Pengetahuan-Saya

MInggu Pagi


Minggu pagi. Semua pekerjaan domestik sudah diselesaikan. Menyapu dan mengepel dijadwalkan besok. Cuci baju, menjemur, cuci piring, sarapan sudah selesai. Ngapain lagi? Perut sempat mules, nongkrong di kamar mandi tapi nggak keluar apapun. Bad Mood!

Akhirnya setelah mandi, mengemas netbook dalam tas, memberi informasi ke pasangan kalau saya mau keluar, mengeluarkan motor dan ke kampus UI Depok. Awalnya saya memutari kampus UI dan melihat kondisi paling baru. Seperti biasa, kalau hari Minggu banyak masyarakat di luar UI yang datang untuk berwisata gratis. Beberapa jalan akses ke kampus ditutup. Alhamdulillah, parkiran kampus FISIP masih buka. Saya parkir di sana lalu menuju taman di depan lobby FIB. Baru beberapa saat, perut saya mules. Hem, jam segini baru mau keluar? Ngapain aja lo dari tadi ditongkrongin?

Cari toilet yang buka di FIB nggak ada hasil. Toilet dikunci. Mushola pun ditutup. Duh, gimana lagi nih? Pencarian dilanjutkan ke FISIP. Seingat saya di dekat kantin ada toilet. Nah, ternyata kantin itu sedang direnovasi dan toilet juga menghilang. Bagus bener! Iseng, saya mencoba mushola FISIP di bagian perempuan. Akses ke wastafel terbuka tapi pintu WC dikunci. Salah satu dikunci dengan gembok. Saya lihat gemboknya kok mirip dengan gembok motor saya ya? Lalu saya keluarkan kunci motor dan mencoba kunci gemboknya. Berhasil! Alhamdulillah, Tuhan tidak menginginkan saya mules sampai siang sehingga memberi jalan. Saya buka kran air, hidup! Horeee! Dengan tenang saya buang hajat besar. Sebentar kok, beneran.

Setelah selesai, saya pasang lagi gembok pintu tapi berhubung susah dikunci, saya biarkan saja menggantung. Duh, senang sekali bisa mengeluarkan apa yang seharusnya dikeluarkan pada tempatnya. Setelah itu, saya duduk di depan toko buku Bloc di FISIP dan mulai mengetik cerita ini. Kalau kampus tenang seperti sekarang, saya masih bisa mendengar suara kereta api lewat di kejauhan. Saya suka suara roda kereta api yang bergesekan di relnya.

Hari ini saya “melarikan diri” dari kontrakan karena sulit sekali menulis di dalam kamar. Kalau pekerjaan domestik sudah selesai, saya biasanya mencari buku untuk dibaca, online di internet, atau menulis. Membaca di atas kasur busa tidak menyenangkan. Saya tidak memasak. Kompor gas belum bisa dipakai karena entah regulatornya atau mulut tabung gas yang tidak jodoh sehingga sulit dipasang. Memasak dengan kompor listrik yang kecil cukup lama, kecuali untuk masak mie atau nasi. Biasanya saya membeli masakan siap saji dan masak nasi sendiri. Saya dan pasangan belum punya TV tapi paling tidak ada radio mini lungsuran dari bapak sebagai hiburan.

Sebenarnya ada banyak macam hiburan dan wisata murah meriah. Walaupun kecenderungannya, hiburan dan tempat wisata murah bahkan gratis semakin terbatas karena infrastruktur dan keamanan memerlukan biaya. Saya termasuk orang yang memerlukan lokasi dengan ruang pandang cukup luas ketika menulis. Rasanya enak pas mau ngelamun atau berpikir lalu melemparkan pandangan jauh ke depan dan ke samping tanpa bertabrakan dengan tembok, triplek, komputer, dsb. Ruang terbuka seperti itu semakin minim. Kalaupun ada maka aksesnya terbatas untuk publik yang bermukim di suatu kompleks perumahan.

Berhubung saya belum mampu membeli rumah sendiri, saya harus menerima kondisi yang ada dan mencari strategi mengatasinya. Salah satunya dengan datang ke kampus UI dan memilih tempat yang saya kenal dan nyaman dengan lingkungannya.

Depok, 21 Maret 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s