Pengalaman-Saya

BALIBO


Hari ini saya selesai menonton film Balibo karya sutradara Robert Connoly. Sejak diluncurkan, saya berniat untuk menontonnya. Pacar saya pernah bertanya alasan saya ingin menonton film ini. Alasannya karena saya pernah menonton film propaganda tentang Timor Leste dari sudut pandang pemerintah Indonesia dan kelompok yang pro-integrasi. Seingat saya, waktu itu saya duduk di SMP kelas 2 jadi sekitar tahun 1991-1992. Saya tidak paham kenapa sampai ada pemutaran film mengenai Timor Leste di sekolah negeri. Saya bersekolah di SMP 196 di Cilangkap, dekat Mabes TNI. Saya tidak tahu apakah kedua fakta itu saling berhubungan.

Kalau saya melihat arsip berita lama di internet, besar kemungkinan film itu dibuat sebagai pembenaran aksi militer Indonesia saat terjadi insiden Santa Cruz. Waktu itu Timor Leste dikenal dengan Timor Timur dan masih bagian dari Indonesia. Dalam pelajaran sejarah atau PMP, sering ada tugas menghapal nama propinsi dan ibukota propinsi Indonesia. Timor Timur mudah diingat karena dia propinsi ke-27 dan dikenal sebagai propinsi termuda. Tentu saja bapak/ibu guru dan buku pelajaran tidak menceritakan mengenai invasi dan aksi kekerasan yang dilakukan militer Indonesia. Kami sebagai siswa tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Timor Timur baru bergabung dengan Indonesia pada 1976.

Ketidaktahuan, depolitisasi kampus, kontrol terhadap media massa, serta usaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya dari publik menyebabkan sebagian dari generasi saya bingung menyikapi perkembangan yang terjadi di Timor Leste. Para siswa selalu diajarkan tentang sikap yang santun dan suka bergotong-royong sebagai penghayatan nilai-nilai Pancasila. Kami tidak diberikan pendidikan politik karena bagian itu sudah diurus dan dikendalikan oleh pemerintah. Porsi pendidikan yang diberikan pada kami adalah bagaimana menjadi warga negara yang baik menurut versi pemerintah.

Film Balibo menjadi media yang menceritakan kisah berbeda dari yang pernah saya dapatkan. Film itu menggambarkan tentang “ketakutan” Indonesia dan negara Barat (AS dan Australia) terhadap pengaruh komunisme di Timor Leste (dulunya Timor Portugis), tentang dukungan negara-negara tersebut dalam proses invasi, dan tentang ingatan masyarakat Timor Leste terhadap kekerasan yang mereka alami dan saksikan. Film ini juga mengenai ingatan saya tentang sebuah propinsi ke-27 Indonesia yang sering saya hapalkan.

Oleh karena alasan sejarah dan emosional itu, saya tidak setuju jika LSF (Lembaga Sensor Film Indonesia) melarang pemutaran film Balibo di ruang publik. Apalagi melihat gelagat tekanan terhadap kebebasan berekspresi ketika beberapa buku “kontroversial” yang baru terbit sulit diperoleh bahkan sempat menghilang dari toko-toko buku. Alasan LSF melarang pemutaran dan peredaran film Balibo adalah karena film itu dianggap “memiliki bobot politik” dan “dinilai dapat mempengaruhi persepsi masyarakat atas suatu peristiwa” (http://nasional.vivanews.com/news/read/110761-lsf__film_balibo_bermuatan_politis) sangat tidak populer. Bahwa ada cerita panjang sebagai pemicu dari kejadian Balibo yang tidak ditampilkan dalam film itu memang benar. Namun, pengalaman masyarakat Indonesia yang dipaksa menelan berita versi pemerintah tentang Timor Leste selama 24 tahun bisa menjadi konteks untuk memahami cerita dalam film itu.

Jakarta, 3 Januari 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s