Pengetahuan-Saya

Liang otot berjalan dan mitos kenikmatan seksual


Minggu lalu lembaga saya mengadakan kegiatan di Pontianak, Kalimantan Barat. Malam sebelum kepulangan, saya dan kawan sekamar terlibat diskusi yang sangat seru mengenai seksualitas. Saya mengatakan seru karena diskusi itu santai dan kami terbuka membicarakan pengalaman seksual masing-masing.

Awalnya saya membicarakan mengenai kejadian impotensi yang menimpa seorang laki-laki yang saya kenal. Informasi tersebut tidak saya dapatkan dari orangnya langsung tapi dari istrinya. Saya juga mengetahui 2 kasus serupa yang menimpa lelaki lain yang saya kenal. Sebelumnya saya memang mengetahui bahwa penampilan fisik tidak mewakili kemampuan seksual seseorang. Namun saya terus dicekoki dengan gambaran laki-laki ideal dan mitos seksual yang menyertainya. Ketika saya benar-benar mendengar informasi tersebut maka saya semakin yakin bahwa penampilan seseorang sebatas proyeksi ideal yang ingin ditampilkan orang tersebut dan tidak selalu menggambarkan realitas asosiasi yang ada dalam kepala kita.

Diskusi santai itu juga mengungkapkan bahwa kemampuan seksual laki-laki yang tinggi tidak otomatis membuat pasangan perempuannya merasakan kenikmatan seksual. Kawan saya telah melakukan hubungan seksual aktif dengan pasangan laki-lakinya selama kurang lebih 6 tahun, sementara saya sudah menjalaninya lebih dari 2 tahun. Hubungan seksual yang kami alami justru banyak membongkar mitos-mitos seksual yang selama ini ditanamkan dalam diri laki-laki dan perempuan.

Sebelum melakukan hubungan seksual dengan pasangan, saya memiliki ekspetasi/harapan seksual yang sepertinya terlalu tinggi. Selama setahun pertama hubungan seksual saya dengan pasangan, saya dibuat kaget dan heran dengan kenyataan bahwa laki-laki dapat ejakulasi hanya dengan memainkan penisnya selama beberapa detik atau 1-2 menit dalam vagina. Setelah itu, ya sudah. That’s IT!

Jika pasangannya cukup sabar maka mereka dapat menunggu ereksi selanjutnya sekitar 30-60 menit kemudian. Biasanya ejakulasi kedua ini tahan lebih lama dari yang pertama. Kawan saya menganjurkan agar laki-laki melakukan masturbasi dulu sampai ejakulasi pertama. Kemudian pada ereksi kedua melakukan hubungan seksual dengan pasangan dengan pertimbangan agar perempuan juga dapat merasakan kenikmatan seksual yang sama dengan laki-laki. Hal ini karena waktu yang diperlukan perempuan untuk mencapai puncak kenikmatan seksual berbeda dengan laki-laki.

Dalam hubungan seksual penetratif, laki-laki dapat memainkan penisnya dalam waktu cukup lama dalam vagina tanpa mampu membuat perempuan meraih kenikmatan seksual. Hal ini juga dibuktikan oleh kawan perempuan lain yang melakukan seks dengan beberapa laki-laki. Kepada laki-laki, saya ingin mengatakan “embrace this as a fact!” Fakta ini jelas meruntuhkan mitos atau cerita khayangan bahwa penis laki-laki dalam hubungan seks penetratif selalu dapat memuaskan hasrat seksual perempuan.

Saya dan kawan saya merasa telah dibodohi dengan cerita antah berantah dari satu sudut pandang. Rasanya tidak hanya kami yang merasa terheran-heran dengan pengalaman ini. Kami pun bertanya, “Di mana pengalaman-pengalaman seksual perempuan yang tidak puas dan merasa tertipu dengan mitos-mitos seksual laki-laki dan perempuan?” Film-film dan cerita seks yang ada dalam obrolan sehari-hari dan di internet semakin terasa hambar bahkan tidak masuk akal dari sudut pandang perempuan. Sebagian feminis memang sudah menuliskan tentang hal ini tapi saya rasa tidak semua perempuan sudah mengetahuinya. Ini bukan semata demi seks tapi dari pengetahuan yang seimbang mengenai seksualitas maka perempuan dan laki-laki dapat melihat dan membentuk kembali relasi gender mereka yang sebagian besar didasari dari mitos-mitos seksual yang salah.

Diskusi terus berlanjut sampai larut malam. Kawan saya sudah menyadari bahwa seks penetratif bukan satu-satunya dan tidak perlu menjadi varian utama dalam berhubungan seksual. Saya baru menyadarinya dan mampu memaknainya setelah lebih dari setahun menjadi makhluk aktif seksual. Kawan saya juga memberi informasi mengenai anatomi vagina yang menarik. Hasil penelusurannya menunjukkan bahwa jika penis berisi kumpulan saraf yang sensitif maka liang vagina berisi kumpulan otot. Klitoris adalah salah satu bagian utama yang berisi saraf sensitif. Oleh karena itu, penis laki-laki dapat terangsang dengan cepat dan merasakan kenikmatan dimanapun berada, di liang vagina, mulut atau liang lainnya, bahkan digosok pakai tangan dan sabun pun bisa ejakulasi. Kondisi tersebut berbeda dengan vagina perempuan.

Seks penetratif juga cenderung melelahkan bagi laki-laki sehingga tidak heran jika satu sesi hubungan seks sangat menguras tenaga. Mereka mencapai orgasme, capek dan tidur. Sementara perempuan dalam kondisi setengah tidak percaya dan kecewa tapi berharap masih ada sesi lanjutan. Dalam kasus saya, pasangan kadang sedikit menantang dengan bertanya apakah saya menginginkan sesi lanjutan. Masalahnya kalau kami melakukannya dengan posisi yang sama dan saya tetap tidak merasakan kenikmatan, buat apa diulang?

Sangat disayangkan jika fantasi seks laki-laki masih dianggap sebagai kebenaran. Salah satu cara memberikan realitas seks yang berbeda adalah dengan menulis pengalaman seks dalam bahasa sendiri, dalam hal ini Indonesia, dari sudut pandang tubuh perempuan. Ada banyak cara mencapai kenikmatan seksual non penetrasi. Jika kehidupan seksual perempuan hanya tahu gerakan maju mundur penis, rasanya seks akan mati dalam 2-3 tahun perkawinan. Selebihnya perempuan tidak beda dengan pekerja seks yang dianggap liang otot berjalan.

Kehamilan seorang perempuan juga bukan ukuran bahwa dia pernah punya hasrat dan mengalami kenikmatan seksual. Hamil tidaknya perempuan tidak musti ditentukan dengan kenikmatan yang dialami tubuhnya.

Kawan saya menyebutkan bahwa salah satu alasan obat kuat seperti Viagra laku keras adalah karena laki-laki ingin mewujudkan fantasi seksual sesuai dengan mitos-mitos yang mereka ketahui. Sebagian besar dari mereka mungkin juga menganggap seks penetratif sebagai suatu menu yang harus ada.

Diskusi kami berlanjut di kamar sambil mengemas barang-barang untuk kepulangan besok pagi. Saya mendapatkan banyak bahan renungan dan tulisan dari diskusi itu. Tulisan ini adalah awal dari seri tulisan mengenai seksualitas lainnya.

Malang, 25 Maret 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s