Pengetahuan-Saya

ASEAN dan Hanoi


Hari 1 – 30 Juni
Hari ini saya berangkat ke Hanoi melalui Kuala Lumpur menggunakan Malaysia Airlines (MAS). Ini pengalaman pertama ke Hanoi dan menggunakan MAS. Menurut kawan-kawan seperjalanan, kualitas pelayanan Garuda jauh lebih baik daripada MAS tapi MAS jauh lebih baik dalam mengelola brand mereka. Saya tidak dapat berkomentar karena saya belum pernah menggunakan Garuda. Komentar mereka membuat saya penasaran dan berencana menggunakan Garuda. Maskapai negara sendiri masak gak pernah dicoba.

Transit di Kuala Lumpur selama 2 jam sebenarnya tidak menyenangkan dibanding di Changi, Singapura tapi menjadi sangat bermakna karena saya bertemu seorang kawan dari Jakarta yang menghadiri acara yang sama dan kami saling bercerita. Ketika mengetahui dia bekerja sebagai wartawan ekonomi di sebuah majalah bisnis terkenal di Jakarta, saya bertanya banyak hal terutama mengenai women enterpreneurship dan social enterpreneurship. Berhubung segmen pasar majalahnya untuk kelompok menengah ke atas, dia tidak banyak meliput tentang kewirausahaan perempuan kelompok gurem dan mikro. Namun, dia banyak berbagi pengalamannya sebagai wartawan perempuan, penghidupan perempuan, dan terakhir pada pengalaman sebagai penderita kanker payudara tahap awal.

Perkenalan dan obrolan kami jadi semakin seru. Dia lebih senior beberapa tahun dari saya dan orangnya sangat menarik. Kami saling bercerita mengenai pengalaman pribadi tentang harta dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dia mengatakan ada sebagian kawan-kawan perempuan dari generasinya yang menjadi korban KDRT baik psikis, fisik, dan penelantaran. Saya pun bercerita mengenai seminar yang dilakukan Prodi Kajian Wanita UI hari Senin yang lalu bekerjasama dengan Derap Warapsari dengan tema penanganan psikologis bagi kasus KDRT. Ada seorang kawan perempuannya yang akhirnya meminta cerai setelah lama mengalami kekerasan, awalnya kekerasan psikis kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik. Kemudian saya bercerita beberapa kasus, termasuk cerita dari seorang korban dan seorang paralegal di acara seminar kemarin, yang setelah perceraian dan diputuskan pengadilan mendapatkan hak asuh anak tetapi sampai sekarang belum berhasil menemui anak-anaknya yang dibawa mantan suami.

Obrolan kemudian berlanjut ke pribadi. Kawan baru saya itu bercerita bahwa dia sedang menjalani kemoterapi untuk mengobati kanker payudaranya. Sebelumnya dia sudah melakukan biopsi untuk mengeluarkan cairan dalam kista yang ada di payudaranya. Namun, berhubung lapiran kista itu dapat terisi kembali maka dia memutuskan untuk melakukan operasi untuk mengangkat kistanya. Operasi itu sendiri makan biaya sampai 80 juta. Seluruh pengobatan kankernya ditanggung oleh asuransi. Ini yang menarik. Dia mengambil paket asuransi khusus perempuan di Manulife dengan premi 500 ribu/bulan. Sementara dia juga punya asuransi lainnya.

Saya banyak mendapat informasi dari obrolan dengannya. Salah satu yang ingin saya lakukan ketika pulang ke Jakarta adalah melakukan mamogram untuk mengetahui kondisi rahim karena setiap bulan pada hari pertama menstruasi, saya selalu kesakitan.

Pada makam malam pembukaan saya bertemu teman lama, sesama alumnus Asia Source 3 dari Vietnam. Orangnya rame dan dia mengajak saya jalan-jalan keluar hotel setelah selesai makan. Kami berjalan sebentar kemudian balik ke hotel. Lalu lintas Hanoi sangat tidak aman dan kacau. Hampir sama dengan Jakarta tapi jauh tidak beraturan. Pengendara memotong simpang empat atau perempatan sesuka hatinya. Ajaib! Dengan kondisi lalu lintas seperti itu, selama di sana saya tidak menyaksikan sebuah kecelakaan. Tapi saya ngeri melihat lalu lintasnya.

Sepulang dari jalan-jalan, saya mampir sebentar ke kamar kawan saya tadi. Dia bekerja di sebuah ornop dari Belanda yang sudah bekerja di Vietnam selama 40 tahun di bidang kesehatan masyarakat. ornop itu sudah berada di Vietnam saat perang berlangsung menyediakan bantuan medis ke kelompok marjinal. Kawan saya, dipanggil Huen, bercerita mengenai kondisi ornop di Vietnam yang pemerintah komunisnya masih kuat. Ornop lokal masih sedikit dan lambat berkembang. Ornop asing tetap dituntut mengikuti birokrasi pemerintahan yang panjang dan kaku. Pemerintah menila mereka sudah memberi yang terbaik ke masyarakat sehingga ornop dianggap tidak diperlukan. Kami sempat mendiskusikan mengenai perdagangan perempuan dan anak perempuan di wilayah perbatasan Kamboja dan Vietnam.

Malam semakin larut dan saya kembali ke kamar saya sendiri.

Hari 2 – 1 Juli
Pertemuan plennary “Regional Integration in Southeast Asia” dimulai. Isi plennary ini membuka mata peserta mengenai banyak hal terutama konsep dan tujuan yang ingin dicapai pihak penyelenggara. Inwent adalah lembaga Jerman yang fokus pada peningkatan kapasitas. Pertemuan ini secara tersirat diadakan sebagai upaya need assessment untuk melihat isu dan strategi yang berkembang di wilayah SEA (Southeast Asia). Peserta berasal dari 6 negara SEA: Indonesia, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Kemudian ada beberapa negara lain seperti Australia, Cina, Korea, dan Malaysia yang ikut dengan 1-2 orang peserta. Malaysia dan Singapura tidak menjadi bagian dari Inwent karena saya dengar mereka sendiri yang tidak tertarik.

Tema yang diusung penyelenggara mengarah pada upaya membantu penyatuan SEA sebagai komunitas bersama seperti European Union (EU). Panelis yang hadir hari ini banyak membahas pengalaman Eropa selama proses menuju EU. Seorang panelis dari Filipina yang diminta mewakili kelompok ornop menjabarkan tantangan dalam integrasi kawasan SEA. Namun panelis dari EU mengatakan bahwa mereka telah mengetahui tantangan tersebut dan mendorong SEA untuk menemukan pola mereka sendiri yang sesuai.

ASEAN selama ini hanya menjadi forum silahturahmi antar negara. Kesepakatan yang dilahirkan pun kebanyakan tidak mengikat dan anggota yang melanggar tidak akan mendapat sanksi yang jelas. Hal itu dikarenakan kebijakan non-intervensi yang disepakati anggota ASEAN. Jerman dan EU sepertinya melihat potensi yang besar dari ASEAN jika integrasi kawasan yang sebenarnya dapat terwujud. Integrasi kawasan akan mencakup integrasi kebijakan ekonomi, integrasi keamanan, dan integrasi peradilan. Namun, tantangannya adalah mengantisipasi beberapa dampak negatif yang akan muncul mengingat negara ASEAN tidak memiliki kebijakan social security untuk melindungi warga negara mereka yang tidak mampu bersaing dalam pasar bebas.

Hari 3 – 2 Juli
Masih berdiskusi, plus plennary. Plus evaluasi, plus makan malam di luar hotel. Hari pertama menstruasi pula. Badan meriang.

Hari 4 – 3 Juli
Pulaaaang ke Jakarta.

Advertisements

One thought on “ASEAN dan Hanoi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s