Pengetahuan-Saya

Perpustakaan bagi generasi Milenium


oleh Niken Lestari

Generasi milenium adalah generasi yang tumbuh di tengah perkembangan komunikasi internet, telepon selular dan industri media teknologi informasi, salah satunya industri games online. Biasanya istilah ini diberikan kepada mereka yang lahir pada periode tahun 1981-1995. Saya termasuk generasi tanggung karena lahir tahun 1979. Selain ditandai penggunaan intensif komunikasi maya dan konsumsi perangkat komunikasi, generasi ini juga ikut merasakan kekerasan global berbasis agama yang kemudian akrab dengan sebutan terorisme. Meskipun generasi millenial fasih berinteraksi di dunia maya tapi bukan berarti mereka langsung memahami dan mengendalikan pola hubungan yang terjadi di dalamnya. Awalnya, generasi milenium naif dalam melihat karakter manusia dalam dunia maya. Namun melalui pengalaman, mereka belajar sehingga menjadi lebih arif dalam menangkap pola dan rambu-rambu hubungan virtual.

Pengalaman yang sama terjadi pada saya yang mengenal internet ketika berusia 19 tahun. Namun, perkenalan dengan internet bukan sesuatu yang sangat mengagetkan karena semasa SMA saya mendapatkan pelajaran mengenai komputer dengan sistem Microsoft DOS. Tahapan perkenalan dengan komputer menjadi jembatan penting menuju kehidupan di “alam lain” yang semakin luas dan “buas”. Maksud “buas” di sini karena saya belum mengetahui, sehingga tidak dapat mengantisipasi, apa saja yang ada di dalam internet dan mengapa “dia” bisa ada di sana.

Kekuatan dan daya tarik internet semakin besar karena beragam media, mulai dari musik sampai video, terpasang di dalamnya dan bebas untuk diakses pengguna. Internet tidak dapat membedakan usia, tingkat kematangan, atau kemampuan dari penggunanya. Dengan begitu, seluruh pengguna, tidak terkecuali, dianggap sebagai individu dewasa yang mampu bertanggung jawab terhadap dampak pikiran dan tindakannya. Pada saat yang sama saya sadar bahwa di sanalah masalah pendidikan yang dihadapi bangsa kita.

Kasus penculikan, penipuan, dan hipnotis anak-anak dan remaja perempuan oleh kenalan facebook mereka yang terakhir marak diangkat media, menunjukkan PR lanjutan pendidikan literasi informasi. Kita mengetahui bahwa anak-anak sangat cepat menerima perubahan. Mereka memiliki rasa keingintahuan yang besar dalam proses memaknai apa yang terjadi di sekitarnya. Di satu sisi, mereka bodoh karena belum punya banyak pengalaman. Di sisi lain, orang tua bersikap naif jika berpikir anak-anak tidak tahu mengenai banyak hal yang barangkali tak pernah diperkirakan sebelumnya.

Dalam proses memahami fungsi teknis aplikasi yang tersedia di internet maka mereka perlu berkomunikasi dengan orang lain. Dengan cara itu mereka baru dapat memahami cara mengirim lampiran, mengirim email ke banyak orang, melakukan chatting, mengirim SMS, mengaktifkkan speed dial (di HP), menggunggah foto di jejaring sosial, dll. Komunikasi mereka pun tidak terbatas pada teman di sekolah karena mereka pasti penasaran untuk berinteraksi dengan orang di luar lingkungannya. Ada kenikmatan sendiri ketika mereka menggunakan anonim untuk berkomunikasi secara intim dengan orang yang dikenalnya.

Saya sendiri punya pengalaman pribadi menjalin hubungan anonim melalui internet. Bagi mereka yang baru memiliki email atau HP, biasanya akan senang kalau mendapat email atau SMS dari orang lain. Saya merasa “ada”. Pada masa-masa awal, saya bereksperimen dengan berbagai macam orang dari berbagai tempat, negara, dan latar belakang. Semua saya lakukan tanpa pengawasan karena kedua orang tua tidak paham tentang internet. Saya belajar sambil menggunakan. Pertanyaan yang muncul adalah apa yang menjadi kebutuhan informasi generasi millenial ini? Apakah kebutuhan itu sudah ditangkap dan secara bertahap dipenuhi oleh orang tua, guru, dan perpustakaan sebagai lembaga yang mendampingi mereka?

Sejenak saya kembali ke tahun 1997. Saat masuk UI, saya sempat mendapat orientasi memakai perpustakaan yaitu pendidikan pemakai yang cukup membantu proses menemukan informasi yang telah terstruktur. Pendidikan formal di Jurusan Ilmu Perpustakaan semakin membuat saya tertarik mempelajari dan menekuni pencarian informasi di dunia virtual.

Generasi saya dan sesudahnya merasa terbantu dengan keberadaan internet karena memberi alternatif sumber dalam memenuhi kebutuhan informasi. Namun perkembangan isi dan teknologi yang cepat serta sebagai media yang berbayar, internet dan integrasinya dengan berbagai perangkat memiliki kekuatan dan kelemahan jika dibandingkan perpustakaan.

Internet sekarang dapat diakses melalui telepon selular. Berbagai jaringan sosial online menjadi “mudah” diakses dengan biaya yang semakin terjangkau oleh remaja atau anak sekolah. Internet unggul dalam soal kecepatan berkomunikasi dan bertukar informasi pada saat-saat tertentu. Ruang penyimpanan informasi secara fisik tidak memerlukan tempat yang besar. Dengan karakter tersebut, internet membuka peluang yang besar baik untuk hal yang positif maupun negatif.

Ada banyak hal positif dari internet yang dapat diperoleh pengguna. Mulai dari berbelanja secara online, kampanye politik, menjalin relasi bisnis, memperluas jaringan teman, konsultasi pendidikan, dan lain-lain. Namun semua itu dapat dilakukan jika pengguna sudah memahami cara “bermain” di “rimba” media elektronik.

Kelemahan dari internet adalah belum semua wilayah telah dijangkau oleh sambungan yang memadai. Tanpa sambungan yang cepat, pengguna akan merasa waktu selama 1 jam terbuang percuma karena sedikit sekali informasi yang peroleh. Belum lagi, proses memilah perolehan informasi di internet memerlukan alat bantu berupa komputer untuk membaca dan menilai kembali kesesuaian informasi yang diperoleh dengan informasi yang diinginkan. Sebagian masyarakat mungkin tidak memiliki komputer pribadi atau akses yang rendah ke warung penyewaan komputer.

Banyaknya informasi yang ada di internet bisa disikapi sebagai satu kekuatan dan kelemahan sekaligus. Kekuatan jika pengguna kritis terhadap informasi dan memahami karakter media internet. Kelemahan jika pengguna mudah terbawa oleh informasi di luar kebutuhannya dan dibanjiri iming-iming penjualan (spam).

Dalam kondisi seperti itu, literasi informasi penting dimiliki oleh calon dan/atau pengguna media baik elektronik maupun konvensional. Banyak pihak dapat memberikan literasi informasi kepada komunitas yang mereka dampingi misalnya pihak sekolah, LSM media, asosiasi media, dan tidak lupa perpustakaan melalui pustakawan mereka yang sehari-hari berinteraksi dengan pengguna. Di sinilah perpustakaan dapat memainkan posisinya untuk melayani pengguna generasi milenium. Perpustakaan baik yang ada di institusi pendidikan maupun non-pendidikan perlu menyediakan layanan yang dapat menangkap “kebutuhan” pengguna bahkan sebelum pengguna itu mengenali atau mengatakan kebutuhannya.

Mengingat sambungan internet yang cepat, stabil, jangkauan luas dan harga murah masih belum menjadi kenyataan, maka perpustakaan sebaiknya menyediakan layanan internet murah ke penggunanya. Layanan itu dapat meminimalkan kesenjangan digital di beberapa wilayah pedesaan dan di komunitas miskin kota. Untuk tujuan itu, perpustakaan dapat bekerjasama dengan program yang dikembangkan beberapa kementerian dan lembaga negara, seperti program telecenter yang pernah dilakukan oleh Bappenas dan UNDP, Warintek oleh Kementerian Ristek, dan Community Access Point (CAP) oleh Kementerian Kominfo. Kesempatan untuk bekerjasama dengan pihak LSM media alternatif juga terbuka. Dengan begitu, perpustakaan tidak perlu jalan sendiri dan tidak selalu terbentur pada minimnya anggaran dari organisasi induk untuk melayani komunitas.

Perpustakaan tidak perlu khawatir ditinggalkan jika dia terus mengikuti perkembangan komunitas penggunanya. Sama halnya dengan kondisi surat kabar yang sempat merasa takut ditinggalkan pelanggan dan pembaca karena masyarakat akan beralih ke internet dan mesin pencari untuk memuaskan kebutuhan informasi mereka. Terobosan! Itulah yang diperlukan perpustakaan. Bagaimana caranya mendapatkan terobosan atau ide-ide segar untuk menghidupkan perpustakaan? Caranya dengan melibatkan komunitas pengguna dan calon pengguna untuk memberi layanan yang mereka perlukan. Memang tidak mudah melibatkan komunitas pengguna, terutama jika pengguna sendiri belum dapat atau belum terbiasa menerjemahkan dan mengatakan secara terbuka kebutuhan informasi mereka.

Pelibatan komunitas pengguna akan menjadi tantangan tersendiri karena selama ini perpustakaan terbiasa membuat kebijakan sepihak dan komunitas pengguna terbiasa menerima tanpa memberi umpan balik. Dalam konteks perpustakaan umum, pustakawan perlu menjadi seorang pengamat komunitas dan belajar memahami isu-isu “pembangunan”. Alasannya adalah dengan semakin berkembangnya media, komunitas pengguna semakin terbuka dengan berbagai isu multidimensi yang berkembang. Mereka akan berusaha memaknainya dan ingin mengetahui dampak dari suatu masalah sosial dan politik terhadap kehidupan mereka. Bahkan dalam banyak kasus, pembangunan telah meminggirkan posisi masyarakat. Kedekatan, pemahaman, dan empati pustakawan terhadap kondisi yang dialami komunitas penggunanya dapat menjadi awal untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Tantangan pengelola perpustakaan di setiap zaman adalah menyesuaikan dan menempatkan diri dan lembaga mereka di tengah-tengah dinamika sosial. Diam di tempat bukan strategi yang bijaksana dan tidak menguntungkan siapapun. Pustakawan perlu bergerak karena mereka adalah pekerja kreatif. Saya yakin dan belajar dari pengalaman bahwa keahlian pustakawan di bidang pengelolaan informasi semakin diperlukan.

Jakarta, 22 Februari 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s