Pengetahuan-Saya

Rumah Jamaah vs Rumah Ibadah


Tulisan ini berawal dari dua buah status kawan di facebook dan twitter. Seorang aktivis perempuan, SM, menulis di FB-nya bahwa ada banyak mesjid dan rumah ibadah besar dan mewah yang kosong selama sekitar 10 bulan dan hanya penuh pada hari raya atau perayaan keagamaan tertentu. Menurutnya hal itu pemborosan dan lebih baik jika rumah ibadah dialihfungsikan menjadi rumah bagi yatim piatu atau anak terlantar. Menurutnya akan jauh lebih berguna.

Beberapa hari kemudian, seorang teman laki-laki membuat status di twitter bahwa musholla yang ada di depan rumahnya dibangun oleh tenaga mbah kakungnya sendiri, bahkan mulai dari membuat bata. Sampai saat ini musholla itu masih ramai digunakan jamaah.

Saya setuju dengan pernyataan SM dan saya juga senang mendengar bahwa ada sebuah musholla di tengah pemukiman yang memiliki jamaah setia. Saya punya asumsi bahwa masjid besar itu tidak dibangun dengan keikhlasan dan hati yang tulus. Sampai sekarang saya masih sering melihat sekelompok pemuda yang berdiri di tengah jalan membawa jaring ikan untuk mengumpulkan sumbangan bagi pembangunan mesjid. Rasanya seperti memaksakan diri dan berambisi mempunyai sesuatu yang besar tanpa memulai dari sesuatu yang sederhana. Bangunan ibadah yang besar tentu memerlukan pemeliharaan dan perlengkapan yang besar juga. Misi mempunyai ruang memadai untuk beribadah dan berdiskusi bisa berbelok menjadi misi mempunyai sebuah bangunan keren, kubah sangat besar, desain modern, tempat parkir luas yang dilengkapi dengan peralatan audio canggih sehingga suara azan mencorong sampai radius beberapa kilometer. Lebih payah lagi jika rumah ibadah dibangun dari pundi yang haram dan dibiarkan kosong selama hampir 11 bulan.

Pada perkembangannya, banyak rumah ibadah yang disewakan untuk acara perkawinan atau hajatan lain. Tetap saja miris melihat kondisi mesjid yang tidak didukung oleh komunitas lokal. Makin tidak enak kalau ulama kemudian melemparkan kekesalan dengan menyalahkan pemahaman agama masyarakat sekitar yang minim, kurang kuat iman, dll. Sebenarnya itu hanya menunjukkan kegagalannya sebagai ulama.

Bisa dilihat sendiri di banyak rumah ibadah besar, mereka membuat pintu gerbang kokoh yang tinggi. Selain diberi gembok, juga ada rantai besi atau baja. Pintu itu dibuka pada hari atau momen tertentu. Lucu deh. Saya bukannya menganjurkan pengamanan tidak diperlukan. Saya setuju ada pengamanan yang memadai karena perangkat di dalamnya merupakan amanah masyarakat sekitar tapi bukan untuk menjaga jarak dengan jamaah.

Sama seperti perpustakaan. Sebagian pustakawan sangat protektif dengan koleksi pustaka sehingga melakukan berbagai pengamanan yang menyulitkan pemakai mengakses koleksi. Akibatnya pemakai tidak mendapatkan manfaat dari perpustakaan dan pengalaman itu membentuk gambaran mereka terhadap perpustakaan. Belum lagi kadang ada peraturan yang tidak sesuai dengan profil pemakai seperti dilarang menggunakan sandal jepit, harus berpakaian rapi, dll.

Kembali pada rumah ibadah, ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan dalam rumah ibadah karena ibadah itu sendiri jauh lebih luas dari ibadah ritual. Tentu saja jadi mubazir bahkan menciptakan jarak antara umat dengan rumah ibadah jika ada sebuah rumah ibadah yang mewah berada di tengah jamaah yang kembang kempis menyambung nyawa. Kita sepatutnya belajar dari sejarah peradaban agama Hindu yang berkembang sebelum Islam datang ke Nusantara dengan berbagai candi besar mereka. Jika rumah ibadah menjadi semacam prasasti dari para donatur atau penguasa, ya bersiaplah jauh dari jamaah. Jika jamaah menjauh, rumah ibadah tidak akan “bernyawa”. Mungkin sedikit sekali orang yang merasa memiliki rumah ibadah sebagai rumahnya sendiri.

Malang, 28 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s