Pengetahuan-Saya

Catatan dari lokakarya MBI kedua Malaysia


Setelah hampir setahun, saya baru bisa menuliskan pengalaman dan kesan ketika menghadiri MBI (Movement Building Initiative) workshop kedua Malaysia hari ini.  Peserta dari workshop atau bengkel kedua JASS Malaysia ini difokuskan pada wanita orang asli (istilah mereka untuk indigenous people) dan dilakukan di La Salle Hall, Kuala Lumpur, tanggal 9-12 Juni 2011. Ada 42 peserta yang hadir dan 6 pembicara. Workshop difasilitasi oleh Tijah dan Manohara, core team dari JASS di Malaysia.

Ada 7 negeri yang mengikuti workshop ini yaitu Sabah, Negeri Sembilan, Kelantan, Johor, Pahang, dan Perak dan Selangor. Dari seluruh peserta, ada 10-15 orang berusia remaja yaitu usia 15-18 tahun. Sebagian lainnya berusia di atas 30 tahun. Hampir semua peserta adalah individu masyarakat asli yang belum terorganisir dan tidak bekerja di NGO atau serikat masyarakat asli.  Dari cerita Tijah, saya menangkap bahwa peserta direkrut dari mulut ke mulut, dari rujukan suami mereka yang terlibat dalam perkumpulan masyarakat asli, dan dua orang merupakan anggota MBI workshop terdahulu. Jadi mereka tidak membuat pengumuman khusus untuk mencari peserta secara tertulis mengingat masyarakat asli terkonsentrasi di beberapa lokasi dan akses komunikasi yang dapat mereka jangkau adalah telepon seluler.

Ada dua orang peserta yang mengajak serta anak mereka, berusia 16 tahun, dalam workshop ini.  Keikutsertaan peserta yang belum pernah terlibat dalam gerakan terorganisir dan terlibatnya remaja usia SMP dan SMA merupakan dua hal unik dalam workshop ini. Tijah mengakui bahwa workshop ini merupakan tahap awal bagi komunitas wanita orang asli. Dia berani membuat workshop ini karena komunitas dan isu orang asli telah menjadi perhatiannya sejak lama.

Image

Saat saya sampai di KL, materi workshop sudah selesai. Namun saya sempat berbincang dan memberi perkenalan mengenai JASS SEA kepada kawan-kawan peserta. Lalu jam 19:00 dilakukan malam keakraban. Sambil menunggu acara mulai, saya berbincang-bincang dengan peserta di kamar. Saya berkenalan dengan peserta muda seperti Aminah, Mia, Masturah, Ella, Putri, dan Julailiana. Secara pribadi, saya mendapat banyak pencerahan dan informasi dari mereka yang selama ini tidak saya ketahui. Mereka bercerita tentang sinetron dan musisi dari Indonesia yang terkenal di pelosok di Malaysia. Sebagian suka sekali dengan sinetron Indonesia dan hapal nama para pemain.  Mia dan Aminah aktif bertanya tentang JASS dan kegiatan saya. 

Saya baru mengetahui bahwa sebagian besar orang asli menganut animisme, bukan Islam atau Kristen. Di Indonesia orang asli juga menganut animisme tapi rasanya saya juga terbawa bias dan stereotipe yang ditawarkan media bahwa Malaysia identik dengan orang melayu beragama Islam. Aturan syariah yang diberlakukan pemerintah juga tidak berlaku pada mereka. Mungkin karena itu mereka tampaknya kurang memahami isu fundamentalisme atas nama agama.

Mia adalah mahasiswa tourist management dan cukup terpapar dengan TIK dibanding kawan-kawan lain yang hidup di kampung. Dia juga dimintai bantuan Tijah untuk mengorganisir malam keakraban. Hampir semua peserta memiliki telepon genggam, sedikit sekali yang memiliki email apalagi facebook. Sinyal HP di kampung mereka sangat bagus. Walaupun infrastuktur internet sudah masuk kampung tapi masih cukup mahal dan penggunaannya tidak sesering HP.

Saat sesi terakhir selesai, mereka mengaku sedih akan berpisah karena sudah merasa dekat dengan satu sama lain. Mereka banyak bercerita tentang kehidupan mereka di kampung. Sebagian besar mengaku hanya ibu rumah tangga tetapi jika ditanya lebih jauh mereka juga berladang, mengumpulkan getah karet, kerja di perkebunan sawit, dll. Bagi mereka, termasuk ibu saya, dan banyak perempuan lain, bekerja di ladang atau kebun merupakan satu kesatuan dengan status pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Peserta remaja mengaku hanya belajar dan belum bekerja mencari uang. Sebagian besar belum berpikir mau bekerja apa setelah lulus. Seorang peserta lain mengatakan bahwa sebagian orang muda dari masyarakat asli ada yang bekerja di kota tapi upah mereka sangat kecil.

Di malam keakraban, saya mengenalkan sedikit tentang JASS. Tijah minta saya sedikit bercerita tentang gerakan perempuan di Indonesia. Fokus cerita saya tentang gerakan perempuan adalah bagaimana menemukan isu bersama yang dapat mengikat semua kelompok agar suara dan kepentingan mereka sebagai kelompok diperhatikan dan terdengar. Saya menceritakan fokus JASS pada movement building initiative dan upaya meningkatkan kapasitas aktivis perempuan muda. Saya menunjukkan beberapa foto kegiatan JASS sejak 2007-2011 sambil menekankan bahwa peserta di Malaysia adalah bagian dari seluruh rangkaian kegiatan JASS di negara lain. Jadi mereka memiliki banyak teman dan semoga dalam waktu dekat akan ada MBI regional yang dapat mempertemukan mereka dengan kawan-kawan dari negara lain. Mereka sepertinya masih bingung dengan JASS tapi mudah-mudahan kegiatan lanjutan akan dapat memperjelas hubungan dan dukungan JASS terhadap gerakan yang mereka lakukan.

Malam keakraban berjalan seru. Setiap negeri menampilkan tarian dan nyanyian masing-masing, diselingi presentasi dari beberapa orang.

Image

Pada malam budaya itu hadir satu orang tamu dari Tenaganita. Dia memulai perkenalan dengan permainan kemudian presentasi mengenai isu yang sedang dilakukan Tenaganita yaitu advokasi kebijakan upah minimum. Malaysia adalah satu dari sedikit negara di ASEAN yang belum memiliki kebijakan upah minimum. Ada pula peserta dari Sabah yang membawakan beberapa foto perjuangannya mengklaim tanah adat terutama setelah suaminya meninggal dan ada konflik dengan investor dari luar Sabah. Dia berjuang selama lebih dari 5 tahun dan dibantu oleh kelompok pengacara. Usahanya berbuah keberhasilan. Namun sampai sekarang belum ada komunitas paralegal yang terorganisir di Malaysia yang dapat membantu masyarakat asli.

Tindak lanjut dari workshop ini adalah membuat focal point di setiap komunitas orang asli. Sayangnya mereka tidak membuat buku kenangan.

Satu hal yang perlu diingatkan adalah melakukan tindak lanjut MBI, termasuk komunikasi intensif dengan alumni workshop. Saya mengusulkan melibatkan alumni remaja yang kelihatan gemar berkomunikasi. Mereka memang belum memiliki perspektif tapi mereka dapat menjadi simpul komunikasi untuk mendukung Tijah dan Mano yang pasti sibuk dengan pekerjaan di lembaga masing-masing.

Image

Dalam obrolan dengan peserta, tidak lupa saya tanyakan mengenai kesan selama mengikuti bengkel di KL. Sebagian peserta baru pertama kali berkunjung ke KL, jadi ini kesempatan mereka juga untuk jalan-jalan. Dua orang remaja mengaku materi tentang hak-hak wanita sangat berkesan karena merupakan informasi baru bagi mereka. Mereka tidak mengetahui informasi tersebut di sekolah atau di komunitas mereka sendiri. Sebagian kelompok remaja masih malu-malu berkomunikasi dan belum memiliki pendapat. Julialiana merupakan salah satu peserta remaja yang sepertinya berani tampil, komunikatif dan cukup tegas. Acara ini sangat berkesan dan saya senang dapat bertemu peserta MBI kedua Malaysia. Selamat berjuang!

Malang, 18 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s