Pengetahuan-Saya

Toleransi dan agama


Saya merekomendasikan pengunjung blog ini untuk membaca artikel berjudul “Islamophobia and the fear of ‘the other’ in Myanmar yang ditulis Francis Wade. Tautnya ada di http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2012/06/2012610134755390151.html

Artikel tersebut menggugah saya untuk membuat tulisan ini. Bagaimana tidak? Dalam kondisi Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia yang sebagian umatnya membakar, menyegel, dan mendiskriminasi penganut keyakinan lain, sementara di negara yang tidak jauh dari kita, umat muslim disakiti oleh penganut agama lain. For me, this is violence and hatred trying to disguise their face with score of reason.

Artikel di atas membahas mengenai kehidupan kelompok minoritas Rohingya yang hampir seluruhnya muslim. Mereka merupakan keturunan Bengali dari Asia Selatan namun sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Myanmar bagian Barat. Bagi sebagian besar masyarakat Myanmar, etnis Rohingya dianggap imigran yang datang belakangan. Padahal, seperti tertulis dalam artikel, seorang Sultan Muslim pernah berkuasa di kota/daerah Arakan di abad 17. Jadi alasan bahwa mereka pendatang tidak tepat. Terutama karena imigran dari Cina yang datang belakangan tidak mengalami diskriminasi. Jadi ada perbedaan perlakuan untuk etnis yang berbeda.

Kemudian muncul alasan perbedaan agama. Sebagian orang di Myanmar merasa bahwa etnis Rohingya harus dibunuh semua atau diusir karena mengancam keyakinan Buddha di tanah Myanmar. Alasan yang sama persis seperti yang dikemukakan kelompok muslim radikal di Indonesia ketika menyerang kelompok Syiah, Ahmadiyah, atau gereja Kristen. Dalam rencana pemilu pertama Myanmar tahun 2014, etnis Rohingya terancam tidak terdaftar dan tidak diberi hak untuk memilih dan dipilih.

Bagi pembaca mungkin terdengar aneh, bagaimana masyarakat Myanmar yang sekian puluh tahun ditekan dan mengalami penindasan militer pada gilirannya menindas kelompok lain. Kenapa mereka begitu takut pada etnis minoritas ini? Apakah ada pertikaian di masa lalu yang menimbulkan dendam turun-temurun? Sepertinya bagi sebagian orang, identitas kebangsaan mereka terganggu dengan adanya etnis lain dengan warna kulit dan agama yang berbeda. Padahal kesamaan warna kulit dan agama juga bukan berarti tidak ada perbedaan di antara mereka. Perbedaan selalu ada dalam berbagai variasi.

Seperti dalam artikel saya sebelumnya, setiap kita memiliki kecenderungan untuk berbuat tidak adil. Seringkali pertarungan dan penyerangan terhadap kelompok minoritas dimulai dari kesombongan bahwa saya lebih kuat, lebih baik, dan perasaan superior lainnya. Minoritas sendiri tidak hanya dilihat dari sisi jumlah, melainkan dari besar tidaknya pengaruh dan kekuasaan suatu kelompok. Mari kita mengaca! Sepertinya ada perasaan superior itu di dalam diri kita sendiri. Jika anda etnis Jawa, mungkin anda merasa lebih baik dan lebih berbudaya dari etnis Sasak atau Papua. Jika anda dari etnis Aceh, mungkin anda merasa lebih berkontribusi pada kemerdekaan Indonesia dibanding etnis Batak, Minang, Melayu, dll. Jika anda dari etnis Bugis, mungkin anda merasa lebih nasionalis dari etnis lainnya. Masing-masing pihak merasa dan memaksakan diri untuk lebih baik agar mendapat pengakuan dan tentu kekuasaan.

Perasaan bangga pada etnis atau negara atau agama yang diyakini tidak menjadi masalah jika tidak diikuti dengan usaha merendahkan posisi/kekuasaan kelompok yang berbeda. We are as the other for others.

Seorang kawan memberikan taut ke artikel yang sangat bagus di sini http://www.bep.ox.ac.uk/__data/assets/pdf_file/0013/13504/Tolerance5_background_reading.pdf

Taut tersebut akan membawa anda pada sebuah tulisan berjudul “Religion, Tolerance and Intolerance: Views from Across the Disciplines.”Silakan dibaca dan direnungi sendiri. Tulisan tersebut kaya dengan hasil refleksi mengenai karakter manusia yang membentuk cara atau pola meyakini sesuatu termasuk di dalamnya fanatisme etnis, ras, agama, atau negara. Insentif berupa nirwana, penyelamatan (salvation), posisi ekonomi, sosial-budaya, dan politik yang diperoleh melalui keyakinan kebenaran mutlak membentuk cara pandang terhadap dunia yang dapat kita lihat seperti sekarang. Tulisan ini melihat kembali proses kebenaran suatu agama diajarkan dan diyakini sehingga memunculkan karakter tidak toleran terhadap keyakinan yang tidak berbeda.

Salah satu kutipan dari tulisan tersebut adalah

“As Allport suggests, although Christianity is associated with principles of universal love, benevolence and peace, the concrete history of Christianity is punctuated by episodes of unimaginable hatred, intolerance and violence…”

Pernyataan itu tidak hanya untuk agama Kristen tapi juga agama-agama yang ada sekarang menjadi mayoritas dari segi jumlah pengikut. Hampir semua agama mengajarkan toleransi, saling memaafkan, dan kesetaraan namun di dalamnya juga mengajarkan prasangka buruk terhadap kelompok LGBT dan merendahkan derajat perempuan. Tidak heran jika sebagian orang menganggap substansi nilai dalam kitab suci memengaruhi sikap dan perilaku umatnya dalam melakukan kekerasan.

Salah satu poin penting lainnya dalam tulisan ini adalah kecenderungan membangun prasangka (tidak hanya stereotipe berkonotasi negatif) terhadap kelompok/pihak lain demi memperkuat solidaritas dan superioritas kelompok sendiri. Dalam bagian “In-Group/Out-Group Effects ” dijelaskan bahwa

“This is the tendency of individuals to esteem members of the in-group while exhibiting prejudiced attitudes toward members of out-groups, and to discriminate in favour of members of the former and against those of the latter (Brewer 1999; Hewstone, Rubin and Willis 2002). ”

Di paragraf lain dituliskan:

“Groups in general, and religious groups in particular, provide their members (to varying degrees) with shared norms, values, traditions, and metaphysics, which in turn helps to mobilize, coordinate and justify collective action (see Kruglanski et al. 2006). ”

Jika membaca lebih jauh menuju akhir tulisan, kita disuguhkan oleh cara pandang antropologi dalam melihat sejarah perubahan agama di dunia. Agama menjadi salah satu cara memaknai hidup berkelompok. Saya senyum-senyum sendiri bagaimana fanatisme agama tidak beda dengan fanatisme sekolah yang memicu tawuran antar pelajar atau fanatisme fan klub sepakbola yang memicu tawuran antar suporter. Hemmm…..

Malang, 17 Juni 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s