Pengetahuan-Saya

Our present dictator are our past heroes


Kegalauan yang saya rasakan ini sudah lama saya rasakan. Kalau ditelusuri, sepertinya berawal saat saya mulai lancar membaca dan mulai membaca koran dan majalah yang dilanggan bapak. Saya mulai membaca saat usia 6 tahun dengan terbata-bata, kemudian usia 7 tahun sudah lebih lancar. Berarti antara tahun 1986-1987. Saya menyukai Pos Kota meskipun karikaturnya sering membuat saya terheran-heran tapi paling tidak ada gambar yang dapat saya lihat. Namun kehausan bacaan membuat saya mencari-cari sumber lain. Sumber itu adalah koran dan majalah. Sementara koran yang dilanggan bapak adalah Kompas dan kadang-kadang bapak membeli majalah politik dan investigasi seperti Tempo, Gatra, atau semacamnya.

Waktu itu saya diperkenalkan bahwa ada negara-negara lain di berbagai wilayah di muka bumi. Saya tertarik dengan kenyataan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara di planet ini. Ada yang aneh, berita yang muncul hampir di tiap edisi adalah perang. Satu yang paling saya ingat adalah perang Irak-Iran karena sangat berkesan. Dimana kesannya? Kesan itu muncul karena beberapa tahun masa kecil saya dilalui dengan membaca (mengikuti) perang itu. Saya belum mengerti mengenai makna perang tapi dari penjelasan di koran sepertinya itu bukan hal yang bagus dan menyenangkan, terutama untuk anak kecil. Kegiatan paling menyenangkan saat masa kecil adalah ketika saya merebahkan tubuh kecil saya di teras sambil memandang ke langit dan tersenyum sendiri melihat bintang-bintang.

Bagaimanapun juga, perang Irak-Iran tetap terjadi dan berlanjut. Saya tidak mengerti kenapa perang bisa terjadi. Saya bertanya sendiri, “Kenapa ada orang-orang yang bisa berperang bertahun-tahun?” Kadang saya tersenyum sendiri ketika membaca mengenai berita perang dan kematian para korban, tentara atau masyarakat sipil. Merasa lucu saja membayangkan orang-orang yang tidak saya kenal ini tembak-tembakan lalu ada yang mati atau terluka, begitu seterusnya selama beberapa tahun. Terpikir oleh saya untuk menjadi juru damai. Rasanya itu awal saya mulai memiliki cita-cita. Namun ketika agak besar dan saya mengenal musik, saya berpikir menjadi penyiar radio atau penyanyi jauh lebih jelas secara konsep dan lebih menyenangkan daripada juru damai yang sangat tidak jelas.

Masa-masa berlalu dan saya tumbuh menjadi orang dewasa. Saya mulai mengenali dan memiliki kepentingan dan kekuasaan. Secara menyedihkan, saya mulai memahami makna perang. Namun saya masih menganggap bahwa merebahkan diri dan melihat bintang-bintang di langit merupakan kegiatan paling menyenangkan di muka bumi. Kamu akan ingin berada di antara cahaya kecil indah nun jauh di sana, di tempat yang tidak kamu kenal.

Pada suatu persinggahan di Bandara Changi, Singapura, saya dan seorang kawan menonton berita menenai demonstrasi besar-besaran di Kairo, Mesir. Ada seorang demonstran yang diwawancarai di tengah kelompoknya. Dengan kemarahan terpancar dari matanya, dia menuntut agar Mubarak, mantan presiden Mesir, digantung sebagai balasan dari kediktatorannya. Perasaan “anak kecil” saya terusik. Saya berkata ke kawan saya, “Lihat orang itu! Dia ingin Mubarak digantung. Lalu setelah dia digantung apakah Mesir akan menjadi lebih baik dan tidak ada lagi pemimpin diktator lainnya? Kenapa tuntutan utamanya adalah kematian Mubarak?”

Saya terganggu karena setelah masa kecil berlalu, saya masih membaca tentang peperangan. Tidak seperti saya duga, ternyata Irak-Iran bukanlah satu-satunya pihak yang saling berperang. Ada lebih banyak lagi orang-orang yang, entah mereka suka atau tidak, menyulut terjadinya perang dalam waktu yang lama dan seperti enggan mengakhirinya.

Mubarak atau Suharto tidak hanya satu. Kita sendiri mengambil peran dalam pembentukan para diktator ini. These people don’t arise from the ashes. They started from the so called people movement itself. Salah satu contoh yang menarik adalah Hun Sen. Saya sangat ketinggalan zaman dan rupanya malas membaca berita internasional. Bulan Mei yang lalu saya baru mengetahui dari kawan asal Kamboja kalau perdana menteri mereka masih Hun Sen. I was surprised, really surprised. Karena saya ingat waktu masih kecil, saya sering lihat wajah Hun Sen di berita-berita TVRI. Saya pikir dia sudah sangat tua dan mundur dari posisinya jauh-jauh hari. Namun, kenyataan bicara lain. Partainya sudah berkuasa selama 27 tahun dan kawan berkata bahwa Hun Sen telah membuat pernyataan bahwa dia mampu dan akan berkuasa selama 10 tahun ke depan. Dia mungkin ingin menyamakan atau mengalahkan rekor Suharto.

Hun Sen tidak dilahirkan diktator sama seperti pemimpin rejim lain. Dia seorang veteran perang yang melawan rejim Khmer Merah dan salah satu pendiri United Front for the National Salvation of Kampuchea (UFNSK). Dia melawan genosida dan dielu-elu sebagai salah salah satu pejuang dalam pertempuran. I can say that our present dictators are our past heroes. We celebrate and idolise them after the war or any chaos. They ousted the previous violence, genocidal, and corrupt regime. They claimed, and it’s true at one time, that we, the people, stand behind them to take over the power. We blinded by their heroic speeches, brave adventure, and by our own expectation that this person will be better than the previous one. We never thought about setting the limit and controlling the power. Raised to learn helplessness, we believe that we don’t have the power and these new heroes save our lives, therefore the winner takes them all.

The new ruler slowly understand this position and tried to make new rules on their behalf. Freed the people from genocide doesn’t mean they have empowered the people. Most of us who wished to go back to Suharto era are those who feel political (power) stability in one hand is much better than the reformation era. We don’t know or ever heard about power sharing because we (reluctantly) don’t practice it in our families and communities. Don’t be surprised if new regime will grow in Indonesia because the mentality stay the same. The people still feel powerless in many levels.

Keinginan menghukum mati seorang diktator seperti sebuah seremoni belaka untuk nantinya digantikan rejim baru. Masyarakat garang menghukum pencuri tapi tidak peka dengan ketidakadilan yang ada di sekitar mereka. Mereka galak menghukum penzina dengan mengarak pelaku telanjang keliling pemukiman tapi tidak mengenal seksualitas mereka sendiri. Mereka ganas menghukum pembunuh tapi masih berpikir untuk memilih pelanggar HAM berat untuk menjadi presiden.

I learn from early age about power like any other children. I can’t define it but I was able to recognize, sense, and gradually infuse it to ourselves. Each of us have the potential to be the one we hate the most if we are not aware and critical to ourselves. So be caution if next time you idolised new hero or may be you are the hero to others, may be you will be the next regime that ruled with violence.

Malang, 12 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s