Pengalaman-Saya

Hubungan yang Rumit


Selama lima hari saya berada di Malang untuk menjenguk bapak yang sedang sakit. Saya belajar mengenai kelas sosial dalam pelayanan kesehatan karena saat pertama masuk ke sebuah RS militer di Malang, dia mendapat “jatah” kelas I di ruang Mawar. Masuk hari Sabtu dan baru ditangani dokter pada hari Senin sementara kalau masuk ke paviliun maka dokter bisa langsung datang untuk memeriksa kondisi pasien. Saya tahu hal itu karena sebelumnya bapak masuk ruang VIP atau paviliun di RSUD Bangil dan ditangani dengan sangat baik. Bapak adik ipar saya pada saat yang sama, yaitu di Malang, juga masuk ke RS yang sama tetapi di paviliun dengan membayar tambahan yang cukup besar namun mendapat penanganan yang cepat.

Keluhan bapak saya adalah sesak napas, dengkul yang lemas, kaki yang dingin atau mati rasa, pusing seperti melayang, dan rasa panas di ulu hati sampai ke punggung. Sehari sebelum saya pulang, kondisinya seperti membaik. Dia sudah mulai banyak omong, kembali pada karakter utamanya. Namun, kalau sakit menyerang secara tiba-tiba maka dia akan diam dan menahan sakit. Saya kasihan tetapi rasa itu tidak membuat saya mendekatinya.

Saya belum merasa nyaman berada di dekat bapak, apalagi menyentuhnya atau memeluknya. Saya tidak pernah memijatnya. Saya tidak ingin melakukannya. Saya tidak ingin menjalin ikatan emosional yang lebih dalam dari yang sudah ada. Saya tidak ingin dikuasai atau berada di bawah perintahnya. Saya tidak ingin menjadi seperti ibu saya yang sulit menarik diri dari sosok bapak. Saya terus menjaga jarak dan saya harap bapak mengetahui hal itu. Elu elu, gua gua, begitu deh kasarnya. Alhasil praktis saya di sana hanya menungguinya di ranjang yang berbeda, membereskan makanannya, dll yang tidak memerlukan sentuhan fisik. Ketika dia minta disuapi, ibu menawari saya untuk menyuapi bapak. Saya menjawab dengan keengganan non-verbal, ibu tahu dan dia yang menyuapi bapak. I am sorry dad but I still can’t make a peace with your attitude.

Setelah dilakukan rekam jantung, mengukur tekanan darah, dan mengecek beberapa enzim darah maka dokter mengatakan bahwa semuanya normal. Dokter mengatakan bahwa bapak tidak boleh terlalu cemas dan terlalu lelah. Kemudian saya mengatakan bahwa yang bapak perlukan bukan dokter penyakit dalam tetapi seorang psikolog. Setahu saya bapak memiliki konflik di masa lalu sampai masa sekarang. Sebagai orang yang lahir dan besar di Desa ABC, dia mewarisi beberapa karakter yang sangat mementingkan gengsi berdasarkan kepemilikan materi, keturunan, dan jabatan. Dia masih terikat dengan hal-hal tersebut. Memang bukan hanya dia, banyak orang seperti itu tetapi yang satu ini adalah bapak saya.

Setelah lima hari diopname saya rasa belum ada perkembangan lebih baik. Bapak mendapat hobi baru dengan menghapalkan nama-nama obat. Sejak lama dia memang senang mengoleksi obat-obatan. Saya dan ibu sudah lama mengeluhkan hal itu tetapi pendapat kami tidak pernah mendapat tempat. Jadi saya memang tidak terlalu bersemangat memberi masukan atau pendapat. Kalau memberi masukan, saya tidak berharap bapak akan mendengarnya.

Bapak sejak lama ingin saya berobat sinusitis tetapi saya tidak melakukannya. Saya sudah pernah mencobanya dan saya tahu pengobatan paling ampuh adalah jika saya tinggal di tempat dengan cuaca panas dan rajin berolahraga. Obat-obatan modern dan tradisional belum ada yang ampuh.

Bahkan ketika sakit, saya masih terganggu dengan sikapnya yang selalu ingin dilayani dan ditunggui. Jika ibu tidak dapat melepaskan diri dari bapak, sebaliknya saya bisa. Saya sempat memberi harapan dan janji bahwa saya akan pindah ke Pandaan atau Malang mulai bulan Januari 2011. Janji itu cenderung karena saya kasihan dengan ibu yang harus mengikuti dan menunggui bapak, bukan karena bapak. Saya masih ragu karena itu tadi, saya tidak merasa cocok dengan bapak. Saya bukan pendengar yang baik. Saya tidak terlalu peduli dengan cerita bapak. Saya tidak setuju cara dia memperlakukan ibu. Saya menjadi anaknya karena nasib.

Saya khawatir jika saya pindah sebelum mendapat pekerjaan, saya akan terus berada di sekitarnya. Bukan sesuatu yang menyenangkan. Saya tidak bisa dekat dengan bapak terlalu lama tanpa jeda yang panjang. Saya memerlukan jeda itu untuk “bernapas” dan menjadi saya sendiri. Saya tidak bisa diharapkan untuk menjadi seperti ibu yang seringkali harus minta izin untuk keluar atau diam-diam berjalan-jalan ke luar atau menjalankan perintahnya. Hal itu juga tidak saya lakukan ke suami saya karena bagi saya hal seperti itu menyesakkan. Sama sesaknya dengan sesak napas yang bapak alami. Kalau kita mengalami sesak napas, rasanya mau mati. Tidak mati tapi terus-menerus seperti mau mati.

Saya senang dapat kembali ke Jakarta. Saya tahu bahwa jarak ini perlu diselesaikan tapi saya tidak ada niat untuk bicara atau menulis surat kepada bapak. Apa yang saya harapkan ketika dia mengetahui perasaan saya? Saya tidak memiliki harapan apapun. Bukankah itu jauh lebih buruk dalam sebuah hubungan?

Malang, 11 November 2010

Advertisements

One thought on “Hubungan yang Rumit

  1. Betul-betul perempuan perkasa, Ken. Tapi, sesungguhnya ada sisi kemanusiaan yang suka kita lupa yang tidak bisa dijelaskan dengan kerangka berpikir tentang relasi kuasa.

    Susah membayangkan saya bisa menyediakan teh hangat untuk istri saya di rumah ketika ia kelelahan bekerja seharian jika saya masih berpikir relasi kuasa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s