Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Pemimpin yang Inspiratif


Ada refleksi lain yang terjadi saat saya berada di Kuala Lumpur tempo hari. Saya sempat mengatakan perasaan saya kepada ketua program dan teman saya bahwa saya merasa di rumah sendiri ketika berada di lembaga ini. Alasannya sederhana. Pertama, saya merasa terlibat secara substansi dan teknis. Ketua program sering berbagi mengenai perkembangan kondisi politik, sosial, dan keuangan lembaga itu pada seluruh stafnya, sehingga kami juga dapat mengukur dukungan apa yang dapat diberikan kapasitas lembaga. Kami tidak ingin menuntut sesuatu yang justru membebani keberlangsungan lembaga kami yang tercinta itu.

Kedua, kenapa kami tidak ingin membebaninya? Karena lembaga itu telah memiliki sejarah dan dampak pribadi dan sosial yang sangat besar. Kami tumbuh bersama. Ya, ada rasa kebersamaan dan rasa memiliki yang dibangun oleh pemimpin kami. Kami diperlakukan tidak hanya sebatas staf tapi juga keluarga, mitra, dan sumber daya. Kami diberi banyak dorongan, motivasi, dan koreksi untuk terus bertahan. Bukan didorong melalui cara-cara yang justru tidak produktif.

Karena kami merasa senasib dan diperlakukan sebagai keluarga dan sumber daya dan kami mengetahui kondisi dari lembaga ini maka kami pun rela melakukan beberapa kontribusi baik itu tenaga maupun materi. Misalnya ada teman satu tim yang sering membawa kegiatan untuk dilakukan bersama-sama. Kemudian honor staf tertentu dengan ikhlas dipotong sebagai tabungan untuk menyokong lembaga. Atau ikhlas meluangkan waktu untuk menjadi narasumber dalam perkuliahan atau kursus. Pemimpin kami juga memberikan penghargaan dalam bentuk non-materi yang sangat baik sehingga kami tidak merasa kehilangan sesuatu meskipun mengorbankan beberapa hal.

Saya mengamati, dan ini bisa saja salah, bahwa salah satu hal yang membuat sebuah kepemimpinan berhasil adalah komunikasi yang membangun. Entah apakah itu istilah yang tepat. Maksudnya begini, kita mungkin sering mendengar tayangan motivator ulung seperti Mario Teguh atau siapapun yang jago dalam menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran dan membangunkan diri kita. It’s inspiring! Materi yang disampaikan bukan hal yang baru atau luar biasa tapi bagaimana pesan itu disampaikan ternyata juga penting.

Di lembaga ini saya merasa si pemimpin mempraktekkan cara mengkritik yang membangun karena ada sebagian orang yang cara mengkritiknya menekan dan mengerdilkan orang yang dikritik. Dengan begitu, orang yang dikritik bukannya tertantang dan merasa mampu melakukan perbaikan tapi malah sedih, bingung, dan tidak percaya diri sehingga perbaikan yang diharapkan tidak terjadi.

Kejujuran. Itu salah satu faktor saya terinspirasi oleh lembaga ini. Pemimpin mendorong ada kejujuran dari anggota tim jika mereka merasa tertekan, bingung, khawatir, dan tidak berdaya. Pemimpin juga orang yang peka sehingga kadang sebelum anggota tim mengungkapkan hal itu, mereka sudah mengetahui dan mengantisipasinya.

Kejujuran tidak harus datang pada saat refleksi tahunan atau setiap enam bulan sekali, tapi dalam berbagai pertemuan bisa terjadi. Kejujuran dapat membuka banyak hal. Dampak yang saya rasakan adalah kejujuran membuat kita memahami posisi seseorang. Kadang ketika orang lain mengalami peristiwa yang menyulitkan, akan ada orang-orang yang mungkin bermaksud baik mengatakan, “Aku juga pernah berada di posisi itu dan aku bisa mengatasinya dengan baik, tanpa masalah. Seharusnya kamu juga bisa.” Namun, kadang ucapan “motivasi” itu justru dimaknai berbeda dan seperti memojokkan orang yang mengalaminya, karena seperti menunjukkan bahwa orang itu tidak mampu tanpa melihat perbedaan kondisi dan kematangan seseorang. If we want to be in someone else’s shoes, we should know the size (complexities) of the shoes and how the person give meaning to his/her shoes. Sekali lagi, kadang cara penyampaian juga menentukan reaksi.

Emosi. Saya mengamati bahwa saya terinspirasi oleh pemimpin yang dapat mengelola emosi mereka karena itu bukan perkara mudah. Dalam posisinya sebagai pemimpin, seseorang bisa mengalami “burn out” atau kejenuhan yang luar biasa. Saya mendapat istilah “burn out” dari seorang psikolog. Saya mengamati dan belajar dari cara seseorang merespon suatu kasus, kesalahan, keberhasilan, kekecewaan, kesedihan, konflik, dll dan itu banyak memberi gambaran mengenai kepribadiannya dan memberi petunjuk bagaimana saya dapat meresponnya.

Harapan. Mohon dibaca bahwa saya menulis kata “harapan” bukan “tuntutan”…hehehe. Pemimpin yang inspiratif bagi saya adalah mereka yang memberi harapan, bukan harapan muluk-muluk mengenai materi tetapi harapan mengenai masa depan yang positif. Selalu ada harapan.

Ketika ada tuntutan kenaikan gaji, apa sebenarnya yang memunculkan tuntutan itu? Sedemikian besarkah biaya sekolah, biaya hidup, dan jumlah tanggungan dari seseorang? Kenapa bisa sedemikian besar dan alternatif/siasat apa yang dapat dilakukan? Kadang orang merespon suatu kebutuhan dengan cara yang mereka ketahui. Misalnya pernah ada komunitas yang menilai bahwa solusi mengatasi sampah adalah ketersediaan bak sampah yang lebih besar. Namun fasilitator, yang juga akademisi, menjelaskan kepada mereka bahwa bak sampah yang lebih besar atau yang paling besar pun ternyata tidak menyelesaikan seluruh siklus persoalan sampah dan dampak dari sampah. Bak sampah tidak akan membebaskan mereka dari banjir rutin. Ia menawarkan cara pandang berbeda dalam melihat sampah dengan cara mengurangi volume sampah melalui berbagai cara. Komunitas itu lalu berpikir, “Oh iya ya. Bagus juga. Ternyata ada cara lain yang perlu dicoba.”

Orang pun demikian, melihat satu masalah dengan cara yang mereka ketahui sehingga solusinya juga terlalu sangat sederhana. Kadang orang merasa tidak punya pilihan atau tidak didukung untuk memiliki pilihan. Oleh karena itu, kecerdasan seseorang dalam memotivasi komunitas perlu didukung dengan kecerdasan dalam memikirkan berbagai alternatif bagi diri sendiri dan anggota tim. Cara ini saya rasa lebih positif dibanding langsung menghakimi komunitas atau anggota tim sendiri.

Tentu pemimpin yang saya bicarakan ini tidak sempurna tapi di balik ketidaksempurnaan itu saya dapat memakluminya sebagai celah untuk dapat mendukungnya. Karena dengan mendukungnya, bukan berarti saya mendukung posisi diri sendiri atau posisi dia sebagai pemimpin tapi mendukung lembaga. Saat inipun kami kesulitan mencari figur pemimpin yang bersedia dan bersemangat untuk melanjutkan perjuangan gerakan perempuan melalui jalur pendidikan formal.

Senang sekali mendapatkan begitu banyak pemaknaan yang menguatkan dan memberi inspirasi. Dengan menuliskannya, saya menjadi tahu kemampuan saya dalam menarik pembelajaran atau esensi dari kehidupan sehari-hari. It’s inspiring, even to myself who wrote it.

Jakarta, 1 Februari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s