi agar selalu relevan dan dimiliki oleh komunitasnya. Pustakawan sewajarnya tidak sebatas melayani komunitas tetapi juga memiliki keterampilan untuk membangun keterlibatan seluruh anggota komunitas.

The library is an apt symbol of freedom, democracy, and access to the information that community organizers need.

Malang, 12 Juli 2012

http://plablog.org/2009/03/the-changing-role-of-your-public-library.html
http://blog.irvingwb.com/blog/2011/03/the-community-library-in-our-emerging-knowledge-economy.html
http://www.sl.nsw.gov.au/services/public_libraries/publications/docs/enriching_communities.pdf
http://www.lisjobs.com/CareerQA_blog/?p=41

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s