Pengalaman-Saya

The Old Boys Club


Judul di atas adalah istilah dari sekumpulan laki-laki yang suka nongkrong dan ngobrol di antara mereka. Kumpul-kumpul informal tersebut sebagai bentuk silaturahmi dan bagian membangun dan memelihara jaringan. Dalam kumpul-kumpul itu seringkali ada kegiatan berbagi informasi dan pengetahuan yang tidak diperoleh melalui jalur formal. Dalam konsep ‘old boys club’ hampir dapat dipastikan anggota kumpulan adalah laki-laki. Mengapa? Karena biasanya dilakukan di luar ‘rumah’, pada waktu malam sampai dini hari atau waktu tertentu dimana perempuan biasanya sulit meluangkan waktu, tanpa membawa bayi/anak, dan mereka biasanya tidak terganggu atau dituntut (oleh keluarga atau masyarakat) untuk menyelesaikan pekerjaan domestik.

Dalam Urban Dictionary, disebutkan definisi dari old boys club adalah An informal system by which money and power are retained by wealthy white men through incestuous business relationships. It is not necessarily purposeful or malicious, but the “Old Boy’s Network” can prevent women and minorities from being truly successful in the business world. It entails establishing business relationships on high-priced golf courses, at exclusive country clubs, in the executive sky-boxes at sporting events, through private fraternities or social clubs (such as the Free Masons), et cetera. These are arenas from which women and minorities are traditionally excluded and thus are not privy to the truly “serious” business transactions or conversations. A business person who does not travel in these elite circles of influence will miss out on many opportunities. (http://www.urbandictionary.com/define.php?term=old+boy’s+club).

(Hasil terjemahan: Sebuah sistem informal di mana uang dan kekuasaan dikuasai oleh orang kulit putih kaya melalui hubungan bisnis berdasar kedekatan pribadi. Bukan berarti hal itu punya tujuan tertentu atau merugikan, tapi “Jaringan Laki-laki” dapat mencegah perempuan dan minoritas untuk meraih kesuksesan di dunia bisnis. Contoh yang dilakukan adalah dengan melakukan lobi atau kontrak bisnis di lapangan golf yang sangat mahal, di klub eksklusif, di acara-acara olahraga, melalui perkumpulan tertutup atau klub sosial (seperti Free Mason), dan sebagainya. Hal itu karena secara tradisional perempuan dan kaum minoritas dikecualikan dari pertemua ntersebut sehingga tidak dapat mengetahui transaksi atau percakapan bisnis yang “serius”. Seorang pelaku bisnis yang tidak menjadi anggota lingkaran elit tersebut akan kehilangan banyak kesempatan.)

Dalam beberapa kesempatan, saya juga sering melihat bahwa beberapa pertemuan informal yang dilakukan beberapa ornop dilakukan pada waktu dan tempat tertentu yang membatasi keterlibatan perempuan dan orang-orang tertentu dalam lembaga. Hal itu kadang tidak disadari atau kalaupun disadari masih dianggap kurang penting. Selama beberapa waktu berada di ornop perempuan, saya melihat bahwa sangat mungkin bekerja efektif dan melakukan koordinasi dengan baik tanpa secara rutin melakukan pertemuan di malam hari atau pada akhir minggu.

Kemudian belakangan saya mendengar frase “Knowledge Management” lagi. Proses dalam menciptakan ruang berbagi pengetahuan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak kemudian menjadi ruang yang dikuasai oleh segelintir orang dan menciptakan rasa minder pada kelompok lain. Memberi kesempatan yang sama untuk berbicara belum cukup untuk menciptakan “ruang aman” untuk berdiskusi. Saya punya pengalaman menjadi moderator pada sebuah milis. Anggotanya adalah pekerja lapang dari berbagai propinsi di Indonesia yang saya yakin punya banyak pengalaman dan pengetahuan. Namun, milis hanya ramai kalau tema yang dibincangkan dianggap cukup ringan dan “aman”. Maksud “aman” di sini adalah mereka dapat bersuara tanpa dikritik dengan keras karena pernah ada email dari seseorang pekerja lapang muda yang dikomentari dengan keras oleh anggota yang lebih senior. Moderator atau fasilitator suatu komunitas (online atau offline) perlu mengamati relasi kuasa dalam sebuah ruang sosial terutama jika ini menyangkut berbagi pengetahuan. Seringkali ada beberapa orang yang dianggap lebih berpengetahuan atau lebih berpengalaman sehingga orang lain secara tidak langsung merasa kurang kompeten dan tidak berpartisipasi sesuai harapan.

Istilah old boys club ini sudah lama dikenal di kajian gender yang membahas manajemen dan sains karena lembaga profesi di kedua bidang itu sangat mapan dan awalnya dibangun oleh sekelompok orang yang memiliki “keistimewaan” mengakses sumber daya tertentu. Kelas-kelas sosial sudah masuk dan tertanam dalam lembaga profesi dan keagamaan.
Seperti biasa, saya kadang sulit menutup sebuah tulisan. Apa saya harus menyimpulkan tulisan ini? Sederhana sih, old boys club perlu dipahami lebih luas dari sekedar lingkaran elit laki-laki tapi juga kelompok elit lain dalam berbagai bentuk yang meminggirkan kontribusi kelompok dari kelas, etnis, ras, aliran agama, aliran politik yang berbeda.

Pandaan, 19 Februari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s