Pengetahuan-Saya

Menjadi berdaya


Meskipun sudah mengenal komputer dan program DOS sejak 1994 tapi saya baru menggunakan e-mail sejak tahun 1997 ketika mulai masuk kuliah di Universitas Indonesia. Waktu itu saya keranjingan dan terpesona dengan medium baru ini sehingga rela menggunakan uang makan untuk merambah internet selama 1-2 jam saja. Salah satu e-mail pertama saya di yahoo.com masih aktif sampai sekarang. Sementara e-mail di mailcity.com sudah lama hangus. Saya ikut mengalami demam friendster, situs web, blog, milis, kemudian mulai tertarik dengan gmail, sempat tersihir facebook sebelum akhirnya menjaga jarak, dan saat ini aktif di twitter.

Dengan platform dan kapasitas server yang semakin beragam dan besar, tidak perlu waktu lama untuk melihat ledakan konten dalam berbagai subjek dan bahasa. Ledakan ini disebut David Shenk sebagai Data Smog yaitu suatu kondisi di mana informasi yang terlalu banyak justru menghalangi pengguna menemukan informasi tepat yang dia perlukan. Smog dalam bahasa Inggris berarti kabut bercampur asap, sehingga bisa kita bayangkan sulitnya “melihat dan menemukan” dalam kondisi seperti itu. Data smog muncul dari jumlah dan kecepatan informasi yang datang dari segala arah, tuntutan untuk membuat keputusan secara cepat, dan rasa cemas jika kita membuat keputusan tanpa mengetahui SEMUA informasi yang tersedia. Oleh karena itu, konten atau data yang melimpah seringkali bukan suatu anugerah jika pengguna tidak memahami media yang digunakan.

Sebagai orang dengan latar belakang ilmu perpustakaan, saya paham bahwa literasi informasi merupakan salah satu solusi mengatasi data smog. Secara singkat, literasi informasi dipahami sebagai seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mengenali kebutuhan informasi, menemukan, mengambil, menganalisa, dan menggunakan informasi untuk membuat keputusan. Informasi bisa tersimpan dan tersebar di berbagai media dan institusi; surat kabar, majalah, radio, televisi, video, situs web, jejaring sosial, perpustakaan, lembaga arsip, dll. Keahlian ini akan membekali pengguna atau pencari informasi dengan kemampuan untuk tahu kapan kita memerlukan informasi dan di mana menemukannya secara efektif dan efisien. Termasuk di dalamnya adalah keterampilan teknologi yang diperlukan untuk menggunakan perpustakaan sebagai pintu gerbang ke informasi.

Kebutuhan terhadap literasi informasi akan meningkat sesuai dengan semakin besarnya jumlah media yang diakses seseorang. Literasi informasi akan membantu seseorang untuk fokus dalam melakukan pencarian informasi dan mengambil keputusan, misalnya ketika membeli rumah, memilih sekolah, melakukan investasi, memilih calon kepala daerah, dan banyak lagi. Dengan pemahaman mengenai seluk-beluk informasi, seseorang tidak akan panik, bingung atau merasa tidak percaya diri ketika dihadapkan dengan gelombang informasi yang sangat besar dan perubahan teknologi yang semakin cepat.

Pengetahuan dan keterampilan menggunakan komputer atau perangkat elektronik tidak otomatis membuat seseorang terampil dalam mengelola informasi. Coba lihat kembali komputer masing-masing dan saya yakin ada berbagai macam berkas yang disimpan dalam berbagai direktori. Apakah kita sudah membaca, memahami dan menggunakan seluruh informasi yang kita simpan? Apakah kita benar-benar memerlukan seluruh informasi tersebut untuk saat ini dan 2 tahun mendatang? Apakah kita mampu menghubungkan informasi yang baru diperoleh dengan informasi dan pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya? Literasi informasi memacu kesadaran kritis dengan melihat informasi apa yang tersedia dan tidak tersedia dan kenapa itu terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

Ada berbagai macam modul pelatihan literasi informasi yang dikembangkan. Secara umum keterampilan yang akan diperoleh pengguna adalah kemampuan mengenali kebutuhan informasi, menggunakan mesin pencari, memanfaatkan layanan perpustakaan, menggunakan pangkalan data daring, menganalisa situs web, membaca secara efektif, melakukan penyitiran dengan benar, dan kemampuan dasar menulis.

Sebagai pengguna internet, seringkali kita diposisikan sebagai konsumen berbagai macam informasi. Tanpa kemampuan mengenali dan mengelola informasi yang diperlukan maka kita dengan mudah diarahkan dan diombang-ambingkan oleh SEO (Search Engine Optimization), perusahaan mesin pencari dan jejaring sosial. Besarnya volume informasi yang dimiliki menjadi tidak berarti jika seseorang atau suatu organisasi tidak dapat mengelolanya menjadi pengetahuan dan aksi yang bermanfaat.

Bisa disimpulkan bahwa di dalam situasi di mana informasi berarti kekuatan dan kekuasaan, tidak memiliki informasi yang dibutuhkan ketika kita membutuhkannya akan membuat kita tidak berdaya. Bagi saya, menjadi tidak berdaya bukan suatu pilihan.

Malang, 28 Juni 2012.

 

Tulisan ini bagian dari “Ngawur Writing Contest” yang diselenggarakan oleh:
Komunitas Ngawur
Pusat Teknologi
Blogger Nusantara

Advertisements

One thought on “Menjadi berdaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s