Pengetahuan-Saya

Enam bulan kemudian…


Saya sudah menjalani enam bulan perkawinan. Tapi saya merasa sudah lebih dari satu tahun. Mungkin kalau sudah menikah satu tahun akan terasa seperti dua tahun. Mungkin waktu dalam perkawinan punya makna yang berbeda karena sepertinya terjadi kelipatan dua dari semuanya.

Kalau masih ada orang yang mengatakan bahwa kawin itu enak, saya akan terheran-heran. Karena tidak “sebegitu” enak, biasa aja. Ada sisi yang menarik, ada yang tidak menarik. Kawin tidak membuat hidup seseorang kemudian berubah 180 derajat. Akan menjadi 180 atau bahkan 360 derajat berbeda jika yang tadinya kamu seorang perempuan mandiri lalu menjadi tidak mandiri, dari bahagia menjadi tidak bahagia, dari ekspresif menjadi terkekang, dari santai menjadi tegang, dari yang suka menulis blog menjadi absen, dsb.

Ada percakapan menarik antara saya dengan seorang istri teman, sebut saja MK. Ketika saya sedang gemas menggoda putrinya yang sedang belajar berjalan, sambil iseng saya bertanya, “suami kamu sering kerja sampai malam?”
Lalu dia jawab, “Kadang-kadang aja.”
Karena saya tahu dia baru datang dari kampungnya, saya bertanya lagi, “Bapaknya nggak kangen kalau ditinggal sendiri?”
“Oh, kangen. Sekarang udah mending sejak lahir dia [anaknya]. Dulu kalau kumpul berantem terus.”
“Heh?”
Saya tidak melanjutkan pembicaraan itu karena ada sesuatu yang menghalangi, entah saya lupa.

Saya jadi sedikit paham jika ada pasangan yang setelah bertengkar lalu malah punya anak. Mungkin kehadiran anak diharapkan menjadi penengah, selain sebagai penghibur kala orang tuanya bosan.

Kemudian pada bulan Juni lalu ada berita tentang perceraian Al dan Tipper Gore, mantan wakil presiden AS. Setelah menikah selama 40 tahun, mereka bercerai. Banyak orang, termasuk kawan dekat mereka yang terkejut. Termasuk saya yang tidak tahu apa-apa. Only time will tell about the state of relationship a couple have in a marriage.

Menurut pengalaman saya, usia perkawinan juga tidak mencerminkan kebahagiaan pasangan. Variabelnya perlu dilengkapi dengan variabel lain.

Perkawinan ini belum memuaskan harapan saya dan pasangan saya. Perlu usaha lebih keras untuk mewujudkan harapan, terutama kalau satu pihak punya pendekatan berbeda mengenai kebahagiaan. Saya rasa ada benarnya juga kalau ada pasangan ingin hidup bersama sebelum menikah atau melakukan nikah sirri. Karena pacaran seringkali seperti kotoran kerbau (a.k.a bullshit) yang masih dibalut puding. And you still think marriage is everything? It’s a thing but not everything.

Jakarta, 28 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s