Pengetahuan-Saya

Orgasme perempuan


Beberapa hari yang lalu beberapa teman berkumpul dan ada suatu bagian percakapan mengenai seorang perempuan yang sejak kelahiran anak pertama (atau kedua) tidak mau berhubungan seks dengan suaminya. Dia menolak dengan berbagai cara. Kita sepakat bahwa penolakan itu merupakan kekerasan psikis terhadap pasangan seksual namun kita belum mengetahui alasan perempuan itu. Ada yang menebak bahwa perempuan itu mungkin tidak pernah mengalami orgasme sehingga kita juga membahas tentang orgasme perempuan.

Seorang teman mengaku mengalami orgasme 80% dari seluruh hubungan seksualnya dengan suami. Saya sendiri belum cukup paham tentang orgasme, terutama orgasme perempuan. Bagi saya yang sudah mengalami kehidupan seksual, kepuasan seks sulit untuk diklasifikan sebagai orgasme dan non-orgasme. Saya punya beberapa tipe kepuasan tetapi saya tidak memeringkatkan bahwa satu kepuasan lebih tinggi dari yang lain sehingga saya tidak menomorsatukan orgasme.

Orgasme bagi saya adalah suatu proses dan pencapaian. Saya dapat mencapai orgasme jika ada komunikasi dan kesepahaman antara saya dan pasangan. Orgasme juga satu bentuk komunikasi non-verbal. Dia juga bisa menjadi pencapaian berupa kepuasan. Namun, saya merasa tidak harus terlalu keras mengejar orgasme sebagai kepuasan tertinggi.

Hubungan seks saya bisa menggairahkan tapi tidak orgasmic. Saya suka dengan pemanasan dan itu bisa membuat saya orgasme. Orgasme saya tidak otomatis berhubungan dengan hubungan seks vaginal. Bagi saya, klitoris punya posisi penting untuk mencapai orgasme sehingga menjadi penting untuk membuat suami memahami hal itu dan bersedia bahkan menyukai posisi yang merangsang klitoris.

Seks bagi saya penuh dengan komunikasi non-verbal. Ekspresi saya dan pasangan menjadi tolak ukuran kepuasan. Gerakan tubuh juga berarti sesuatu, keinginan, penolakan, dsb. Obrolan atau erangan saat bersenggama juga punya arti. Berhubung suami sering tanpa ekspresi jika sedang bersenggama, saya kadang merasa perlu bertanya apakah dia merasa enak dengan posisi yang sedang dilakukan.

Menurut saya, perempuan juga perlu mendefinisikan orgasme itu sendiri. Ada kemungkinan kebanyakan laki-laki mengaku mencapai orgasme karena definisi yang ada sekarang lebih berpihak pada kondisi kelamin dan orgasmic laki-laki. Perempuan baru bisa membuat definisi tandingan ketika mereka sudah memahami tubuhnya, memahami seksualitasnya, dan yang penting punya kebutuhan untuk memahami diri mereka sendiri. Jika konstruksi pengetahuan baru itu tidak diakui oleh sistem aliran utama maka sistem itu akan limbung dan rentan. It will not make a wonderful and peaceful ellipse that orbit the law of nature.

jakarta, 26 Juli 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s