Pengetahuan-Saya

Anak: Siklus Kenikmatan dan Siklus Ekonomi


Mempunyai anak adalah pilihan. Itu jawaban dan pendirian saya. Orang tua, mertua, tetangga, teman, alim ulama, atau bahkan suami bisa menganjurkan dan memberi masukan. Namun wacana seperti itu justru sering diartikan bahwa bayi atau anak-anak adalah urusan perempuan karena mereka lah yang memutuskan mempunyai anak. Masalahnya, sebagian perempuan mungkin memilih mempunyai anak karena pengaruh sosio budaya dan tidak memiliki akses ke alat kontrasepsi yang sesuai dengan tubuhnya. Anak adalah urusan negara seperti yang sudah dibuktikan oleh beberapa negara dimana alat kontrasepsi sudah tersedia dengan harga dan pelayanan sangat terjangkau dan perempuan dapat memilih kapan ingin hamil atau tidak dengan bebas. Dalam kondisi seperti itu, tingkat pertumbuhan penduduk sangat minim dan negara menjadi cemas dengan daya dukung ekonomi mereka.

Suami saya ingin mempunyai anak. Belakangan saya juga tergoda mempunyai anak kandung. Namun, suami sedang tidak mempunyai penghasilan dan saya berusaha mengingat alasan saya menginginkan anak. Sejak lama, bahkan sejak SMP saya tidak ingin punya anak. Jadi keinginan tidak punya anak tidak lahir karena saya mengenal feminisme, gerakan perempuan, atau lain-lain. Pengetahuan itu tentu saja memengaruhi saya tetapi sejak remaja saya sudah tahu saya tidak ingin punya anak. Waktu SMA saya sering berangan-angan kalau saya mandul. Saya menyukainya.

Saat sebelum menikah, saya cukup nyaman karena pertanyaan masih seputar kapan menikah. Pertanyaan itu menurut saya masih lebih mudah dijawab daripada kapan mau punya anak. Ingin sekali menjawab iseng, “Kapan-kapan.”

Saya tidak menggunakan alat kontrasepsi tetapi selama ini tidak ada tanda-tanda hamil. Saya tentu senang jika angan-angan masa SMA dapat terwujud. Some people are just not into babies and children. Sebagian orang mungkin merasa aneh dan berusaha mengiming-imingi kita, kaum yang tidak ingin mempunyai anak, dengan bayi-bayi mereka yang manis dan mungil. Sebagian menjadi tergoda. Sebagian makin yakin untuk tidak mempunyai anak.

Sebelum saya hamil saya ingin memastikan atau minimal mendapatkan janji dari suami bahwa dia akan mendukung dan memperhatikan kesehatan reproduksi dan seksual saya. Saya sudah mendengar cukup banyak suami yang tidak sabar menunggu proses nifas istrinya. Mungkin mereka perlu diajarkan cara bermasturbasi yang sehat. Sudah sering juga saya mendengar perempuan yang tidak tahu tentang orgasme tetapi memiliki beberapa anak. Sebagian kemudian mendapatkan “ikatan orgasme” dengan bayi mereka. Saya pernah membaca bahwa hamil dan menyusui bayi dapat memberikan kenikmatan seksual yang tidak akan diperoleh dari hubungan seks dengan suami. Namun, banyak pula perempuan yang merasa trauma dan menjadi tidak tertarik dengan seks.

Ada banyak suami yang berjanji akan membantu tugas pengasuhan bayi tetapi kemudian berkilah pekerjaannya menyita waktu sementara kalau kinerjanya tidak baik maka memengaruhi ekonomi keluarga. Dengan kata lain, suami mengatakan, “sebagai perempuan, kamu dapat melakukannya lebih baik dari saya, bayi kita memerlukanmu dan salah satu dari kita perlu berkorban. Sepertinya kamulah yang harus berkorban.” HEH! Ya tentu sedikit sekali laki-laki yang mengatakan secara gamblang seperti itu. Atau kadang dengan kalimat yang lebih menyentuh, “Saya siap berkorban dengan bekerja lebih keras untuk keluarga kita. Kamu juga perlu berkorban. Gajimu tidak dapat membayar baby sitter, jadi lebih baik kamu saja yang menjadi baby sitter.”

Ada banyak kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan bermakna berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian merasa memerlukannya, sebagian mengutuknya, sebagian tidak memahaminya, sebagian menyukainya, sebagian memanfaatkannya, sebagian mengaguminya. Satu hal, saya rasa perempuan tidak pernah hamil seorang diri. Bahkan Bunda Maria tidak hamil dalam kesendirian. Kehamilan selalu berada di tengah masyarakat karena dia wujud dari sebuah siklus. Kadang secara salah kaprah, kehamilan dianggap sebagai bukti dari kejantanan laki-laki dan kesuburan perempuan. Padahal punya anak atau tidak, saya menganggap diri saya subur.

Sekian dulu refleksi Jum’at malam.

Malang, 1 April 2011

Advertisements

One thought on “Anak: Siklus Kenikmatan dan Siklus Ekonomi

  1. Dalam agama saya diajarkan bahwa salah satu amalan yg tiada terputus, bahkan ketika kita sudah meninggal dunia, adalah anak-anak sholeh dan sholehah yang mendoakan kita. Bahkan, dosa2 orang tua akan diampuni karena doa anak-anaknya. The last but not least, anak adalah qurottaayyun…artinya penyejuk mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s