Pengalaman-Saya

Mengelola ketidakpastian


Mengelola keuangan bukan perkara sederhana. Kemampuan mengelola keuangan merefleksikan sikap dan nilai yang kita miliki. Saya punya perbedaan pandangan mengenai pengelolaan keuangan dengan suami. Sejauh yang saya tahu dia tidak memiliki simpanan selain tabungan. Itu pun semakin menipis karena selama beberapa bulan dia tidak memiliki penghasilan tetap. Saya paham bahwa dia sedang membangun usaha bersama kawan-kawannya dan dia sepertinya baru mencari penghasilan ketika dana pribadi makin menipis. Setidaknya itu kesan yang terlihat.

Kadang-kadang saya bertanya mengenai saldo tabungannya. Kadang saya juga mengingatkan bahwa asuransi kesehatannya dari kantor yang lama sudah habis masa berlakunya. Artinya, jika terjadi kecelakaan maka dia perlu mengeluarkan dana sendiri dari tabungan atau aset lain yang mudah diuangkan.

Saya sendiri memiliki asuransi kesehatan (rawat inap), jiwa dan investasi dalam satu paket atau orang mengatakannya unitlink. Saya merasa lebih praktis dengan cara itu. Saya melihat kedua orang tua saya yang memiliki ASKES dan cukup dimudahkan ketika harus melakukan check up rutin, perawatan, maupun jika terjadi kecelakaan. Ibu saya sendiri memiliki simpanan yang dia tabung khusus untuk kesehatannya. Dia tidak mempercayai asuransi dan produk keuangan lain. Namun dia percaya pada koperasi dan memiliki simpanan yang menurut saya memadai. Selama ini saya tidak pernah dibuat repot atau khawatir dengan biaya perawatan kesehatan orang tua. Mereka juga tidak merepotkan saudara-saudara yang bahkan sebagian lebih kekurangan secara materi.

Saya ingin meniru hal tersebut. Saya tidak ingin membebani orang tua dengan biaya kesehatan pribadi atau keluarga. Mereka sudah berbuat lebih dari cukup dengan kesehatan, pendidikan, dan hiburan yang diberikan pada saya dan saudara saya. Jika saya tidak dapat membantu mereka maka paling tidak saya dapat menutupi kebutuhan kesehatan saya sendiri. Saya yakin harapan orang tua juga seperti itu.

Saya tidak terkesan jika ada yang mengatakan kesulitan yang kita hadapi merupakan kesempatan bagi orang lain untuk berbuat baik pada kita. Tentu tidak harus menunggu sampai ada musibah untuk berbuat baik. Pada saat yang sama, jika keluarga terdekat sendiri belum cukup memenuhi kebutuhan mereka sendiri, apa kita mau menerima dan mengambil sebagian harta dan waktu mereka untuk kita? Poin yang terpenting justru karena musibah dalam kehidupan adalah sesuatu yang pasti dan dapat diantisipasi dengan berbagai cara. Jika kita tidak mau dan tidak bisa melakukan antisipasi maka jangan diartikan hal itu sebagai menciptakan kesempatan orang lain berbuat baik melainkan sebagai bukti ketidakmampuan dan ketidakmauan kita menghadapi kepastian. Apa yang pasti dalam hidup ini? Ketidakpastian dan perubahan.

Jika kita memiliki orang tua atau nenek maka kita tahu bahwa dulu dia tidak seperti itu. Ada perubahan dalam kondisi kesehatan fisik dan mental, perubahan keuangan, perubahan kebijakan, dan berbagai perubahan lainnya. Saya tidak meminta semua orang harus punya asuransi, tabungan, dll sesuai pemahaman modern karena dalam setiap budaya perangkat tersebut dapat memiliki berbagai wujud. Kesamaannya adalah mengurangi resiko ketidakpastian dan perubahan.

Saya mengeritik cara hidup kawan saya yang juga dipraktekkan oleh masyarakat urban dan rural. Penghasilan saya per bulan jauh lebih sedikit dari penghasilan dia tapi anehnya, dalam beberapa bulan kemarin dia secara rutin berhutang pada saya. Nominalnya tidak besar dan dalam jangka waktu kurang dari seminggu sudah dia lunasi. Dia memiliki 1 kartu kredit dan saya harap tidak bertambah. Setiap bulan dia hanya membayar iuran minimum. Dia dan pasangan menyukai pakaian bagus dan barang bermerek walau tidak keterlaluan. Pasti ada yang jauh lebih fanatik dibanding kawan saya.

Dia memiliki bisnis yang menurut saya prospeknya bagus. Namun suatu bisnis perlu perencanaan. Bagi saya, berhutang pada periode yang sama untuk suatu pos pengeluaran yang dilakukan rutin mengindikasikan manajemen keuangan yang tidak tepat. Saya juga merasa tidak berbuat hal yang baik dengan memberinya pinjaman. Dalam beberapa hal, orang yang meminjam uang belum tentu sangat memerlukan dan dapat memanfaatkan uang yang dipinjamkan dengan baik. Ada banyak contoh dimana orang yang meminjam uang bukan karena dia tidak punya uang melainkan karena dia tidak mampu mengelola keuangannya. Oleh karena itu, saya kemudian berani mengatakan saya tidak akan meminjaminya kecuali dalam kondisi darurat. Misalnya beberapa hari yang lalu istrinya masuk rumah sakit sehingga perlu pinjaman untuk berjaga-jaga.

Dalam tweet QM financial yang saya ikut, mereka menyebutkan beberapa kasus dari para eksekutif muda yang memiliki penghasilan besar tapi tidak memiliki perencanaan dan pengelolaan yang baik. Selalu merasa kekurangan. Saya tadinya merasa bagian dari kelompok itu, tapi ketika melihat kembali kasusnya, wah ternyata lebih parah dari saya. Bukan berarti saya menganggap enteng. Kelemahan saya adalah kecintaan pada laptop. Kalau sudah jatuh cinta sama laptop kayaknya sulit dibendung. Kemudian saya belajar tentang konsep “menunda kesenangan”. Sebenarnya apa yang saya miliki sudah merupakan kesenangan tapi seperti biasa, selalu ada kesenangan yang kita anggap lebih besar. Hehehe, mungkin ada yang berpikir, duh hidup cuma sekali, kesenangan juga makin sedikit, pake ditunda-tunda lagi. Ya, silakan bertanggung jawab atas pilihan masing-masing.

Bagi sebagian orang, menabung mungkin dianggap sesuatu yang mewah karena harga barang selalu bergerak naik secara teratur. Manusia dipaksa menyesuaikan secara cepat. Setiap orang bisa menabung dan menabung itu sendiri bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga orang-orang di sekeliling kita. Memiliki harta yang besar hanya satu awal dari kesuksesan atau kegagalan. Kita dapat mengetahuinya dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Malang, 17 November 2011

Advertisements

One thought on “Mengelola ketidakpastian

  1. investasi keuangan itu penting. orang yang mau memikirkan investasi itu artinya mau memikirkan masa depan untuk orang-orang yang akan dia tinggalkan. investasi untuk masa depan bukan hanya milik orang kaya. kalo ada orang menganggap bahwa investasi itu eksklusif dan kesannya berlebihan uang. itu malah salah! (kalau udah kaya ngapain juga investasi, justru karena masih kekurangan harus investasi biar di masa depan tidak kekurangan lagi).

    proteksi juga penting. itu sebabnya kita harus selalu alokasikan dana untuk proteksi. macam proteksi tergantung dari kebutuhan masing-masing orang.

    keduanya (investasi & proteksi) jadi unsur penting ketika sudah berkeluarga. Kenapa? karena dalam berkeluarga ada masa depan yang ingin diraih bersama-sama dan ada orang-orang yang harus dilindungi/diproteksi jika terjadi sesuatu.

    btw, kenapa pilih unitlink? mending dipisahkan aja, karena hasilnya akan lebih maksimal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s