Pengalaman-Saya

Gang kecil yang sederhana


Saya mengontrak sebuah rumah petak di daerah Srengseng Sawah. Tempatnya persis di belakang kampus Universitas Pancasila. Kebanyakan rumah dibuat menjadi kontrakan atau kos-kosan. Sudah sekitar 9 bulan saya menempati rumah mungil ini. Rumah sederhana dengan teras, ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi dalam satu ruangan. Minus ruang makan.

Rumah ini cukup nyaman. Rumah saya diapit 2 rumah petak dengan ukuran dan bentuk yang sama persis. Beberapa rumah di sekitarnya dimiliki oleh orang yang sama dengan pemilik rumah kontrakan saya. Rumah ini tergolong nyaman dan cukup luas kalau mau dibandingkan dengan rumah kontrakan kecil lainnya yang menyempil di beberapa titik.

Kalau saya membeli makan pagi berupa nasi uduk, saya sering kagum dengan orang-orang yang mampu bertahan di rumah yang lebih kecil dari rumah petak saya, tanpa halaman, dan jalan yang sangat sempit. Kalau dibilang mojok, ya sangat benar-benar ‘ter-pojok-kan’….hehehe. Kalau saya intip, ya tidak mungkin masuk ke dalam, sepertinya ada rumah yang terdiri dari hanya ruang tamu dan dapur. Saking sempitnya.

Banyak pendatang yang bermukim di sini. Misalnya suami saya yang pendatang dari Malang dan saya pendatang dari Kalisari, Cijantung. Sama-sama pendatang dong. Halaman di depan rumah saya luas sehingga sering jadi tempat memarkir mobil. Hanya 2 meteran di depan rumah ada tempat sampah besar. Rumah saya dan penghuni di dalamnya sering berbau sampah. Kamuflase yang baik untuk menutupi kemalasan kami berdua membersihkan rumah.

Gang kecil yang sederhana ini dibuat dari konblok yang sebagiannya sudah gompel. Kalau berpapasan harus tahu diri mana yang bisa minggir. Belum lagi kalau ada tukang bakso yang mangkal di gang kecil itu.

Gang kecil ini mungkin dihuni oleh orang-orang yang sederhana. Saya pakai kata mungkin karena bisa jadi pikiran orang-orangnya menjadi sesempit gang yang mereka tinggali sehingga tidak sesederhana yang dibayangkan.

Gang kecil dilewati oleh sungai yang alirannya menjadi sangat deras manakala turun hujan. Airnya berwarna coklat susu eh coklat tanah…hehehe. Tanah dan lapangan besar jangan diharapkan. Kebanyakan penghuninya berolahraga di area kampus Universitas Pancasila (UP). Kampus menjadi sarana publik paling diminati pada akhir minggu.

Lokasi rumah saya dekat dengan stasiun UP. Strategis tapi juga bikin kesal kalau kereta listrik dambaan masyarakat itu sedang bermasalah. Kalau naik angkutan mikrolet atau kopaja, penumpang harus menyambung di terminal pasar minggu.

Saya menyukai gang kecil ini. Gang kepepet yang tetap strategis.

Jakarta, 18 Januari 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s