Pengetahuan-Saya

Malu dan peka


Saya bingung mau menulis apa. Ada lebih dari 10 channel TV tapi tidak ada yang menarik. Ada RCTI, SCTV, TVRI Jawa Timur, Malang TV, Batu TV, MNC, NDTV, Dhamma TV, Trans TV, Trans 7, TVOne, Indosiar, dll. Nggak ada yang menarik. Saya sampai bingung. Sekian banyak channel kok nggak ada yang bisa saya tonton. Pelampiasan saya adalah ke komputer dan membaca buku.

 

Isu TKW terpidana mati masih muncul di media. Tidak terlalu menonjol tapi muncul di berbagai tempat. Ironisnya, isu itu bersamaan dengan dua hari menjelang hari raya Idul Adha dan berbondong-bondong jamaah Indonesia memasuki Arab Saudi, rela mengeluarkan puluhan juta untuk menunaikan rukun kelima. Bagaimana mereka bisa memisahkan antara isu kawan sebangsa yang menunggu hukuman pancung dan masih dapat “beribadah” dengan khusyuk? Apa saja doa mereka? Adakah mereka berdoa untuk keadilan? Apakah mereka sangat senang karena melihat Ka’bah?

 

Sebuah artikel sebuah media elektronik semakin mengusik nurani. Dalam berita itu ditulis bahwa beberapa staf kedutaan di negara Timur Tengah merasa malu dan kewalahan dengan TKW informal dari tanah air. Saya rasa ketika Nabi Muhammad berbicara mengenai rasa malu, dia sebenarnya merujuk pada konsep kepekaan. Bukan malu dalam arti gengsi, harus ditutup-tutupi, disembunyikan, dll. Malu bukan berarti menjaga kehormatan satu pihak yang berkuasa atau lebih tinggi dari yang lain. Malu itu kemampuan menjadi peka. Dari berbagai peristiwa yang terjadi, perkara menjadi dan menjaga kepekaan nurani sangat sulit dilakukan.

 

Saya orang yang egois. Itu karakter yang saya yakin saya pelajari, bukan sesuatu yang dengan sendirinya. Saya rasa menemukan Tuhan atau ke-tuhan-an memang bukan perkara mudah tapi berharap bahwa perjalanan haji dapat memudahkan proses itu juga sangat naif. Jauh lebih naif daripada TKW yang mengadu nasib di Timur Tengah menjadi pembantu rumah tangga. Satu nyawa bangsa Indonesia yang didakwa sebagai pembunuh dan terancam hukuman mati sudah terlalu banyak. Kita lebih mudah mencerca Israel dan Amerika Serikat tapi sulit membela bangsa sendiri yang beragama islam tetapi lebih miskin dan tidak berpendidikan.

 

Kita belajar memisahkan lalu membedakan diri saya dengan dia atau mereka. Kita beradaptasi untuk merasa nyaman dengan kondisi itu. Saya besar di Jakarta juga dengan cara seperti itu. Menyedihkan.

 

Kasus lainnya adalah pemogokan dan demonstrasi yang dilakukan pekerja PT Freeport di Papua. Mereka menuntut kenaikan honor. Selain itu terbuka informasi bahwa PT Freeport menyetor dana keamanan dalam jumlah besar setiap tahun ke pihak militer. Isunya nggak ada yang baru dan cara penanganannya pun tidak baru. Kita sulit berubah, tidak mau berubah, tidak mau ambil resiko. Tapi jika terjadi perubahan dalam bentuk revolusi, seakan terkejut. Padahal itu karena kita tidak peka mengenali sinyal dan gejala.

 

Manusia Indonesia berhak merasa galau karena Papua adalah tanah surga. Kalau tuntutan Papua untuk lepas dari NKRI menguat, mampuslah.

 

Malang, 4 November 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s