Pengalaman-Saya

Pengalaman Mudik


Pengalaman mudik pertama saya. Tahun ini adalah kali pertama saya mudik karena orang tua sekarang bermukim di Pandaan, Jawa Timur. Sebelumnya saya pernah “mudik” tapi saya tidak benar-benar merasa mudik, hanya sebatas menjenguk kakek, nenek, dan saudara ibu dan bapak di sekitar Krembung. Saya tidak punya akar Jawa Timur yang kuat dan belum merasa “pulang kembali” ke suatu akar.

Ini juga kali pertama saya akan merayakan Idul Fitri bersama suami karena sebelumnya tanpa pasangan. Kami berdua cukup senang karena mendapatkan tiket murah Jakarta-Surabaya seharga 397 ribu/orang. Pulangnya kami juga memburu tiket murah Batavia, yang kami beli di bandara Juanda pada saat mendarat. Kami mendapatkan tiket seharga 577 ribu. Lumayan murah karena saya saya dengar ada yang membeli seharga hampir 700 ribu, bahkan di Idul Fitri sebelumnya bisa mencapai 800 ribu.

Seperti yang saya tulis di awal, saya belum merasa punya akar budaya Jawa Timur sehingga bukan sesuatu yang penting sekali untuk “pulang”. Namun, berhubung enam bulan ke depan saya dan pasangan berencana untuk pindah ke Malang, saya merasa perlu mengetahui lebih dalam mengenai kekerabatan keluarga saya dan pasangan serta kondisi sosial di daerah ini. Makanya saya rela meluangkan waktu, uang dan tenaga untuk mudik.

Ketika mendarat di Bandara Juanda, saya menemukan bandara yang sangat berbeda dari sekitar 5 tahun yang lalu. Jauh lebih tertata dengan baik. Cuaca Surabaya cerah, saya sangat menyukainya. Saya dijemput oleh ibu dan bapak. Mereka mulai saling bercerita situasi di rumah, kondisi kesehatan masing-masing, dan segala hal yang mereka rasa perlu diketahui anak-anaknya. Saya kangen dengan keributan mereka.

Saya diminta menyetir, suami saya belum cukup nyaman untuk menyetir mobil mertuanya. Setelah beberapa waktu, saya agak kagok menyetir mobil lagi. Suasana sempat gegap gempita karena perilaku mengemudi saya yang dirasa kurang baik. Kami singgah di dua tempat sebelum pulang ke rumah di Pandaan.

Rumah ibu dan bapak di Pandaan berada di sebuah perumahan kelas menengah ke atas. Berbeda dengan rumah petak saya di Srengseng Sawah yang masuk ke gang-gang sempit, padat dengan rumah penduduk dan berada di belakang kampus Universitas Pancasila. Bagaimanapun saya suka dengan rumah petak yang sederhana dan tidak bocor itu. Saya tidak percaya ibu dan bapak dapat memasukkan semua barang dari rumah di Kalisari ke Pandaan. Wow!

Rumah memang menjadi sesak dengan meja, kursi, meja, dan kursi lagi. Ada 2 buah lemari baju ukuran sedang dan 2 lemari ukuran besar dimasukkan ke dalam 3 kamar tidur. Ada 5 meja dengan berbagai variasi ukuran memenuhi ruang tamu dan ruang makan. Ada sebuah rak TV, sebuah rak piring, sebuah mesin cuci, dan yang menakjubkan, sebuah aquarium besar masih dipertahankan. Bapak saya bingung dan merasa sayang kalau harus dibuang. Dia tidak tahu siapa yang mau menerima aquarium super jumbo itu. Rupanya masih ada orang yang lebih aneh dari saya.

Ruangan terlihat sesak dan kelihatannya barang-barang itu yang lebih dominan daripada orang yang tinggal di dalamnya. Saya mencoba berprinsip bahwa “you are not the things that you own” walaupun terus mengalami gempuran konsumtif dari berbagai produk dan jasa yang mengajarkan bahwa “You are what you can buy”.

Saya sempatkan menelepon ibu mertua di Malang untuk memberitahukan kedatangan kami. Dia senang. Ibu mertua saya orang yang sabar dan menerima apa adanya. Saya penasaran seperti apa konsep dunia dalam pandangannya. She’s quite simple; jenis orang yang mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh rezim apapun yang ada di bumi Indonesia. She looks strong because of her simplicity and ‘optimism’.

Saya dan suami telah membahas di mana akan menghabiskan waktu pada Lebaran H+1 sampai H+6. Kami harus membaginya ke tiga tempat: Pandaan, Krembung, dan Malang. Krembung dapat diselesaikan 2/3 hari mengingat bapak ingin nyekar ke kuburan almarhum bapaknya (atau kakek saya). Saudara ibu dan bapak juga cukup banyak. Silahturahmi di Malang juga bisa menghabiskan waktu sehari karena ibu mertua adalah anak tertua.

Paling tidak kami harus mulai mengenalkan diri sehingga mereka bisa “menerima” kami jika tinggal di Malang tahun depan. I hope everything will goes well as we plan, although we didn’t plan much.

Pandaan, 5 September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s