Pengetahuan-Saya

Menerima dan Memaknai Perbedaan


Nggak usahlah ngomong macem-macem. Menerima perbedaan memang sulit. Contohnya saya dan pasangan. Kami berdua tidak bisa dibilang berbeda sekali tapi kami juga sangat tidak mirip. Ada kesamaan selera, misalnya tongseng dan bebek goreng. Namun ada banyak perbedaan.

Panjang deh kalau mau ditulis di blog ini. Saya juga kesulitan untuk menuliskannya. Ya mau ditulis darimana, pokoknya dengan karakter saya begini, pasangan saya justru begitu. Kalau dimasukkan ke hati malah jadi kesal, jadi saya masukkan ke blog.

Lalu kenapa kami masih bersama? Menurut saya jawabannya adalah komitmen, saling membutuhkan, dan saling mencintai. Tanpa salah satu dari ketiganya atau tanpa ketiganya kami akan seperti orang asing yang tidak peduli satu sama lain. Komitmen dan rasa mencintai membuat kami mencoba menghargai selera dan keinginan masing-masing. Tidak ada yang perlu disatukan atau diseragamkan. Perkawinan bukan untuk menyatukan tapi untuk belajar menghargai dan memaknai perbedaan.

Kalau saya tidak merasa nyaman dengan karakternya yang cuek, saya mengungkapkannya dengan berbagai cara. Kadang ditanggapi, kadang tidak. Saya suka mengirim atau meneruskan informasi ke pasangan via email yang jarang ditanggapi. Sementara dia sangat jarang meneruskan informasi ke saya. Pernah terpikir untuk berhenti meneruskan informasi tapi saya tidak ingin menjadi seperti dia. Selama dia belum mengatakan bahwa dia keberatan menerima informasi dari saya, saya akan terus mengirimkannya informasi apapun. Saya bukan dia.

Pandaan, 18 Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s