Pengalaman-Saya · Pengetahuan-Saya

Sang Pencerah, The Movie: Mengejar Momen


Kemarin malam, tanggal 18 September 2010, saya ditraktir suami menonton Sang Pencerah, film baru mengenai perjalanan hidup Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saya pernah membaca reviewnya di sebuah website jadi tidak berharap terlalu banyak.

Kami menonton di bioskop 21 di Mal Cijantung. Saya baru tahu kalau sekarang sudah tidak ada nomat. Cukup surprise karena tiketnya murah yaitu 20 ribu/orang. Terakhir nonton sepertinya 3 bulan yang lalu di Citos masih 35 ribu/orang.

Film berdurasi sekitar 2 jam itu berjalan terburu-buru. Saya tidak keberatan ada beberapa hal yang dipotong atau disederhanakan asalkan irama film tetap terjaga. Suami saya tidak terkesan dengan film ini. Saya melihat film ini menjadi “Punjabish”, kejar tayang. Mungkin mengejar momen Idul Fitri dan bulan Syawal. Saya menyesal menontonnya. Tahu begitu bisa nonton film yang lain.

Satu hal yang mengecewakan adalah jenggot yang dipakai Lukman Sardi kelihatan tempelan. Mengganggu banget. Kalau soal kulit Zaskia dan beberapa pemain yang dibuat gelap sih saya salut. Tapi soal menempel jenggot itu kan perkara biasa dalam perfilman, masak masih amatir banget.

Dalam film ini, istri Ahmad Dahlan digambarkan sering menangis terisak-isak. Wajar sekali kalau sedih melihat suaminya dizalimi tapi saya masih bertanya-tanya apakah seperti itu karakter Siti Walidah, si Nyai Ahmad Dahlan. Kalau saya belajar sejarah gerakan perempuan di Indonesia, saya cenderung melihat kaum perempuan pada masa yang lalu berkarakter kuat. Terutama kalau melihat kondisi yang penuh keterbatasan pada saat itu.

Sebagai orang yang pernah sesaat bermukim di Jogja, saya sendiri melihat fenomena menarik. Muhammadiyah sepertinya begitu kuat karena ada ada berbagai RS, lembaga pendidikan, dan yayasan memakai nama Muhammadiyah. Di lain sisi, saat ada Grebeg Maulud dimana banyak sesajen diarak di alun-alun keraton, orang-orang Jogja juga datang berduyun-duyun. Jadi mungkin seperti itulah mereka menyelaraskan dan memosisikan kepercayaan mereka.

Jakarta, 19 September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s