Pengetahuan-Saya

Ideologi suka-suka


Mungkin sudah lima bulan terakhir saya melepas jilbab. Selama lima bulan ini saya memakai dan membuka jilbab sesuai keinginan hati. Ya, keinginan hati karena Tuhan sudah menciptakan keinginan hati dalam diri saya. Tidak lagi berhubungan dengan konsistensi atau istiqamah. Saat ini saya ingin melepaskan konsep atau prinsip itu.

Saya ingin menikmati kebebasan dan keistimewaan yang saya peroleh karena dalam waktu yang sama kelompok lain, dalam hal ini Ahmadiyah, sedang “dihukum” oleh ormas agama yang menganggap aliran tersebut sesat. Saya masih hidup di Jakarta, Indonesia dimana belum ada orang, ormas, atau kelompok lain yang memaksa saya untuk memakai atau melepas jilbab. Kondisi ini sungguh luar biasa! Mungkin karena saya tidak dianggap tokoh penting atau tidak dianggap mengancam “agama” tertentu sehingga saya dibiarkan bebas. Atau mungkin karena di Jakarta belum ada polisi syariah yang melakukan sweeping perempuan tidak berjilbab sehingga sejauh ini saya aman.

Kerasa sekali kalau segala yang dipakai atau tidak dipakai di tubuh perempuan sangat politis. Segala yang dipakai dan tidak dipakai biasanya dianggap mewakili seperangkat nilai dan ideologi. Memang benar tapi tidak otomatis begitu. Misalnya saya, dan mungkin tidak hanya saya, yang kadang pakai jilbab dan kadang tidak, mewakili ideologi apa ya?

Jakarta, 1 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s