Pengetahuan-Saya

Menguatkan Otoritas Perempuan Untuk Membangun Pengetahuan


Judul tesis: Perempuan Memaknai Fisika: Studi Kasus di FMIPA-UI

penulis: Niken Lestari

Marie Currie. Biasanya hanya nama itu yang banyak diketahui sebagian orang ketika ditanya mengenai fisikawan atau ilmuwan perempuan yang mereka kenal. Dia dan penemuannya sangat luar biasa. Tadinya saya berpikir hanya dia ilmuwan perempuan yang ada. Tadinya saya merasa tidak perlu bertanya kemana pemikiran ilmuwan perempuan dari setengah milyar penduduk perempuan di dunia. Tadinya saya berpikir bahwa jawabannya sudah jelas. Namun, penelitian ini menunjukkan “jawaban yang jelas” itu ternyata sebuah asumsi tidak berdasar, dia bukan jawaban bahkan harus dipertanyakan.

Penelitian ini membuka mata saya mengenai mitos, nilai, dan stereotipe yang kuat berada dalam benak ilmuwan sains dan pembelajar sains. Ketika banyak orang mengasosiasikan sains dengan perubahan cara berpikir, feminis melihat sains belum kuat menggoyahkan relasi kekuasaan dalam gender dan proses belajar di institusi pendidikan.

Sedikit sekali masyarakat umum yang mengasosiasikan sains dengan karakter dan sosok perempuan sehingga kaum perempuan yang memilih jurusan fisika di perguruan tinggi masih dianggap hal yang tidak biasa, setidaknya sampai dengan periode akhir tahun 2000. Hal itu karena dalam sejarahnya, karakter sains dibangun dalam periode ketika hanya laki-laki yang memiliki akses ke pendidikan formal, laboratorium dan terlibat dalam komunitas terbatas para ilmuwan.

Usaha mempertanyakan “jawaban yang sudah jelas” itu berbuah penelitian di satu tempat di jurusan fisika, FMIPA-UI, dengan pertimbangan keleluasaan untuk memfokuskan perhatian pada suatu sistem yang terikat (bounded system) seperti satu institusi, satu fenomena atau satu kebijakan. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini ingin mengakui dan menonjolkan kekuatan alami manusia dalam proses mengalami, menafsirkan, dan memahami sebuah peristiwa. Sebagai sebuah studi kasus, penelitian ini tidak ditujukan untuk melahirkan standar yang dapat diulang (replicable) tetapi menghasilkan perspektif kritis mengenai situasi yang konsisten.

Awalnya saya menetapkan jumlah informan sebanyak sepuluh orang. Namun, pada saat pengumpulan data di informan ketujuh, saya mendapatkan inti dari informasi yang diberikan informan kerap berulang. Kemudian saya memutuskan bila informan selanjutnya memiliki pemikiran yang sama dengan yang lain maka ia akan menjadi informan terakhir. Alhasil ada 8 orang informan yang berpartisipasi dengan rincian:

  • mahasiswa perempuan jurusan fisika: 4 orang.,
  • alumni perempuan jurusan fisika: 2 orang,
  • mahasiswa jurusan farmasi dan biologi: 2 orang.

Saya mengikutsertakan empat orang mahasiswa perempuan fisika angkatan 2005 untuk mengetahui perbedaan karakter yang mungkin muncul dan tidak dimiliki oleh informan dari angkatan di atasnya. Hal itu saya lakukan karena di angkatan 2005 ini jumlah perempuannya lebih besar dari angkatan

sebelumnya di jurusan fisika. Di jurusan fisika sendiri, dari 38 dosen yang ada, hanya empat dosen perempuan. Jumlah itu yang paling kecil dibandingkan dengan jumlah dosen perempuan di FMIPA-UI (Lihat tabel 1) (Biro kemahasiswaan fisika, 2006; Biro Kepegawaian MIPA, 2005).

Secara umum, baik laki-laki maupun perempuan, lebih menyukai aspek aplikatif ilmu fisika sehingga bidang instrumentasi dan geofisika paling diminati oleh sebagian besar mahasiswa. Mereka menilai

paradigma ilmu untuk ilmu (science for science) tidak dapat membuat banyak perubahan dalam kehidupan manusia.

Hampir seluruh informan menilai perempuan cenderung pada aspek intuisi sementara ilmu fisika dan laki-laki diasosiasikan dengan aspek logika. Dengan membedakan karakter ilmu fisika dengan stereotipe perempuan, informan menganggap ilmu fisika, dan sains pada umumnya, “tercipta” sesuai dengan cara berpikir laki-laki.

Sementara itu, informan nonfisika melihat proses fisika tidak melibatkan intuisi karena baginya intuisi hanya dapat dibangun melalui kerja kelompok (teamwork). Informan memandang bahwa berkompetisi dengan lelaki memiliki nilai lebih tinggi dan jauh lebih menantang dibandingkan bersaing dengan sesama perempuan . Secara umum, jurusan fisika dianggap memiliki ruang lingkup pekerjaan yang sempit , baik itu untuk laki-laki atau perempuan, sehingga tidak menarik banyak mahasiswa untuk menekuninya. Bahkan mereka yang sudah masuk pun, banyak yang ke luar dan mencoba SPMB kedua.

Para pembelajar perempuan sains mengalami apa yang disebut Benokraitis dan Feagin (1995) sebagai supportive discouragement, yaitu diskriminasi terselubung berupa dorongan positif tetapi dengan masih mempertahankan pola stereotipe yang membatasi pilihan perempuan (encouraged but stereotyped). Hal yang sama dialami banyak perempuan di bidang lain di mana mereka sering didorong untuk maju sambil mengingatkan beratnya tanggung jawab gender mereka seperti pengasuhan anak, mengelola rumah tangga, dan lain-lain.

Penelitian ini menemukan bahwa cara pandang dominan yang diadopsi ilmu fisika telah menempatkan pola pembelajaran perempuan pada posisi yang rendah sehingga otoritas intelektual mereka tidak diakui setara. Otoritas sains yang sekarang diperoleh tidak melibatkan otoritas pengetahuan perempuan.

Alhasil, sedikit sekali perempuan yang memercayai intuisi dan perasaan mereka untuk menghasilkan solusi. Intuisi dan perasaan yang dipakai dalam pembelajaran berbasis pengalaman dinilai bagian dari subyektivitas yang harus diminimalisasi demi mencapai obyektivitas yang tinggi. Perempuan juga mengalami tekanan dari komunitas pelaku sains yang mayoritas adalah laki- laki. Sains oleh kelompok arus utama telah dijadikan cara menguatkan stereotipe gender daripada pendobrak mitos.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk membawa sejarah penemuan dalam pengajaran di kelas, tidak serta merta loncat pada penemuan besar dan momen di mana seorang ilmuwan mendapat pengakuan publik. Sains yang diajarkan sekarang makin terlepas dari ruh-nya karena terlalu fokus pada definisi. serta merekrut beberapa pendidik perempuan dalam fisika, tidak. Strategi ini diharapkan dapat mengubah cara pandang dominan untuk mengakui kesetaraan pembelajaran berbasis pengalaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s