Pengetahuan-Saya

ke-tuhan-an


Awalnya, saya merasa digelitik dengan status facebook Soe Tjen Marching yang menulis: /Bila tuhan mendiskriminasi perempuan, LGBT, atau kelompok lain, mengapa kita tidak bisa mengganti tuhan tersebut?/

Kemudian ada sebuah respon yang menulis: “Masih percaya dengan tuhan?”

Saya jadi ingin melanjutkan tulisan saya mengenai tuhan dan agama. Saya pernah membaca bahwa agama hadir untuk mensejahterahkan manusia secara spiritual. Namun saya pernah juga mendengar dan menyimpulkan bahwa agama sendiri merupakan bentuk institusionalisasi tuhan ke dalam sebuah sistem budaya yang sudah ada jauh sebelumnya.

Selama hampir 31 tahun hidup saya di dunia, saya mengenal dan diajari mengenai tuhan dari lingkungan saya. Dari hasil interaksi dengan budaya patriarki dan pemahaman lingkungan terhadap tuhan maka tadinya saya menggambarkan tuhan sebagai suatu sosok mirip laki-laki, seorang makhluk, suatu wujud dari kekuasaan yang tidak terbatas. Tuhan terlanjur identik dengan kekuasaan bahkan kekerasan. Manusia terlanjur memahami kekuasaan sebagai bentuk kekuatan tertinggi yang sangat dihargai dan diagungkan, karena hakikat kekuasaan terlanjur dimaknai sebagai pengendalian terhadap makhluk hidup lain. Sebenarnya hakikat pengendalian terhadap orang lain itulah yang diagungkan, bukan tuhan itu sendiri.

Kekuasaan yang dipahami secara manusiawi tadi tanpa disadari menyempitkan dan menyembunyikan keindahan tuhan. Manusia pun berlomba-lomba menjadi seperti tuhan yang dipahaminya. Berbagai agama mengklaim karakter tuhan yang mereka pahami berdasarkan kitab suci yang dipercaya sebagai mukjizat dari tuhan. Namun makna karakter itu sering hilang entah kemana ketika masing-masing agama, tempat tuhan di-tuhan-kan, bertanding klaim bahwa agama dan tuhan di dalamnya adalah yang paling benar.

Meskipun diakui bahwa tuhan ada dimana-mana bahkan di diri setiap manusia, tuhan masih ditempatkan di atas dan di depan karena posisi itu yang dianggap terhormat oleh manusia. Tidak ada masalah, sampai kemudian posisi yang di tengah, di pinggir atau di belakang dinomorduakan. Posisi yang tadinya cuma mengatur barisan dalam suatu prosesi menjadi sub-struktur. Agama menjadi sangat padat dengan berbagai sub-struktur yang secara tradisi menyatu dengan dirinya.

Bukan salah manusia jika mereka kemudian merasa tidak puas dengan agama dan sub-struktur di dalamnya sehingga pindah ke lain “hati” atau sekte atau aliran spiritual lain. Lagipula mereformasi agama bukan perkara mudah. Mungkin mereka tidak nyaman dengan cara sekelompok manusia mengelola tuhan dan agama. Namun pola yang dikembangkan sebenarnya serupa karena masih fokus pada “kekuasaan tak terhingga” yang manusiawi dan duniawi.

Doktrin agama mengenai “kekuasaan tak terhingga” menuntut kepasrahan dari pengikutnya untuk berserah diri. Segala yang di dunia bukan milik manusia melainkan milik tuhan sehingga harus dikelola dengan “cara-cara tuhan”. Namun “cara-cara tuhan” masih dihadapkan dengan realitas perubahan zaman. Belum lagi tuhan agama samawi seringkali dianggap bermusuhan atau berbeda posisi dengan dewa-dewi yang di-tuhan-kan oleh komunitas tradisional. Kepasrahan ini kadang dianggap sebagai bentuk ketaatan, ketakutan, kecintaan sehingga menabukan interpretasi dan sejenisnya yang dapat mengotori kemurnian tuhan. Doktrin kepasrahan juga diadopsi oleh sekte atau aliran spiritual.

Saya juga sering melihat dan ikut mempratekkan kompromi dalam beragama. Kompromi tentang jadwal ibadah, tentang mendengarkan dan mematuhi ulama, tentang kebohongan, tentang uang, dll. Kompromi berke-tuhan-an juga kadang dilakukan orang-orang di sekeliling kita. Jadinya kita ber-tuhan A tapi tuhan-tuhan lain yang kita agungkan juga banyak. Saya tidak melihatnya sebagai kesalahan tapi sebagai cara manusia ber-tuhan. Kalau dianggap tidak konsisten, rasanya manusia masih konsisten dengan ke-tuhan-an mereka dan kesukaan terhadap kekuasaan tak terhingga.

Dalam perjalanan, gambaran saya mengenai tuhan perlahan berubah. Saat ini, tuhan tidak lagi suatu sosok atau makhluk. Tuhan bagi saya sama dengan kekuatan yang indah, bukan pemaksa, dan kayaknya tidak norak seperti saya. Tuhan bagi saya adalah keseimbangan. Ya, saya percaya Tuhan.

Jakarta, 24 Maret 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s