Pengetahuan-Saya

Perempuan mengasuh


Dalam suatu kesempatan, seorang aktivis perempuan senior mengatakan bahwa kesuksesan dari seorang aktivis perempuan terletak pada kemampuannya mengorganisir kehidupan rumah tangga dan komunitas dampingannya. Hal itu tercetus ketika ada beberapa kawan yang mengatakan mereka mengalami kesulitan melakukan aktivisme pengorganisasian setelah kawin. Sayangnya, aktivis perempuan tersebut tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana dia dan aktivis perempuan lainnya dapat menyeimbangkan kedua hal tersebut.

Di lain waktu, saya pernah bertanya ke seorang aktivis perempuan mengenai pengalamannya menyeimbangkan kehidupan rumah tangga (terutama pada masa awal pengasuhan bayi) dan aktivisme sosialnya. Dia mengangkat pundak dan menjawab tanpa semangat bahwa dia sudah tidak ingat lagi pengalaman itu. Saya kecewa dengan jawaban itu. Tapi mungkin suasananya tidak tepat dan dia sedang tidak berminat dengan pertanyaan seperti itu. Saya hanya melihat bahwa kaum perempuan dari ekonomi menengah ke bawah masih berjuang menyeimbangkan kedua hal tersebut. Sekian lama perjuangan kelompok feminis memberi penyadaran dan penguatan mengenai hak-hak perempuan dalam keluarga memang telah memberi perubahan besar tapi masih belum cukup menguatkan perempuan dalam memiliki keragaman pilihan, melakukan pengambilan keputusan, mengutarakan pendapat di lingkar keluarga inti dan keluarga besar.

Beberapa kawan merupakan aktivis perempuan dengan kapasitas cukup baik dan punya potensi berkembang. Namun, hal itu dapat berubah ketika mereka memasuki institusi perkawinan. Sangat mungkin para aktivis yang punya kinerja dan potensi hebat mengorganisir komunitas justru menjadi tidak punya kekuatan dan kekuasaan dalam rumah tangga sendiri. Mereka mungkin bisa mendampingi komunitas menghadapi pemerintah lokal atau investor perkebunan dan pertambangan, tapi menjadi tidak berdaya saat berhadapan dengan keluarga suami dan tidak dapat menentukan pembagian kerja domestik yang adil. Sementara, di sanalah salah satu awal dari perubahan di lingkungan sosial politik yang lebih besar.

Para aktivis perempuan terkenal tangguh melakukan pendampingan pada komunitas perempuan agar mereka berdaya dan asertif. Namun, apakah mereka sendiri sudah berdaya? Tidak hanya berdaya dan memiliki posisi tawar di dalam keluarga tapi juga di dalam lembaganya sendiri. Bukan tidak mungkin mereka menjadi unheard voices atau malah voiceless.

Saya prihatin dengan kawan-kawan baik mahasiswa, perempuan bekerja, aktivis di NGO yang kadang kesulitan memikirkan pengasuhan anak-anak mereka. Kadang ada yang undur diri dulu dari pekerjaan dan aktivisme sambil mencari asisten yang sesuai. Prosesnya tidak mudah karena mereka memiliki kebutuhan untuk bergerak, berdiskusi, dan mendapatkan penghasilan. Sebagian teman saya yang berpendidikan S1 merasa bosan, depresi ringan, tidak bergairah, dan lebih emosional setelah beberapa bulan tidak memiliki aktivitas di luar rumah. Makin sulit lagi jika suami melarang mereka bekerja atau kondisi yang tidak memungkinkan mereka bekerja kantoran, misalnya masih menumpang di rumah mertua, anak memiliki kelainan, dll.

Perempuan sepertinya dibiarkan negara untuk mengasuh sumber daya manusia yang hasilnya akan dinikmati oleh negara. Perempuan dibiarkan frustasi dan depresi mengatasi urusan pengasuhan sehingga ada kalanya perempuan kehilangan beberapa kesempatan emas. Itu tidak adil.

Malang, 4 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s