Pengetahuan-Saya

Pemanfaatan TIK bagi kepentingan perempuan


Dear folks,

Saya ingin berbagi cerita.

Hari Sabtu, tanggal 19 Desember kemarin, saya dan Mbak Titik Hartini diundang sebagai pembicara di sebuah acara berjudul Perempuan dan pemanfaatan teknologi informasi bagi usaha kecil menengah. Acara itu diselenggarakan oleh Combine Resource Institution sebagai bagian kerjasama program mereka dengan ASPPUK dan Kopwan Setara yang didanai HIVOS dan Ford Foundation. Mbak Janti juga hadir mewakili kawan-kawan SETARA.

Presentasi awal dilakukan oleh Mbak Titik yang mengeritik mengenai hilangnya kata “mikro” dalam judul. Menurutnya perempuan justru banyak bergerak dalam usaha mikro atau gurem yang modal dan omsetnya jauh lebih minim dari usaha kecil dan menengah. Mbak Titik menyoroti tentang kendala yang dihadapi perempuan yang mengelola usaha. Hambatan formal yang dihadapi perempuan pelaku UMKM sudah banyak diketahui sehingga Mbak Titik hanya menyebutkan sekilas. Dia menekankan pada hambatan informal yang banyak berhubungan dengan struktur gender. Salah satunya adalah kesulitan perempuan sebagai pengambil keputusan baik dalam keluarga maupun dalam pengelolaan usaha. Seringkali langkah perempuan untuk memajukan usaha dapat dihentikan oleh suami yang tidak mengizinkan mereka untuk bepergian dan meninggalkan keluarga.

Salah satu pertanyaan dari moderator adalah apakah usaha mendekatkan TIK (bukan hanya TI seperti yang ada di judul) kepada kelompok perempuan justru menjadi beban tambahan bagi perempuan? Apakah program TIK kepada kelompok perempuan berangkat dari ambisi LSM atau dibentuk dari konsep kesenjangan digital, ketika sebenarnya mereka tidak merasa memerlukan akses dan keahlian TIK?

Saya pikir pertanyaan refleksi itu baik dan wajar untuk diungkapkan bagi seluruh aspek pemberdayaan dan pelayanan LSM di semua bidang. Hal itu juga tidak perlu menjadi peringatan besar jika kegiatan assessment dan pendekatan ke komunitas dilakukan dengan baik. Pun begitu, sebagai aktivis kita perlu mengajak masyarakat lebih kritis melihat kondisi dan menganalisa kebutuhan mereka.

Saya ingat dalam salah satu diskusi mengenai lingkungan, beberapa masyarakat sekitar DAS Ciliwung menyatakan kebutuhan mereka adalah tempat pembuangan sampah yang lebih besar dan jadwal pengambilan sampah yang teratur. Namun, kebutuhan itu dikritisi oleh seorang peneliti lingkungan dengan melempar kembali pertanyaan; apakah tempat sampah yang lebih besar dapat menyelesaikan masalah sampah di daerah mereka? Manusia cenderung memproduksi sampah yang lebih besar setiap tahun, apakah setiap tahun perlu ada tempat sampah baru yang lebih besar? Kemudian dia menawarkan pendekatan berbeda; dia mengajak masyarakat mengurangi volume sampah dengan memanfaatkan “sampah” menjadi suatu barang yang dapat digunakan. Baginya teknologi dan kreativitas mengurangi sampahlah yang perlu dikembangkan semua pihak.

Contoh di atas adalah bagian dari membangun kesadaran kritis masyarakat dampingan sehingga mereka dapat lebih baik memahami kebutuhan mereka dan dampaknya. Dengan begitu, kegiatan apapun yang dikembangkan tidak menjadi “beban pemberdayaan” atau bahkan melahirkan bentuk ketergantungan baru terhadap LSM yang melakukan pendampingan. Terutama jika mendengar pengalaman kawan-kawan yang memiliki anak remaja yang sudah akrab dengan TIK. Mengapa tidak memanfaatkan anak-anak mereka sendiri sebagai bagian dari penguatan kapasitas TIK yang berkelanjutan? Dengan begitu, ketika jaringan LSM mengurangi frekuensi dampingan, kelompok perempuan sudah memiliki pool of resources atau kolam sumber daya dari lingkungan mereka.

Saya sempat mengatakan dalam diskusi itu bahwa kelompok perempuan perlu mengklaim TIK bagi kepentingan mereka. Klaim ini perlu dilakukan mengingat TIK sejak awal dikembangkan dengan alasan politis bagi kelompok militer dari segelintir negara maju sebelum dimanfaatkan oleh kelompok sipil.

TIK sebagai alat juga sangat dibentuk oleh pemakainya. Dia dapat membuka kesempatan jika kita punya kemampuan menggunakannya dan menutup atau mengurangi kesempatan jika kita melewatkannya. Belajar dari kasus Prita dimana hukum di satu sisi bisa menjadi kekuatan dan di sisi lain justru melemahkan kita. Hal yang sama juga terjadi dengan TIK. Bahkan dari penggalangan koin untuk Prita, kita belajar bahwa TIK dapat menjadi media menggalang solidaritas yang dampaknya begitu besar.

Saya juga sempat menceritakan pengalaman pribadi sebagai korban pelecehan seksual yang mendapatkan kekuatan dari membaca dan terlibat dalam diskusi online. Saya terdorong mengungkapkan pengalaman melalui blog dan jaringan sosial yang membuka kesempatan saya untuk berbagi dan memberi kesempatan orang lain untuk ikut menanggapi dan membangun diskusi. Pengalaman itu memberi saya kekuatan dengan belajar menghadapi kasus tersebut dari pengalaman orang lain.

Sebagai bagian dari kelompok marjinal, perempuan pelaku UMKM perlu memanfaatkan TIK untuk ikut membentuk karakter TIK sesuai dengan kebutuhan informasi mereka. Setiap kelompok memiliki kebutuhan berbeda terhadap TIK. Satu kelompok mungkin menekankan kebutuhan pada aspek komunikasi, sementara kelompok lain mungkin pada teknologi informasinya. Sebagai pemilik alat komunikasi seperti HP atau televisi, masyarakat perlu diajak membentuk konten sesuai kebutuhan mereka.

Teknologi komunikasi melalui HP membuka kesempatan untuk lebih mendekatkan perempuan dengan sumber informasi dan cara berkomunikasi yang lebih efisien. Pemanfaatan TIK berpotensi meningkatkan konsumsi perangkat tetapi jika bentuk konsumsi itu dapat dilihat sebagai aset dan dapat dikelola (dan dimanfaatkan) bersama dalam kelompok serta dibeli dengan mencicil melalui koperasi maka proses mengakses TIK itu sendiri menjadi pembelajaran.

Saya merasa penguasaan TIK pada tingkat apapun akan meningkatkan rasa percaya diri pelakunya sehingga mendorong partisipasi yang lebih baik di forum yang lebih besar. Pengalaman saya, TIK telah membawa saya menjadi bagian dari globalisasi –lapisan terluar—yang dulu bahkan tidak saya pahami. Globalisasi, sebagai sistem yang dibentuk oleh TIK, telah memengaruhi jalannya ekonomi global termasuk minimnya kepedulian ekonomi makro terhadap usaha mikro. Dengan TIK, dunia menjadi layaknya sebuah papan ibu (motherboard) yang setiap komponennya saling terhubung dan menjadi inti bagi berjalannya sebuah sistem operasi. Dengan begitu, ada harapan bahwa melalui penguasaan dan pemanfaatan TIK kelompok perempuan mendapat kesempatan untuk memengaruhi sistem yang sedang berjalan.

Jakarta, 21 Desember 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s