Pengalaman-Saya

Kerja Domestik


Banyak dari teman-teman perempuan saya sudah menikah dan mempunyai anak. Cerita mereka selalu menjadi refleksi saya mengenai kondisi perempuan, terutama dengan konteks Jadebotabek sebagai tempat tinggal mereka.

Ada beberapa teman yang pada masa lajang bekerja kemudian berhenti setelah menikah atau setelah hamil atau setelah melahirkan. Pasangan mereka tidak semuanya memadai secara ekonomi sehingga mereka kadang merasa frustasi karena misalnya harus menumpang di rumah orang tua atau mertua, gaji suami habis sebelum tanggal 30 setiap bulan, tidak melakukan usaha apapun yang memberi penghasilan, mengurus anak dengan karakter sulit, hamil anak kedua, dsb.

Ketika teman-teman perempuan saya ini tidak bekerja maka mereka tidak memegang uang penghasilan sendiri. Praktis mereka mengandalkan satu sumber penghasilan yang sangat pas-pasan, apalagi kalau mereka harus mengontrak atau membayar cicilan rumah. Dengan kondisi seperti itu mereka juga sulit membantu keuangan dari orang tua masing-masing yang telah memasuki usia pensiun. Selalu ada keinginan sebagai seorang anak untuk memberikan bantuan dalam bentuk uang atau barang pada orang tua mereka. Itu pun tidak dapat mengganti apa yang telah diberikan orang tua, sebatas pada ucapan terima kasih.

Seorang teman sempat terus bekerja ketika anak pertama lahir. Anaknya diurus oleh ibunya karena saat itu masih menumpang dirumah orang tua. Namun, dia merasa kasihan dengan ibunya dan berniat untuk lebih mandiri dengan pindah ke luar kota. Ada konsekuensi dari keputusan itu karena di tempat yang baru tidak banyak kesempatan pekerjaan formal yang dapat dilakukan dan dia harus mengurus sendiri anaknya. Untuk hal ini, saya yakin tidak hanya kaum ibu di Jakarta yang mengalaminya.

Teman saya dengan anak yang berusia 3 tahun bertekad untuk mulai bekerja ketika anaknya berusia 5 atau 6 tahun saat mereka sudah masuk TK. Namun, terbayang kesulitan yang harus mereka hadapi selama menunggu anak mereka masuk TK. Saya juga sulit membayangkan teman saya yang akan menyambut anak kedua memasuki dunia kerja lagi. Rasanya masih sulit mengharapkan suami merawat anak dengan porsi sama besar.

Saya setuju adanya kebijakan, terutama di level pemerintah daerah untuk menghargai pekerjaan domestik dengan membayar upah pembantu rumah tangga dengan standar minimum daerah. Namun, kemungkinan akan banyak keluarga yang kesulitan mendapatkan bantuan karena upah mereka juga sangat terbatas. Dilema ‘kan? Dengan upah pembantu rumah tangga yang tinggi, pekerjaan domestik yang dilakukan ibu rumah tangga atau ibu berkarir yang juga merawat rumah tangga harusnya jauh lebih baik. Kalau tidak, upah PRT yang tinggi justru menjadi alasan para suami untuk melarang atau menghambat istri mereka untuk bekerja di sektor formal di luar rumah.

I hope for the best.
Malang, 1 April 2011

Advertisements

2 thoughts on “Kerja Domestik

  1. Yup semua istri atau ibu mengharapkan yang terbaik untuk keluarganya. pertama bisa mengurus anaknya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga dan kedua juga bisa membantu suami dalam hal penghasilan 🙂 tapi hidup memang pilihan toh dan kita harus bisa menjalani yang ada sekarang dengan sebaik mungkin yang bisa kita lakukan. Jadi kapan say mulai program anaknya? ditunggu kabar baiknya ya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s