Pengetahuan-Saya

“Terobsesi gambar porno”?


Di milis Jurnalisme, ada anggota yang mengirimkan artikel dari detikNews (18/5) mengenai tertangkapnya Mochamad Davis Suharto (30) alias Davis ‘Codet’ yang telah memperkosa beberapa anak di Bali. Di artikel itu dijelaskan bahwa alasannya melakukan pemerkosaan adalah karena terobsesi gambar porno. Saya bisa memahami bahwa wartawan detikNews itu mengejar deadline sehingga menulis berita yang seadanya, mengungkap informasi hanya di permukaan, dan tanpa analisa sama sekali. Berita macam ini tentu tidak bisa menjadi rujukan baik itu untuk pengetahuan umum apalagi ilmiah. Sayangnya banyak orang yang tidak memiliki kepekaan dan perspektif gender untuk mengkritisi berita yang muncul di media massa.

Saya ingin menekankan bahwa berita itu perlu dilihat kembali oleh (polisi) penyidik dan masyarakat. Banyak sekali orang yang saya tahu pernah melihat gambar atau film porno, sebagian lagi bahkan sangat menyukai gambar porno. Pada tahap itu mereka tidak melakukan kekerasan seksual karena berbagai alasan, mungkin rasa empati terhadap orang lain masih cukup kuat, rasa takut terhadap agama atau norma sosial masih kuat, dan mempertimbangkan konsekuensi hukum. Obsesi dalam Longman Dictionary berarti an extreme unhealthy interest in something or worry about something, which stops you from thinking about anything else.

Sepertinya pelaku bukan terobsesi pada gambar porno melainkan pada “kepuasan” yang diperoleh selama atau setelah melakukan hubungan seks yang digambarkan. Pada posisi itu dia tidak memikirkan bahwa apa yang memuaskannya justru merugikan dan melanggar hak orang lain. Dia tidak memikirkan hal lain yang dapat mengalihkannya dari obsesi tadi, hanya fokus pada keinginannya.

Banyak orang termasuk saya yang beberapa kali melihat gambar dan film porno tidak kemudian menjadi terobsesi pada kepuasan seks, terutama jika hubungan seks itu dilakukan dengan tipu daya, pemaksaan dan merugikan orang lain. Gambar atau film porno adalah objek pasif yang harus diartikan oleh manusia yang melihatnya. Obsesi Davis terhadap gambar pornolah yang menjadi sumber kejahatan, bukan gambar itu sendiri. Dengan “menyalahkan” gambar porno sebenarnya pelaku ingin melepaskan tanggung jawab terhadap kejahatannya. Atau jika membaca kasus perkosaan lain, pelaku ingin “membenarkan” dorongan seksual maskulinnya dengan menyalahkan korban yang memakai rok pendek atau kaos ketat.

Pembaca juga perlu melihat bahwa hampir semua korban Davis adalah anak-anak. Apakah benar dia terobsesi pada gambar porno atau secara spesifik terobsesi pada hubungan seks dengan anak-anak? Apakah mungkin dia melihat korban anak-anak lebih mudah diperdaya dan dapat diteror sehingga takut melapor?

Penulisan liputan media terhadap kasus kekerasan seksual umumnya menguatkan stereotipe dan bias gender dalam masyarakat pembacanya, terutama media yang mengejar kecepatan dan bertujuan menarik minat pembaca awam. Penguasaan perempuan terhadap media, termasuk cara-cara menulis, menjadi penting untuk mengkritisi cara pandang itu melalui pengalaman khas perempuan. Jika tidak maka masyarakat hanya memahami perempuan dari sudut pandang laki-laki yang sangat bias.

Jakarta, 19 Mei 2010

Advertisements

One thought on ““Terobsesi gambar porno”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s