Pengetahuan-Saya

Inilah Kereta Listrik Jabodek


Hari ini sangat mengesalkan. Dimulai dari kereta listrik yang ternyata masih perawatan. Entah itu alasan yang valid atau tidak untuk membenarkan sedikitnya KRL yang beroperasi. Saya sudah membeli tiket ekonomi AC seharga 5.500. Berhubung saya datang ke stasiun jam 8.20, saya harus menunggu sekitar 40 menit. KRL yang ditunggu datang tapi masya Allah, penuh sekali bahkan sebagian penumpang mendapat tempat duduk di atas gerbong.

Saya ingin nekat naik ke dalam gerbong tapi saya urung begitu melihat dua orang petugas laki-laki “membantu” mendorong beberapa penumpang perempuan masuk ke dalam gerbong. Seperti asal masuk saja, entah mereka dapat pegangan atau tidak, dan jelas tidak mempertimbangkan kenyamanan penumpang. Saya tidak berani masuk karena seperti disumpal-sumpal layaknya memasukkan barang ke karung, dioyak-oyak supaya muat.

Saya bertanya ke petugas jadwal ekonomi AC selanjutnya tetapi dia mengatakan belum ada informasi. Keren abis! Akhirnya saya menunggu sekitar 20 menit untuk naik KRL ekonomi. Tentu saja penuh juga. Gemes deh! Saya mencari-cari celah untuk masuk. Masuk sih tapi di pinggir pintu. Saya berpegangan ke langit-langit pintu lalu didorong dari belakang dan samping kiri. Badan saya doyong dan tidak berdiri tegak. Saya hanya bertumpu pada tangan kanan yang berpegangan di sela-sela ruang bagasi. Bukan cuma saya yang merasakannya tetapi hampir seluruh penumpang. They are struggle just to be able to standing there.

Keringat bercucuran. Bedak, deodoran, lipstik luruh bersama dengan keringat. Belum lagi bau mulut yang bercampur baur. Kalau di KRL jangan ngomong di depan muka orang deh ya. Plis deh! Paling enggak ditutupin dikit gitu. Kalau naik kendaraan umum juga wajib hukumnya pakai deodoran, apalagi naik KRL. Itu yang berdiri di samping kan juga manusia yang punya indra penciuman. Hadoh!

Ke luar dari gerbong KRL juga perjuangan. Semua pelanggan KRL sudah tahu strateginya. Kalau mau nyelip harus memiringkan badan, ruang gerak terbatas, begitu juga dengan ruang bernapas. Saya pikir semua penumpang pasti menghitung jumlah stasiun yang mereka lewati untuk menghibur diri. Itu juga yang saya lakukan; Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Kalibata, Cawang, Tebet, dan akhirnya Manggarai.

Senangnya bisa menghirup udara yang, yah enggak seger-seger amat sih, namanya juga stasiun. Tapi lumayanlah daripada menghirup udara yang dikeluarin orang lain. Saya mencoba menawar ojek 5 ribu sampai UI Salemba. Tidak ada yang bersedia. Minimal ada yang mau 7 ribu. Ujung-ujungnya naik bemo, bayar 2 ribu.

Sampailah di kampus UI dan berjalan menuju kantor. Saya tidak mau berpikir perjalanan pulang. Nanti sajalah. Lagipula saya mau mampir ke rumah Devina di Lebak Bulus menggunakan bus kota. Istirahat sejenak.

Jakarta, 7 Januari 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s