Pengalaman-Saya

Menebus Suami


Alkisah, seorang perempuan, sebut saja Marsih, sedih dan gundah karena suami berselingkuh dengan perempuan lain. Ada isu tersebar bahwa suaminya diguna-guna oleh perempuan itu. Namun ada kecurigaan bahwa si suami sadar dengan pilihannya berselingkuh.

Selama beberapa bulan, suami pergi dari rumah. Rumah itu sendiri adalah milik istri, warisan dari ibunya. Saat itu ibu dari Marsih masih hidup dan ikut bersedih dengan musibah yang menimpa rumah tangga anaknya. Marsih tidak tahu bagaimana menceritakan kondisi perkawinannya ke kedua anaknya. Namun, dia tegar.

Selama ini dia menjadi pencari nafkah utama. Dari penghasilan dan tabungannya, dia dapat membeli motor, memperbaiki rumah, dan menyekolahkan anak-anaknya. Apalah yang kurang dari dirinya? Dia memang tidak cantik secara konvensional tetapi dia melakukan kerja domestik dan publik dengan sangat baik. Hatinya tetap gundah karena baginya, sebuah keluarga tanpa laki-laki tidak lengkap. Bagai rumah tanpa tiang.

Saudara perempuan Marsih berusaha membantu “memulangkan” suami adik mereka dengan menghubungi “orang pintar” di daerah Probolinggo. Entah berhasil atau tidak.

Beberapa minggu kemudian, suami dari Marsih kembali. Tanpa awan, tanpa angin ribut, dia kembali. Dia masuk ke dalam rumah istrinya, makan, minum, dan bertemu anak-anaknya.

Selidik lebih jauh, rupanya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan saudara-saudara dan ibunya, Marsih “menebus” suaminya dengan uang Rp 5.000.000. Uang sejumlah itu banyak bagi Marsih dibanding dengan gajinya sebagai staf paruh waktu di sebuah toko serba ada (toserba). Uang itu diberikan kepada perempuan yang dianggap telah mengguna-guna suaminya. Saudara-saudara perempuan Marsih mengetahui hal itu belakangan dan mereka marah.

Beberapa tahun berselang. Kejadian tersebut terulang. Kali ini suami menghilang selama hampir 3 minggu tanpa berita. Diketahui kemudian bahwa dia kembali ke perempuan yang sama. Setelah itu, laki-laki itu kembali lagi ke rumah istrinya. Entah berapa kali lagi hal itu akan terulang. Sepertinya kali ini Marsih tidak menebus suaminya untuk kembali. Namun dia bimbang. Baginya kehadiran laki-laki dalam keluarga tetap penting bagi anak-anaknya dan pandangan tetangga. Tarik ulur ini masih belum selesai.

Pandaan, 16 Februari 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s