Pengetahuan-Saya

Memaknai Relasi Kuasa dalam Pemilihan Tayangan Televisi


Seorang teman laki-laki pernah secara antusias mengatakan jika dia menemukan bahwa para perempuan di desa yang diamatinya memiliki kekuasaan terhadap remote control televisi. Dia melihat hal itu sebagai kajian yang menarik diteliti di tengah anggapan bahwa perempuan tidak memiliki akses terhadap media. Bahkan, dia bercerita, suami mereka sampai harus pergi ke rumah tetangga atau berkumpul di pos keamanan ketika tidak diberi kesempatan menonton oleh istri. Mereka merasa kalah kekuasaan dalam menentukan tayangan apa yang akan ditonton.

Namun, dia mengkritisi bahwa tontonan yang dipilih oleh para perempuan dewasa dan remaja desa tersebut adalah sinetron atau reality-show yang banyak menggugah emosi. Saya kadang memikirkan tentang pendapatnya. Saya menangkap bahwa teman saya tersebut beranggapan jika perempuan sebagai kelompok pemirsa televisi diberi pendidikan literasi media, maka dampaknya menjadi lebih kuat. Melalui literasi media, ada harapan agar kaum perempuan dapat menjadi pemirsa yang cerdas dan memilih tayangan yang bermanfaat. Dengan begitu, dampak secara langsung tidak saja terhadap dirinya tetapi juga terhadap anggota keluarganya yang ikut menonton.

Saya mencoba melihatnya dari kacamata yang berbeda. Berikut ini pengamatan terbatas saya.

Pertama, saya melihat pada konteks di luar masyarakat desa atau paling tidak di Jakarta pada kelompok menengah, kekuasaan memilih tayangan televisi bersifat relatif atau tergantung pada jenis tayangan. Pada tayangan sinetron yang plot utama biasanya konflik dalam atau antar keluarga atau reality-show yang berusaha menggugah emosi melalui relasi pasangan atau keluarga, perempuan memiliki kekuasaan untuk memilih menonton tayangan tersebut. Hal itu tentu telah diketahui oleh rumah produksi, pembuat rating, dan kelompok industri media televisi. Perempuan memang memiliki kekuasaan memilih tayangan tv, kalau perempuan tidak memiliki kekuasaan memilih maka industri media tidak mungkin membuat tayangan “yang dianggap khas bagi perempuan atau ibu-ibu”.

Kedua, pada saat dua tayangan berbeda diputar pada jam yang sama, istri cenderung mengalah pada pilihan anak dan suami. Hal itu tidak terbatas pada istri yang menjadi ibu rumah tangga atau ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah. Kemungkinan ada perbedaan perilaku dan relasi kuasa dari kedua kelompok perempuan tersebut yang perlu dikaji. Perempuan tidak selalu mengalah tetapi ada kecenderungan untuk itu yang tidak terbatas pada memilih tontonan televisi. Persentase berapa besar perempuan mengalah dan alasannya belum saya ketahui karena sekali lagi tulisan ini baru hasil pengamatan terbatas.

Ketiga, sebagian rumah tangga di perkotaan memiliki lebih dari satu televisi atau media hiburan lain yang tidak kalah menarik sehingga lebih banyak anggota keluarga yang dapat memilih tayangan mereka sendiri. Namun, dari pengamatan terbatas, perempuan atau ibu rumah tangga mengalah pada kemauan anak dan suami karena kadang mereka masih disibukkan dengan pekerjaan domestik. Pada pagi hari, ibu rumah tangga dianggap memiliki waktu “santai”, artinya semua anggota keluarga berada di sekolah atau kantor sehingga ibu ada di rumah seorang diri. Dengan begitu, perempuan memiliki kuasa penuh dalam memilih tayangan televisi. Sebenarnya menonton bagi perempuan menjadi menarik karena dapat dilakukan sambil mengerjakan tugas domestik seperti menyapu, mengepel, mencuci, dan memasak. Jalan cerita sinetron yang mudah dan cenderung “itu-itu saja” tidak menyulitkan siapapun untuk memahaminya tanpa harus berada di depan televisi. Sepertinya sedikit waktu bagi perempuan untuk benar-benar duduk dan menonton, tanpa mengerjakan apapun. Artinya makna menonton bagi perempuan bisa jadi berbeda dari anak-anak dan laki-laki.

Keempat, jika menggunakan perspektif feminis untuk menganalisis fenomena ini maka perlu dilihat pengaruh kekuasaan memilih tayangan televisi terhadap relasi kuasa dalam keluarga secara keseluruhan. Mengingat bahwa tayangan yang dipilih perempuan biasanya terjebak pada pelanggengan stereotipe gender, maka pendidikan literasi media perlu mengikutsertakan kepekaan gender untuk menggugah kesadaran kritis mereka. Kondisi bahwa perempuan memiliki kuasa terhadap pemilihan tayangan televisi belum menjadi indikator bahwa mereka memiliki relasi kuasa yang setara dengan anggota keluarga yang lain, suami, anak, mertua, atau orang lain. Perlu dicari tahu juga makna “memiliki kuasa memilih tontonan televisi” bagi perempuan. Jika perempuan tidak memiliki makna yang kuat maka mereka kemungkinan tidak berusaha untuk mengangkat “kuasa” yang terbatas itu menjadi kuasa atau “enabling power” yang lebih besar bagi dirinya.

Belum lagi, jika perempuan tersebut sudah menjadi pemirsa yang cerdas dan memilih tayangan yang berkualitas seperti diskusi/debat politik, investigasi kasus termasuk kasus KDRT, dan tayangan baik lainnya, perlu dilihat apakah keputusan itu didukung, dicibir, atau ditentang oleh anggota keluarganya.

Usaha menggugah kesadaran kritis mengenai relasi gender sangat dilematis dibanding literasi media secara umum karena mengajak perempuan untuk mulai mempertanyakan dan meragukan nilai-nilai normatif relasi kuasa dalam keluarganya, termasuk dengan pasangannya. Membangun kesadaran kritis bersifat personal sehingga setiap orang memiliki “periode jendela” yang berbeda-beda untuk sampai pada tahap tersebut.

Penelitian media yang berperspektif feminis sudah dilakukan oleh beberapa alumni Program Studi Kajian Wanita (Kajian Gender) Universitas Indonesia. Kebanyakan menggunakan metode analisis isi. Akan sangat menarik jika penelitian bertema media diperluas lagi pada isu-isu lain melalui pendekatan interdisiplin.

Jakarta, 24 Desember 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s