Pengetahuan-Saya

Dunia Spongebob


Saya heran dengan Spongebob. Heran karena saya tidak menduga bahwa kehidupan di dalam laut ternyata tidak ada bedanya dengan kehidupan di kota-kota AS dimana ada restoran cepat saji, ada kendaraan bemotor, ada mata uang, hewan laut berdasi dan bercelana, ada blok perumahan dan fitur masyarakat modern umumnya. Karakter Spongebob dan kawan-kawannya yang bernama Barat seperti Patrick, Gary, dan Sandy juga sangat biasa. Satu-satunya yang memiliki nama unik adalah Squidward tapi karakternya tidak unik.

Tahun lalu saya sempat mengikuti beberapa episode film ini. Dalam waktu tidak terlalu lama, saya sudah merasa “kenyang” karena ternyata tidak begitu lucu dan hanya memindahkan karakter dan pola hidup orang Amerika dan masyarakat modern umumnya ke dalam konteks yang berbeda. Bahkan sekarang saya tidak menyukainya.

Saya heran karena anak-anak menyukainya. Mungkin mereka hanya menonton ilustrasinya yang berwarna. Namun karena Spongebob sudah dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia maka anak-anak seharusnya sedikit memahami kehidupan Spongebob. Dalam dunianya, Spongebob bukan seorang anak-anak. Dia adalah pekerja (tukang masak) di sebuah rumah makan. He is an adult for me. Dia punya rekan kerja dan rekan bermain. Dia memiliki bos, memiliki musuh, dan tetangga. Dia memiliki penghasilan, dia senang bermain tapi bagi saya dia bukan anak-anak. Seorang dewasa yang terlalu polos, seperti halnya Mr. Bean. I don’t think children can look up to him as a good adult.

Wikipedia menulis bahwa Spongebob adalah tayangan kartun berbujet rendah yang sangat sukses. Itu patut dikagumi dan dipertanyakan. Ditulis juga bahwa film ini ditargetkan untuk menarik penonton dewasa dan anak-anak. But I don’t understand, yet, why children like Spongebob stories and character. Time changes, interest and taste also changed. I try to tell that to myself. I used to like Sesame Street, folklore stories in TVRI, Unyil puppet series, manga stories (not all of them), and wayang orang. I am trying to hold myself to claim that the previous taste is better than today. It just strange that we are now tend to like a childishlike adult and feel that it is approriate to be watched by children. Saya merasa bahwa anak-anak diperkenalkan dan diajak memahami dunia orang dewasa yang sangat tidak menarik dan tidak imajinatif. Dunia anak-anak itu menarik tapi dunia kekanak-kanakkan justru mengacaukannya.

Malang, 12 Maret 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s