Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Kegalauan Dini Hari


Sudah jam 12 malam dan saya tidak mengantuk. Kalau tidak mengantuk tentu tidak bisa tidur. Biasanya saya tidak mengantuk karena dua hal. Pertama, karena saya sudah tidur lebih awal jadi terbangun pada jam 11 malam lalu sulit tidur lagi. Kedua, karena ada pikiran yang mengganggu atau terlalu bersemangat. Kali ini rasanya alasan nomor dua.

Pekerjaan baru, tempat tinggal baru, suasana baru yang akan saya hadapi menjadi keresahan yang jadi pikiran. Bukan sesuatu yang dicemaskan tetapi mungkin campuran dari semangat, khawatir, bingung, senang, dan perasaan lain. Padahal siang tadi kepala saya sakit sekali. Saya jarang sakit kepala tapi siang tadi seperti ditekan-tekan dengan keras. Saya berusaha tidur supaya hilang tapi tidak bisa tidur. Akhirnya buru-buru makan malam lalu minum obat. Alhamdulilah sembuh. Kalau minum obat biasanya kan ada efek mengantuk tapi ini tidak. Heran.

Suami saya yang biasanya tidur dini hari, sekarang malah tidur duluan. Saya mau ajak dia ngobrol tapi sudah nyenyak, tidak enak mengganggu tidurnya. Akhirnya saya bangun dan menulis blog. Bingung mau menulis apa.

Salah satu pikiran saya juga berawal dari informasi bahwa dua teman saya telah keluar dari lembaga sebelumnya dalam suatu konflik. Kata “kudeta” saya dengar dua kali hari ini. Keduanya bekerja di lembaga yang bergerak di isu penguatan perempuan dan gender. Sebelumnya saya pernah mendengar lembaga perempuan yang juga mengalami krisis yang sama. Jadi ada kesamaan dan saya curiga bukan suatu yang insidental. Ya, perpecahan dialami oleh banyak lembaga, partai politik, dan organisasi lain. Namun dalam konteks gerakan perempuan, ada keinginan dan idealisme bahwa perempuan dapat membangun koordinasi yang solid dan agak berbeda dari lembaga yang bergerak tanpa perspektif feminis. Sulit ya.

Salah satu kegalauan adalah bagaimana dampaknya ke para aktivis muda dan pemula. Apakah mereka terjebak dalam konflik kepentingan lembaga sehingga energi dan kreativitas mereka menjadi tidak berkembang? Dapatkah terjadi diskusi egaliter dan sinergi antar aktivis dalam kekacauan lembaga? Apakah aktivis perempuan muda ternyata tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang diharapkan? Lalu bagaimana membangun kepemimpinan yang sesuai harapan? Dan apakah harapan hari ini akan sesuai dan dapat menjawab tantangan di masa depan?

“Kudeta” itu sepertinya konsep yang tidak sesuai dengan semangat ornop karena menunjukkan ada mekanisme yang tidak berfungsi, saluran yang macet, atau semacamnya sehingga diambil jalan ini. What is happening here?

Saya memang kurang mengetahui secara sangat mendalam permasalahan di setiap lembaga. Pasti berbeda-beda. Namun bisa dilihat kesamaannya. Selama ini setahu saya sering dilakukan refleksi akhir tahun oleh setiap lembaga. Memangnya itu basa-basi?

Mudah-mudahan dengan menuliskan tulisan ini saya menjadi mengantuk. Hemm….kalau enggak juga, ngapain lagi dong?

Jakarta, 5 Desember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s