Pengalaman-Saya

Mengelola Kas Bersama


Saya ingin menuliskan pengalaman kepada mereka yang saat ini akan menikah dan berpikir untuk membuat perjanjian perkawinan atau perjanjian pra nikah. Sebelum saya menikah, saya sangat bersemangat untuk membuat perjanjian perkawinan dengan banyak alasan. Saya memang belajar banyak mengenai hukum perkawinan, termasuk pembagian atau pemisahan harta-hutang dalam perkawinan.

Pada bulan pertama setelah perkawinan, saya bingung. Alasannya, saya dan suami setuju dengan pemisahan harta, lalu untuk belanja sehari-hari kami tidak tahu cara pembagiannya. Kalau misalnya saya membayar biaya makan dan suami membayar biaya di luar makan, saya merasa tidak adil untuk kami berdua karena jumlahnya setiap bulan bervariasi dan kami juga belum tahu selisih variasi. Saya juga masih belum tahu bagaimana caranya minta kontribusi suami untuk biaya rumah tangga. Saya belum pernah membaca atau mendengar pengalaman orang lain yang melakukan pisah harta-hutang dalam menutupi biaya sehari-hari.

Akhirnya terlintas ide untuk membuat kas bersama. Jadi sekarang setiap bulan, saya dan suami harus menyetor 1 juta sehingga ada total 2 juta untuk membiayai kebutuhan keluarga setiap bulan. Biasanya hanya 1,5 juta yang terpakai setiap bulan dan sisanya menjadi tabungan bersama untuk digunakan membayar sisa kontrakan atau keperluan lainnya. Pengeluaran pribadi tidak menjadi pengeluaran bersama, jadi kami harus membedakan keduanya. Misalnya untuk membeli tiket mudik tahun ini dihitung sebagai pengeluaraan pribadi karena jumlahnya cukup besar. Pembayaran asuransi kesehatan juga dihitung pengeluaran pribadi karena hanya menutupi biaya kesehatan saya sendiri. Dalam kondisi darurat, kas bersama dapat dipakai untuk menalangi urusan pribadi tetapi harus dikembalikan bulan itu juga.

Saya mengambil inisiatif untuk mengelola keuangan bersama. Jadi setiap hari saya mencatat seluruh pengeluaran bersama. Agar tertib, saya juga membuat catatan pengeluaran pribadi untuk memisahkan saldo kas bersama dan kas pribadi. Pada akhir bulan, saya akan mengelompokkan setiap item pengeluaran ke dalam 6 pos yaitu makanan/minuman, perlengkapan RT, transportasi, internet, kontrakan/listrik, dan hiburan/obat/lain-lain. Lalu saya kirim ke email suami sebagai pemberitahuan. Sebenarnya kalau mau tertib lagi, pos tabungan perlu dikeluarkan di awal bukan di akhir pencatatan. Semoga informasi dapat membantu pasangan lain menemukan dan merancang keuangan mereka.

Pandaan, 6 September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s