Pengetahuan-Saya

Beradaptasi dalam Siklus Kekerasan


Saya selalu teringat pada ucapan seorang laki-laki yang pernah berkorespondensi dengan saya. Dia mengatakan kurang lebih begini: “perempuan sepertinya punya kecenderungan sadomasokis, menyukai penyiksaan, karena mereka mau terus bertahan dalam relasi yang penuh dengan kekerasan. Mereka tidak berontak atau meminta cerai.” Pernyataannya membuat saya “panas”. Hanya waktu itu saya belum mampu memberi kerangka pada pengalaman saya mengenai kekerasan. Saya juga belum serius menekuni isu tersebut. Saya hanya mengatakan padanya bahwa pengalaman perempuan berbeda dari laki-laki dan sistem patriarki sangat kuat berperan di dalamnya.

Ucapan orang di atas itu sangat memukul saya. Saya berpikir bukan hanya dia yang berpikir seperti itu, sebagian perempuan mungkin berpikir yang sama bahwa perempuan secara tidak sadar menikmati penderitaan yang mereka alami. Saya berusaha mencari tambahan pengetahuan untuk bisa memahami kekerasan dan dampaknya. Saya terkejut bahwa kekerasan bersifat multi dimensi tidak hanya ke perempuan tetapi juga ke lingkungan yang lebih besar. Apalagi jika kekerasan itu dilakukan secara terorganisir dan struktural dalam sebuah negara.

Saya juga belajar mengenai siklus kekerasan sehingga mendapat titik terang mengenai ihwal lahirnya UU Penghapusan KDRT. Saya pun dulu tidak mengerti mengapa perlu ada UU seperti itu. Saya rasa kalau manusia mampu memanusiakan orang lain, UU anti kekerasan tidak perlu ada. Namun, dalam relasi jender dan kelas yang semakin kompleks, hal itu sulit terwujud sehingga diperlukan berbagai perangkat hukum bersifat spesifik untuk menangkap masalah relasi antar jender yang berkembang.

Dari pengalaman pribadi, saya sekarang dapat mengatakan bahwa perempuan bukan sadomasokis (menikmati perilaku seks yang sadistik dan masokistik) dan tidak menikmati relasi jender yang berbasis kekerasan. Perempuan memiliki seperangkat “pembenaran” sebagai hasil adaptasinya untuk bertahan dalam konflik dan siklus kekerasan. Adaptasi tersebut dilakukan dalam waktu yang panjang dan selalu di bawah tekanan dan, sangat mungkin, rasa takut. Ungkapan memaklumi kekerasan dan bernada putus asa seperti /tidak mungkin berpisah, sudah terlanjur, masih bisa bertahan, dikuat-kuatkan, demi anak, demi nama baik, biar Tuhan yang membalas, sudah biasa, dll/ menjadi ungkapan khas para korban. Konsep “korban” juga bukan melulu kelompok yang tidak memiliki akses atau sumber daya. Ada sebagian kecil korban yang memiliki harta atau penghasilan sendiri dan memiliki akses ke informasi pengaduan tetapi memilih untuk diam atau bertahan dalam relasi kekerasan.

Para korban dikondisikan oleh orang dekat (bapak, suami, paman, bibi; bagian dari keluarga inti atau keluarga klan) untuk masuk dalam struktur patriarki dan melanggengkan relasi kekuasaan laki-laki yang menjadi poros utama. Ketika pelaku kekerasan yang biasanya orang terdekat korban melakukan kekerasan (psikis, fisik, ekonomi) dan korban masih bertahan di sisinya, pelaku merasa di atas angin dan terus memelihara manipulasi psikis korban untuk berada di sisinya apapun yang terjadi. Saya rasa kekerasan bukan sesuatu yang tidak disengaja atau terjadi di luar kendali pelaku, melainkan sudah dipelajari, dikuatkan, dipraktekkan, dan ditularkan ke orang lain.

Kekerasan terjadi karena seseorang memiliki informasi dan memahami relasi kekuasaan antara dia dan orang di sekelilingnya. Orang tersebut memiliki pilihan untuk memanfaatkannya untuk berbagai tujuan. Kekerasan bagi sebagian orang adalah bahasa yang mereka pahami untuk menyampaikan suatu pesan. Mereka mungkin merasa dengan cara itu pesan dapat dipahami atau dipaksakan ke orang lain.

Kekerasan psikis dianggap sebagian orang tidak berbahaya dibanding kekerasan fisik. Padahal kekerasan psikis merusak sisi psikis korban dan orang-orang di sekitarnya. Kepercayaan diri mengeropos dan seakan ada dinding tebal yang tidak bisa ditembus telah mengelilinginya. Perlahan tapi pasti korban merasa takut, tidak berdaya, dan tidak berharga untuk menjadi dirinya sendiri. Segala kesalahan pelaku dianggap sementara dan maaf diberikan tanpa syarat. Pelaku terus memutar siklus kekerasan dan memanipulasi emosi korban. Dalam jalinan konteks dan relasi kekuasaan seperti itulah perempuan dikondisikan, bukan memilih secara mandiri, untuk bertahan.

Ketika perempuan akan memilih “jalan lain”, komunitas dan orang terdekatnya akan mengingatkan mengenai resiko yang akan dihadapi. Tidak terhitung laporan korban KDRT ke kepolisian yang kemudian ditarik kembali karena korban dan keluarganya merasa tidak siap dengan konsekuensinya. Sisi ini pun tampaknya diperhitungkan oleh pelaku kekerasan.

Sebagian orang bisa jadi heran mengapa seorang korban dapat bertahan pada awal-awal hubungan, ketika gejala kekerasan muncul. Seorang narasumber mengatakan bahwa pada awal-awal dia merasa ada harapan bahwa nantinya akan ada perubahan. Harapan itu dipeliharanya terus walau kenyataan berkata lain. Kehadiran anak justru dipahami sebagai beban untuk bertahan daripada keluar dari lingkaran kekerasan.

Tulisan ini sekadar usaha memberi kerangka pada pengalaman saya dan keluarga menghadapi lingkaran kekerasan. Saya belajar banyak dan berharap tulisan ini dapat membantu perempuan lain untuk melihat kondisi mereka dari sudut pandang orang lain. Salah satu hak asasi manusia yang paling saya ingat adalah hak untuk bebas dari rasa takut. Raihlah hak itu!

Jakarta, 7 April 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s