Pengetahuan-Saya

Tabib dan Kerbau


Kedua orang tua saya berasal dari sebuah desa di Kabupaten Sidoarjo. Tiga puluh tiga tahun yang lalu, bapak saya hijrah ke Jakarta. Selang dua tahun kemudian, ibu saya menyusul. Tiga puluh satu tahun kemudian keduanya pindah, balik ke Jawa Timur walaupun bukan ke desa mereka. Mereka sudah belajar dan menyesuaikan cara hidup dan cara berpikir yang dialami di dua tempat. Bagi saya, mereka unik.

Beberapa tahun belakangan, saya mulai berpikir untuk mengelola keuangan lebih baik. Saya berpikir untuk investasi. Saya ikut dalam sebuah asuransi unit link karena saya merasa memerlukan asuransi jiwa dan kesehatan. Saya sering pindah tempat kerja dan ketika berhenti kerja otomatis saya tidak diberi perlindungan asuransi kesehatan. Padahal, bekerja atau tidak, saya tetap memerlukan asuransi.

Saya mengamati kedua orang tua saya. Mereka memiliki ASKES. Tidak memadai memang kalau memerlukan perawatan yang kelas 1 dengan pelayanan dan pengobatan maksimal dalam waktu yang panjang. Mereka pun beralih ke pengobatan alternatif yang biayanya jauh lebih terjangkau dan pada banyak kasus berhasil mengatasi beberapa jenis keluhan dan penyakit. Untuk beberapa kasus, bahkan mereka lebih mengandalkan dukun atau tabib daripada polisi atau dokter.

Pada sisi itu, saya berpikir bahwa sebenarnya saya tidak memerlukan asuransi yang mahal. Saya bisa mengandalkan pengobatan alternatif. Namun, saya masih sulit percaya dan memanfaatkan pengobatan alternatif yang menggunakan tenaga dalam, kekuatan gaib, dan sejenisnya. Saya bukan orang tua saya yang masih punya dan pernah dibesarkan dengan sisi itu. Saya masih bisa percaya dengan pengobatan alternatif berbasis tanaman/herbal/jamu tetapi saya masih malas dan mungkin “kurang yakin” juga. Sometimes, I hate the way I think.

Balik pada soal investasi. Banyak referensi kaum perkotaan dan pelaku bisnis modern mengajukan investasi ke saham, pasar uang, dll. Orang tua saya memilih berinvestasi pada sapi dan kerbau. Tabungan mereka simpan di koperasi dengan bagi hasil yang jauh lebih tinggi dari bank modern. Khusus ibu saya, dia punya simpanan emas yang saat ini akan digunakan membeli kerbau. Saya jadi berpikir ulang mengenai bentuk investasi yang menguntungkan dan jelas komoditinya. Saham, deposito, obligasi, pasar uang; tidak jelas “barang”-nya. Saya bahkan khawatir bahwa saya tidak punya kontrol sedikitpun dalam siklus hidup “barang” itu.

Urusan makin runyam kalau “barang” yang tidak jelas itu diputar alias diperjualbelikan dalam jaringan yang panjang dan penuh kepentingan. Banyak yang ingin campur tangan dan berusaha melipatgandakan harga tanpa landasan yang jelas, dikatakan sebagai kepentingan pasar tapi pasar apa dan dimana.

Saya belajar beragam produk investasi dan tabungan, dan cara menyiasati tingginya biaya asuransi konvensional atau unit link dengan pengobatan alternatif. Semua kembali pada kemampuan saya mengombinasikan seluruh prosedur di atas sesuai dengan aset yang saya miliki.

Jakarta, 7 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s