Pengetahuan-Saya

Tubuh perempuan yang patah


Pada Jumat, 16 September 2011 saya, dan juga banyak aktivis perempuan lainnya, sangat kecewa dan marah dengan pernyataan Fauzi Bowo, gubernur DKI Jakarta. Foke menanggapi munculnya dua kasus pemerkosaan di dalam angkutan kota, satu kasus menyebabkan seorang mahasiswi diperkosa dan dibunuh. Kemudian kasus gang rape atau pemerkosaan beramai-ramai seorang karyawati di dalam angkutan umum di Cilandak, Jakarta Selatan. Satu dari empat pelaku sudah bisa ditangkap.

Saat memberi komentar pada wartawan seusai salat Jumat di lingkungan Balai Kota DKI Jakarta, Foke–sapaan akrab Fauzi– mengatakan bahwa Dinas perhubungan harus bertanggung jawab. Saya setuju bagian ini. Namun, Foke juga menyarankan bahwa kaum perempuan melakukan upaya pencegahan. Saya kutip di sini dari tempo interaktif pernyataannya: “Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang,” katanya sembari bercanda.

Selanjutnya dia menyarankan agar perempuan tidak menggunakan pakaian “mengundang” dan perhiasan yang berlebihan dengan alasan “Harus menyesuaikan dengan lingkungan sekelilingnya supaya tidak memancing orang melakukan hal yang tidak diinginkan.”
Pertama, gurauan Foke mengenai tubuh perempuan dan merendahkan kemampuan laki-laki mengontrol hasrat seksual sangat tidak pantas. Komentarnya menunjukkan cara pandang bahwa tubuh perempuan adalah fitnah dan perlu dikontrol agar tidak menggugah hasrat seksual laki-laki. Meskipun di sisi lain, menggugah hasrat seksual laki-laki dianggap sebagai kewajiban perempuan. Kemudian laki-laki dianggap makhluk yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap pengontrolan hasrat seksual mereka.

Kedua, muncul saran utama atau main suggestion agar perempuan tidak menggunakan pakaian “mengundang” yang dipersempit menjadi rok mini, pakaian ketat, dan lain-lain yang dianggap sebagai pemicu kekerasan seksual. Saran tersebut mengalihkan tanggung jawab dan perhatian masyarakat terhadap isu krusial mengenai keamanan dan kenyamanan transportasi umum terutama di DKI Jakarta yang menjadi salah satu tanggung jawab Gubernur.

Ketiga, tidak ada pengungkapan mengenai pemicu lain kekerasan seksual sehingga seakan-akan tubuh dan cara berpakaian perempuan menjadi alasan utama dari terjadinya kekerasan. Ketiadaan informasi tersebut menyesatkan dan memojokkan perempuan korban kekerasan dan mengintimidasi kaum perempuan lain pengguna jasa transportasi umum.
Saya semakin kecewa ketika suami saya justru mengungkapkan bahwa dia setuju dengan pernyataan Foke. Terutama karena ketika saya tanya, dia mengatakan TIDAK PUNYA ALASAN kenapa dia mendukung pernyataan itu. Ya, tentu secara tidak sadar kita punya pendapat tapi tidak mampu memahami alasan di baliknya. Namun, saya sebenarnya berharap dia lebih baik dari Foke atau orang-orang yang cuma mengekor pendapat seorang figur pejabat publik. Suami saya juga mengkritik demo yang dilakukan aktivis perempuan di bundaran HI karena menurutnya jika Foke tidak berkomentar seperti itu maka aktivis perempuan tidak akan berdemo mengenai kasus tersebut.

Mengapa demo yang direspon suami saya? Mengapa dia tidak melihat esensi dari pernyataan Foke terhadap seksualitas dan cara diplomatis lari dari tanggung jawab sebagai pemimpin administrasi Jakarta. Saya tidak keberatan suami mengkritik aksi aktivis perempuan, tapi mohon dipahami dulu bahwa demo tersebut dilakukan karena pernyataan dibuat oleh pejabat publik yang dapat memengaruhi proses penanganan kasus. Saya tidak kaget dengan komentar Foke karena yakin masih banyak laki-laki dan perempuan yang berpikiran seperti itu. Namun dia seorang pejabat publik yang diharapkan melindungi masyarakat (dari berbagai komunitas, jenis kelamin, kelas, dll) dari kekerasan, bukannya memojokkan mereka.

Sempat tersirat ucapan suami bahwa aktivis perempuan tidak bertindak terhadap kasus tersebut. Dengan emosional saya mengatakan ke suami bahwa selama ini LBH APIK, Yayasan Pulih, Mitra Perempuan, dan NGO lainnya telah mendampingi berbagai kasus kekerasan perempuan, baik itu pendampingan hukum dan psikis. Namun, media tidak akan tertarik meliput kegiatan-kegiatan tersebut sehingga sedikit masyarakat yang mengetahui. Tidak adil menghakimi gerakan perempuan tanpa terlebih dulu mengetahui dan memahami apa yang sudah dilakukan dan konteks kekuasaan dalam suatu gerakan.

Saya sangat patah hati dengan komentar suami. Saya mengatakan bahwa hubungan kami tidak akan sama seperti sebelumnya. Memang seperti yang saya rasakan. Sebagai orang yang pernah mengalami pelecehan seksual di angkutan umum, pernah mendengarkan kasus serupa yang dialami kawan saya, dan pernah menjalani proses cukup panjang menyalahkan tubuh perempuan saya, saya tidak dapat menerima komentar suami. Saya memahami bahwa dia bukan perempuan dan bukan dari gerakan perempuan. Namun, saya berharap dia dapat dan tertarik belajar mengenai isu kekerasan seksual. Alasannya, karena saya sebagai istrinya dan kaum perempuan lain yang berada di sekitarnya pernah mengalami kasus tersebut. Hal itu berdampak pada cara pandang perempuan yang negatif terhadap tubuhnya sendiri.

It’s breaking my heart. Secara fisik, hubungan ini mungkin saya jalani seperti biasa tapi dengan penghargaan dan rasa sayang pada suami yang berbeda dari sebelumnya. Jika kemudian perasaan itu pun semakin berkurang, saya perlu merefleksikan kembali hubungan ini.

Malang, 24 September 2011

rujukan berita:
http://www.lintas-kabar.com/2011/09/16/foke-jangan-pakai-rok-mini-di-angkot/

Advertisements

2 thoughts on “Tubuh perempuan yang patah

  1. niken coba baca ini:

    http://akmal.multiply.com/journal/item/842/Rok_Mini

    kalau mau dikaji lebih dalam, pernyataan suami dan foke ada benarnya. Semakin banyak cewek gunakan rok mini, maka akan semakin bertambah pria hidung belang yang gak bisa ngontrol nafsunya.

    dibalik pernyataan foke dan suami kamu pasti ada niat baik yang berharap tidak terulang lagi perkosaan.

  2. Yang salah ya semuanya………… otaknya pemerkosa yang pasti disalahkan dahulu, karena tontonannya salah karena faktor ekonomi salah jadi perempuannya pakai rok mini pokoknya semua salah ditelusuri terus pakai sebab-akibat hingga ke puncak. Ya semua salah kecuali Allah swt 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s