Pengetahuan-Saya

Andaikan (Kerja) Perempuan Diperhitungkan (dengan Adil)


Secara umum, pekerjaan mengasuh anak dan mengurus rumah tangga belum dianggap sebuah pekerjaan profesional yang memerlukan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukannya. Akibatnya pekerjaan tersebut tidak mendapatkan penghargaan yang layak. Namun, jika terjadi kesalahan dalam penyelesaiannya, masyarakat akan bereaksi keras. Dalam berbagai kasus kenakalan anak dan remaja dan gizi buruk, perempuan/ibu sering dipojokkan sebagai pihak yang dianggap paling bertanggung jawab. Meskipun begitu, pemerintah dan masyarakat seringkali hanya membebankan tanggung jawab tanpa memberi akses, fasilitas, dan kekuasaan mengambil keputusan kepada perempuan.

Ada sebuah buku sangat bagus ditulis oleh Marilyn Waring berjudul “If Women Counted: A New Feminist Economics” yang memaparkan realitas kondisi perempuan di berbagai negara. Buku ini diterbitkan tahun 1988. Sudah lama tetapi sayangnya masih sesuai dengan konteks saat ini. Artinya tidak banyak yang berubah.

Perempuan secara tradisional diposisikan sebagai pengasuh, tidak hanya bagi anak-anak mereka tetapi juga bagi anggota keluarga lain terutama bagi suami. Namun anehnya mereka tidak pernah dihitung sebagai health provider atau paling tidak pendamping kesehatan sehingga sedikit sekali mendapatkan insentif atau akses terhadap bantuan kesehatan. Ketika mereka mendapatkannya, kadang tidak sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Beberapa hari yang lalu saya bertanya ke ibu mengenai jumlah pensiun yang akan dia dapatkan jika bapak saya meninggal. Dia menjawab sekitar 600 ribu dan jumlah itu sama untuk semua pasangan perwira polisi, jadi pangkat terakhir suami/pasangan tidak berpengaruh. Jumlah itu sedikit sekali.

Ibu lalu bercerita bahwa pernah seorang istri seorang petinggi POLRI mengeluh jumlah pensiun yang sangat sedikit itu. Namun bagian humas POLRI mengatakan bahwa ibu itu beruntung dan seharusnya berterima kasih karena pensiunan yang dia dapatkan adalah hadiah dari negara. Sebenarnya dia tidak mendapat pensiun karena suaminyalah yang bekerja, dia hanya ibu rumah tangga. Ibu tadi akhirnya tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Memang pensiun hanya diberikan pada pihak yang terikat kontrak kerja langsung tapi dalam kasus pasangan dari pekerjaan dengan karakter militer, biaya kesehatan dari anggotanya tidak sebatas pada pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Banyak anggota POLRI rentan dengan berbagai penyakit sebagai akibat langsung dan tidak langsung dari pekerjaannya, dan istri/pasangan merupakan pihak yang kemudian harus merawat mereka. Atau jika tidak, keluarga harus membayar orang lain untuk merawat anggota keluarga yang sakit. Padahal pada situasi pensiun, baik laki-laki atau perempuan sama-sama mengalami penurunan kondisi fisik. Namun, ketika perempuan masih dibebankan untuk mengurus cucu dan suaminya, maka tidak adil jika perempuan tidak mendapatkan kompensasi entah dalam bentuk materi atau akses pada layanan kesehatan umum yang layak dan tanpa biaya.

Masalah di atas tidak berdiri sendiri. Masalahnya secara umum masyarakat terutama laki-laki menganggap bahwa semua perempuan senang dan menginginkan kehamilan dan mengasuh anak. Namun, tidak banyak yang mengetahui dan memahami bahwa kesenangan dan keinginan tersebut bersyarat karena selama ini syarat tersebut dikendalikan oleh laki-laki. Misalnya, kesenangan perempuan untuk hamil tergantung pada bagaimana proses yang dilalui sehingga dia hamil. Kesenangan mengasuh anak juga sangat mungkin tergantung pada jumlah dan kondisi anak yang mereka miliki. Waktu kehamilan dan jumlah anak seringkali tidak ditentukan oleh perempuan. Belum lagi anggapan bahwa perempuan hamil untuk kesenangan dan kepuasan dirinya sendiri. Di negara industri maju mungkin sudah ada kasus seperti itu tapi untuk sebagian besar kehamilan, perempuan melakukannya untuk keluarga inti, keluarga besar, klan, negara dan demi melayani sebuah sistem.

Dalam perjalanan menuju Malang, 4 Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s