Pengetahuan-Saya

Ruang bersama dalam dialog feminis antar generasi


Sebelumnya saya bekerja di sebuah lembaga yang berfokus pada feminist movement building. Salah satu kegiatan mereka adalah mengadakan dialog feminist antar generasi tingkat nasional (Indonesia). Kegiatan itu dilakukan karena melihat latar belakang kesenjangan antara feminis generasi muda dengan generasi senior. Senior di sini tidak hanya dinilai dari usia tetapi juga dari pengalaman aktivisme di LSM maupun di jaringan aktivis.

Kesenjangan yang terjadi mencakup kesempatan dalam pengambilan keputusan, mengimplementasikan ide yang realistis, berpartisipasi dalam even tingkat nasional dan internasional, mengikuti workshop peningkatan kapasitas, dan perbedaan akses antara aktivis di Jawa dengan luar Jawa. Bila kondisi itu dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi kemandekan dalam gerakan feminis sehingga tidak mampu merespon tantangan ke depan. Oleh karena itu, salah satu dari tujuan besar kegiatan adalah memperkuat dan membuat keragaman kepemimpinan dalam gerakan perempuan.

Fokus terhadap dialog antar generasi dan feminis muda bukan tanpa tantangan karena sebagian aktivis senior di beberapa institusi di berbagai negara merasa program ini secara halus menyingkirkan peran mereka dalam melakukan perubahan. Sebagian juga merasa bahwa fokus pada feminis muda merupakan bias dari nilai konvensional yang mendewikan konsep “kemudaan” atau youthfulness. Poin mengenai adanya prasangka atau diskriminasi berdasarkan usia adalah fakta. Namun di sini saya mencoba fokus pada makna gerakan perempuan yang multigenerasi.

Saya bisa dibilang wajah baru dalam ranah gerakan perempuan. Dengan melihat pengalaman para feminis senior, saya merasa mereka layak mendapatkan kepercayaan, posisi dan penghargaan yang mereka terima. Saya juga tidak berhasrat menggantikan mereka karena saya merasa tidak ada yang perlu digantikan dan kapasitas saya belum menyamai mereka. Saya juga merasa memiliki kapasitas dan ruang sendiri yang sudah saya geluti selama beberapa tahun.

Meskipun demikian, dialog feminis antar generasi ini menjadi penting karena sebuah gerakan selayaknya menjadi milik semua orang yang merasa terlibat dan punya komitmen terhadap perkembangannya. Sebagian dari feminis generasi muda memiliki komitmen tersebut dan ingin lebih jauh terlibat dalam gerakan. Untuk itu, mereka perlu penguatan kapasitas dan kesempatan untuk berpartisipasi di tingkat nasional dan internasional.

Mengenai kesenjangan antar generasi tersebut, saya teringat dengan ucapan Jeroo Billimoria, seorang fellow Ashoka dari India, ketika ditanya mengenai pelajaran dari kerjanya di Childline. Dia menjawab:

…Belajar merelakan. Semua hal tidak akan persis sama dengan apa yang Anda kehendaki. Anda harus membiarkan orang mengambil alih. Yang terbaik bukanlah memiliki gambaran tentang apa yang anda kehendaki tetapi memiliki prinsip-prinsip dasar. (Bornstein, 2004, h.104).

Sementara seorang feminis senior pernah mengatakan bahwa feminis muda tidak perlu terlalu sibuk mengklaim ruang yang sudah dimiliki feminis senior, melainkan fokus pada menciptakan ruang baru yang sesuai bagi mereka. Dia mengatakannya karena melihat ruang yang sudah ada juga banyak mengalami konflik dan gesekan antar feminis. Jika feminis muda masuk ke dalamnya, dikhawatirkan mereka justru sibuk mengenali dan mengatasi konflik internal daripada bekerja melakukan perubahan. Pesan ini sangat inspiratif dan memberi semangat bagi saya. Kenali kemampuan masing-masing dan berikan apa yang dapat kita lakukan secara maksimal, di ruang manapun kita berada.

Jakarta, 13 Januari 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s