Pengetahuan-Saya

The Devil’s Advocate


Saya tertarik menulis ketika diskusi mengenai Irshad Manji dan Lady Gaga mulai masuk ke isu ijtihad. Diskusi mengenai Irshad Manji dan Lady Gaga ini diawali dengan berita penyerangan acara peluncuran buku Manji yang diadakan beberapa lembaga di Jakarta dan Jogja. Disusul dengan rencana konser Lady Gaga yang ditentang oleh FPI dan ormas islam lain sehingga sampai hari ini konsernya dilarang oleh pemerintah.

Diskusi mengenai buku Irshad Manji akhirnya, setelah sekian lama, menyambar soal ijtihad. Ada sebagian orang islam yang menyatakan bahwa tidak mungkin Manji melakukan ijtihad karena dia tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah islam dan bukan anggota ulama ijtihad. Oleh karena dia tidak memiliki kapasitas yang “disyaratkan” maka tidak mungkin seorang Manji melakukan ijtihad.

Kemudian saya mencari tulisan mengenai sejarah ijtihad dan saya mendapatkan tulisan sederhana dan mudah dipahami di blog ini: http://analisis-fiqih.blogspot.com/2008/11/sekitar-abad-5-h-11-m-para-fuqaha.html.

Penulisnya seorang muda dari Malang yang membahas mengenai dampak dari penutupan pintu ijtihad tahun 11 M pada peradaban islam. Saya sarankan pembaca ikut membaca tulisan pendek ini yang kemudian dapat dilanjutkan dengan tulisan lain yang lebih mendalam.

Saya hendak menekankan pembelajaran dari sejarah bahwa berhenti dan menutup diri selalu menjurus pada fanatisme tak berujung. Tidak ada satu pun orang di dunia yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Ijtihad bagi saya terobosan dunia islam yang menggugat fanatisme agama-agama yang ada sebelum islam.

Perintah utama dalam islam bagi saya bukanlah sholat atau tunduk pada islam. Tidak mungkin Nabi Muhammad secara tiba-tiba datang ke komunitasnya dan mengatakan “Sembah Tuhan ini atau kamu masuk neraka!” Komunitasnya mungkin tidak mengenal atau punya pemahaman berbeda tentang apa itu tuhan, apa itu kebaikan, apa itu kehormatan, apa itu surga dan neraka, dsb.

Ayat al-Quran yang pertama turun berisi seruan untuk membaca di tengah-tengah komunitas yang tidak bisa membaca, baik itu membaca secara tekstual maupun kontekstual. Seruan itu menjadi salah satu momentum besar yang memulai suatu peradaban islam yang berisi tulis-menulis, pengajian yang berisi perdebatan, perdagangan, perkenalan dengan budaya lain, dll. Sampai kemudian kekuasaan tertentu menghentikan proses ijtihad dengan berbagai alasan. Bahkan ada sebagian orang yang ingin mengembalikan kejayaan islam dengan penutupan pintu ijtihad. Seakan kejayaan islam diraih hanya dengan kekerasan dan ketertutupan.

Sebagian orang menganggap ijtihad masih terus dilakukan tapi terbatas pada kelompok ulama. Sementara sebagian besar ulama adalah laki-laki, dibesarkan dalam sistem patriarki, bahkan ulama perempuan pun seringkali lebih keras terhadap kaumnya sendiri, sehingga pemahaman dan ijtihad yang dilakukan pun masih dalam batas-batas sistem patriarki tersebut. Laki-laki, terutama golongan tertentu, sudah lebih dulu dan lebih lama mendapatkan dan menyeleksi pengetahuan sesuai dengan kepentingan kekuasaan.

Saya tidak membela Manji atau Lady Gaga. Saya membela sesuatu yang lebih besar dari mereka yaitu kebebasan untuk berpikir kritis dalam masyarakat yang menganut ideologi Pancasila.

Sangat disayangkan sebagian kaum islam di Indonesia berbuat kekerasan dan melakukan pelarangan pada kelompok yang berbeda sementara banyak dari komunitas islam yang menjadi minoritas di negara lain dan mengalami banyak diskriminasi. Pada dasarnya kelompok islam yang bereaksi keras di sini tidak lain hanya mengekor fanatisme kelompok yang mendiskriminasikan kaum islam di negara lain. Sedikit sekali perbedaannya.

Ketakutan mereka bahwa Manji dan Lady Gaga akan memberi pengaruh negatif menggambarkan bahwa mereka sangat membenci iblis dalam tanda kutip dan berpikir bahwa pengaruh negatif hanya ada di tempat dan orang-orang tertentu. Sepertinya merasa merasa bahwa tidak ada iblis atau setan di dalam keluarga, DPR/D, pengajian, perusahaan kecil atau besar, di jalanan, di istana presiden, dan di dalam diri mereka sendiri. Saya sangat rekomendasikan mereka untuk menonton film lama berjudul “The Devil’s Advocate”. Setelah menontonnya, saya merasa iblis/setan bukan sesuatu yang perlu dilawan karena mereka juga tidak berusaha melawan/menjauhi manusia, mereka mendekati dan sangat memahami keinginan dan hasrat manusia. Bahkan mungkin mereka lebih memahami manusia daripada manusia memahami diri mereka sendiri. That is if we believe that they’ve been around before human ever existed. We all may be the devil’s advocate in our own way.

They don’t see me coming: that’s what you’re missing. – John Milton (The Devil’s Advocate)

Jakarta, 26 Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s