Pengalaman-Saya

Ibu Imron bergabung dengan PKK


Bulan Oktober 2011, saya resmi menjadi penduduk Malang dengan memegang KTP Malang. Sejak itu pula saya bergabung dengan PKK RW 01 di Kelurahan Klojen, Malang.

PKK awalnya singkatan dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga, kemudian berubah menjadi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga. PKK adalah lembaga yang dibentuk pada masa orde baru. Kata “keluarga” idealnya merujuk pada sebuah organisasi yang melibatkan partisipasi perempuan dan laki-laki dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera. Namun dalam perkembangannya, PKK identik dengan pengorganisasian perempuan mulai dari tingkat desa sampai ke nasional.

Trisakti Handayani dalam penelitiannya menulis bahwa fktor ekonomi merupakan faktor paling berpengaruh pada awal kemunculan PKK. Namun dalam perkembangannya faktor politik menjadi dominan karena terjadinya politisasi gerakan perempuan. Saya melihat PKK belum membawa perspektif kesetaraan dan keadilan gender dalam substansi kegiatan. Bahkan sekilas, saya mempunyai kesan lembaga ini menguatkan nilai gender dominan dan memanfaatkan potensi besar dari kelompok ibu rumah tangga dalam menunjang kegiatan pemerintah.

Di PKK, saya lebih dikenal dengan Ibu Imron, nama suami saya. Pertama kali ini saya mengalami dikenal dengan nama depan suami. Di sekolah, di tempat kerja, di blog, saya dikenal dengan nama saya sendiri yang diberikan orang tua. Namun di PKK, saya mulai mendapat “nama baru” yaitu istri dari Imron. Keanggotaan saya di sana menjadi perwakilan dari keluarga Imron daripada diri saya pribadi.

PKK bertemu rutin tanggal 13 setiap bulannya dan memiliki agenda sama setiap pertemuan. Agenda itu dibacakan oleh ketua PKK. Sebelum pertemuan dimulai secara resmi, anggota PKK yang semuanya perempuan bisa melakukan pembayaran iuran kebersihan, jimpitan, tabungan, simpan pinjam, dll. Tidak lama kemudian, ketua PKK membuka pertemuan secara resmi, membacakan agenda. Dimulai dengan mengajak seluruh hadirin berdiri untuk berdoa, menyanyikan mars PKK, dan membaca 10 program pokok PKK. Setelah selesai, hadirin dipersilakan duduk dan meneruskan kegiatan menabung, membayar iuran RT, mengocok arisan, dan membayar atau mengajukan pinjaman.

Perkara menyanyi ini membingungkan saya. Seorang ibu berusia sekitar 60 tahun didaulat maju ke depan dan memimpin paduan suara. Hadirin diminta menyanyikan mars PKK dengan tempo 2/4. Syairnya seperti ini.

Marilah hai semua Rakyat Indonesia
membangun segra
Membangun kluarga yang sejahtera
dengan P K K
Hayatilah dan amalkan Pancasila
untuk Negara
Hidup gotong royong, makmur pangan dan sandang
rumah sehat sentosa
Tata laksana di dalam rumah tangga
rapi dan indah
Didiklah putra berpribadi bangsa
trampil dan sehat
Kembangkan koprasi jagalah lingkungan
dan sekitarnya
Aman dan bahagia kluarga berencana
Hidup jaya P K K
sumber: http://tunas63.wordpress.com/2008/10/28/lagu-mars-pkk-soemanto/

Saya mengikuti seluruh prosesnya karena ingin belajar dan berkenalan dengan tetangga sekitar. Besarnya jumlah iuran di tempat saya setiap bulan adalah sbb
– iuran kebersihan Rp 3.000,
– iuran kematian Rp 3.000,
– jimpitan Rp 2.000.

Saya sudah menanam saham (iuran wajib) sebesar Rp 25.000 agar dapat melakukan pinjaman. Tabungan pertama saya Rp 10.000 karena dari dana bersama setiap bulan saya dan suami sudah memiliki tabungan sendiri. Rencana saya dan suami ingin menabung sebanyak Rp 50.000/bulan di PKK untuk bisa membeli rak makan alumunium.

Hari ini kedua kali saya menghadiri pertemuan PKK. Ketua PKK sekali lagi memberi informasi mengenai ketentuan simpan pinjam dan meminta hadirin untuk tidak mengajukan pinjaman secara pribadi di luar pertemuan resmi PKK. Dia juga minta agar warga menghindari rasa curiga terhadap pengurus, terutama ke bendahara tabungan dan simpan pinjam. Jika ada keberatan, dia mempersilakan warga datang sendiri ke dirinya daripada ke sesama warga yang kemungkinan dapat memunculkan konflik.

Saya ikuti terus semuanya. PKK membantu mendaftarkan perempuan hamil di lingkungan RW. Saya mempunyai 2 ipar yang sedang hamil. Keduanya sudah didata sebagai penerima layanan jampersal (jaminan persalinan) sehingga mereka tidak perlu membayar proses persalinan, baik itu normal maupun dengan operasi caesar. Layanan ini sangat membantu keluarga dua ipar saya yang penghasilan per bulannya tidak tentu. Biaya pemasangan KB spiral post-partum juga bebas biaya. Kedua ipar perempuan saya berencana untuk membatasi kelahiran. Satu anak sudah cukup. Apalagi mereka berdua masih tinggal satu atap di rumah mertua saya.

Saya masih terus belajar dan mengamati proses PKK. Kader PKK sudah terbukti dashyat. Kawan saya sendiri sedang melakukan penelitian tesis mengenai PKK. Dari kawan saya itu, saya belajar bahwa sumber daya dan semangat relawan kader PKK luar biasa. Tidak saja ibu-ibu lansia tapi juga ibu-ibu muda. Terlepas dari perspektif gender yang masih bias, kelompok PKK tetap luar biasa dan potensi itu sangat dipahami oleh pemerintah Indonesia dengan cara mereka sendiri.

Malang, 13 November 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s