Pengetahuan-Saya

Bertahan sambil Membangun Kekuatan


Dalam tulisan saya terdahulu, saya menyinggung mengenai kekerasan dalam rumah tangga dan hambatan yang dialami perempuan untuk keluar dalam lingkungan tersebut. Kali ini saya mencoba memaknai beberapa pengalaman dan strategi perempuan yang bertahan dalam perkawinan dengan kekerasan dari sudut pandang mereka.

Ada beberapa bentuk KDRT. Sebagian perempuan merasa cukup kuat menghadapi kekerasan psikis daripada kekerasan fisik. Dari pengamatan saya, perempuan terus-menerus menimbang dampak baik dan buruknya berada dalam sebuah perkawinan bagi dirinya dan keluarganya. Sebagian perempuan yang mengalami kekerasan psikis memilih bertahan dalam perkawinan mereka. Alasan yang dikemukakan antara lain:

  • pertimbangan bahwa mengurus administrasi perceraian akan sulit dan justru menguras energi, uang, dan emosi mereka,
  • merasa sudah berusia lanjut (usia mereka di atas 50 tahun dan usia perkawinan lebih dari 25 tahun),
  • memiliki strategi teruji untuk lepas sementara dari tekanan hubungan yang merendahkan harga diri mereka,
  • sudah membangun “basis pendukung” dari keluarga dekat dan kawan-kawan,
  • terlanjur beradaptasi dengan lingkungan dan status yang dimiliki.

Selain itu, anak-anak mereka sudah dewasa sehingga mereka mulai memiliki keberanian untuk melakukan “pemberontakan kecil”. Misalnya dengan pergi ke suatu tempat tanpa izin bahkan tanpa diketahui suami kapan akan kembali, berbelanja dengan uang sendiri dan “memamerkan” ke suami, mengurus cucu yang tinggal di luar kota dalam waktu yang lama, membantu mengurus keponakan atau saudara yang punya anak kecil, mengikuti arisan atau reuni, wirausaha kecil-kecilan, dll. Cara-cara itu adalah strategi mereka untuk menjaga jarak dengan konflik atau kekerasan yang terjadi dalam keluarga. Dengan menjaga jarak, mereka menjaga kesadaran.

Mereka bersikap pragmatis dengan beberapa pertimbangan. Mereka berpikir bahwa perceraian kemungkinan besar tidak akan membuat hidup mereka lebih baik. Jika mereka yang menggugat cerai terlebih dulu, mereka kemungkinan tidak mendapatkan simpati keluarga dan kawan. Mereka mungkin tidak mendapat harta gono-gini walaupun hukum mengatakan sebaliknya. Mereka mungkin menilai bahwa berstrategi dari awal akan lebih sulit dibandingkan berstrategi dari kondisi yang sekarang. Sepertinya itu yang saya tangkap dari beberapa perempuan.

Beberapa perempuan semakin kuat untuk bertahan ketika melihat suami/pasangannya sakit-sakitan, tidak aktif dalam pergaulan sosial, tidak sabaran dan tidak tahu jalur mengurus administrasi kependudukan, dan tidak mengetahui gosip mutakhir. Ketika suami/pasangan sakit-sakitan, istri merasa cukup leluasa. Ketika suami tidak aktif dalam pergaulan sosial di tempat tinggal sehingga tertinggal gosip, istri merasa punya kekuatan informasi.

Dalam suatu pertemuan yang membahas mengenai UU P-KDRT, saya mendengar bahwa masih banyak perempuan yang tidak berani untuk meneruskan kasus mereka ke pengadilan. Perempuan merasa tidak siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi. Dari pengalaman di atas, saya melihat bahwa seperti itulah keadaan yang terjadi tapi bukan berarti perempuan pasrah menjadi korban melainkan mereka menciptakan berbagai strategi untuk bertahan dan menguatkan sumber daya mereka (emosi, dukungan keluarga, dan harta) bagi keberlangsungan hidup mereka dengan atau tanpa suami. Mereka mengamati peta kekuasaan dalam keluarga untuk menentukan langkah.

Selain kurangnya kemandirian ekonomi perempuan, seringkali keluarga terdekat tidak menghendaki perpisahan atau perceraian. Belum lagi pandangan masyarakat dan kelompok agama. Pada kondisi seperti itu, perempuan merasa perlu berhati-hati membuat keputusan. Saya menghargai energi dan emosi yang mereka curahkan selama proses bertahan dan melanjutkan hidup. Banyak perempuan yang menemukan kekuatan dengan mendalami spiritualitas baik melalui agama maupun komunitas kecil lain. Spiritualitas dapat mendorong seseorang melihat kekuatan dalam dirinya untuk berbuat sesuatu.

Jakarta, 20 April 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s