Pengetahuan-Saya

Pindah “ibukota”


Ketika media ramai membicarakan wacana perpindahan ibukota Indonesia, saya sedang memikirkan perpindahan domisili dari Jakarta ke kota di luar Jakarta. Kalau yang satu itu bukan wacana lagi tapi sudah hampir kongkrit.

Sekitar seminggu yang lalu pasangan saya memberitahu keinginan dan keputusannya untuk pindah ke kota A. Tidak dalam waktu dekat, kemungkinan pertengahan tahun depan. Awalnya saya semangat. Saya selalu semangat untuk pindah ke tempat yang baru. Ada satu masalah. Biasanya saya bersemangat pindah dan hidup di suatu tempat karena niat saya berada di tempat itu memang hanya untuk jangka waktu pendek yaitu 1 atau 2 tahun. Kali ini, saya khawatir pasangan saya mengajak untuk hidup menetap (selamanya) di kota A. Memang iya sih :).

Alhasil saya menjadi tidak begitu bersemangat. Saya dapat mencari pekerjaan baru atau memikirkan kesibukan lain di kota A tetapi untuk membayangkan diri saya tinggal di kota itu selamanya…sulit. Jakarta adalah kota megalomania dengan berbagai keburukan dan kebaikannya. Saya mewarisi dan sudah beradaptasi dengan karakter megalomania itu. Tidak semua orang menyukai karakter itu dan biasanya muncul tanpa saya sadari. Bawaan orok, kata orang.

Kekhawatiran lain adalah dengan tinggal dekat keluarga besar, saya sangat yakin pertanyaan mengenai kapan punya anak, kenapa belum hamil, dan sejenisnya akan lebih mudah disampaikan. Walaupun sekarang saya sering mengatakan ke kawan-kawan bahwa “Gua nggak pake KB apa-apa, kalender juga enggak dan ternyata gak hamil”, intinya tetap sama, saya tidak berniat punya anak kandung. Hanya cara penyampaiannya yang saya ganti. Seolah-olah saya mengatakan, “Gua gak ada penyakit dan gak pake kontrasepsi, jadi kalo gua gak hamil jangan tanya ke gua, tanya aja ke Tuhan.”

Saya bukan seorang ekstrovert tapi saya merasa tidak ada masalah untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Saya orang yang cuek dan tidak suka memperhatikan apa yang dilakukan orang lain jika perbuatan itu tidak “unik”. I don’t think it will help me to gain new friendship.

Satu lagi dan sangat penting, saya mengidap sinusitis dan penyakit akut itu tidak cocok dengan cuaca di kota A. Bagaimana ini? Perlu waktu lama supaya tubuh saya dapat menyesuaikan dengan kondisi kota A.

Saya masih harus memikirkan apa yang akan saya lakukan di kota A itu. Saya berencana untuk mencari kerja di sana tapi itu tidak akan mudah. Saya harus menyesuaikan standar honor, gaya hidup, dan cara berkomunikasi. Saya tidak bisa bahasa Jawa, sedikit paham beberapa kata tapi dari pengalaman jalan-jalan ke Lumajang saya tahu itu tidak memadai. Selain di Jakarta, saya pernah tinggal di Probolinggo, Medan, dan Jogja. Tempat yang saya rasakan sebagai rumah masih Jakarta. Saya suka kota A tapi tempat itu masih belum menjadi “rumah”.

Saya perlu waktu mengenal kota A dan orang-orangnya. Masih menimang-nimang ide ini.

Jakarta, 8 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s