Pengetahuan-Saya

Tanggapan terhadap tulisan Mbak Kamil: Tantangan dan Permasalahan Kepustakawanan Indonesia


Saya sangat menikmati sebagian dari tulisan Harkrisyati Kamil yang berjudul Tantangan Dan Permasalahan Kepustakawanan Indonesia. Saya pertama kali membacanya dari email Bung Syaldi dan di milis referensi maya. Lama tidak saya lirik. Kemudian karena tertarik dengan beberapa poin dalam tulisan itu, maka saya membuat beberapa catatan.

Catatan ini mungkin kurang menyeluruh karena saya juga hanya membaca sebagian dari tulisan itu terutama pada bagian bertajuk “15 Pokok Perhatian yang Perlu Segera Mendapat Perhatian Bersama”. Dalam nilai-nilai profesi pustakawan yang mencakup kualitas, kehormatan, dan kebersamaan, saya ingin menambahkan pelayanan sebagai suatu nilai yang tidak dapat diperlakukan sebagai “taken for granted”. Pelayanan dan melayani adalah sikap yang terbentuk dari pemahaman dan penghargaan terhadap kultur masyarakat pemakai dan prinsip kebebasan berekspresi.

Kamil menulis bahwa
Pustakawan adalah fasilitator kelancaran arus informasi dan pelindung hak asasi manusia dalam akses ke informasi.

Maka pustakawan sebagai fasilitator perlu ikut turun dan berada dalam kegiatan di komunitas dan tidak sebatas bekerja di belakang meja perpustakaan. Informasi tidak hanya berada dalam buku, majalah, dan rak perpustakaan tapi juga di dalam keseharian masyarakat dalam menyikapi kehidupan sosial mereka.

Sebagai bagian dari pertumbuhan kecerdasan sosial maka pustakawan perlu melakukan penguatan kepercayaan diri masyarakat terhadap pengetahuan dan identitas sendiri (lokal) seraya mendorong mereka untuk mengenal pengetahuan di luar diri. Hal itu sebagai bagian dari pendidikan pluralisme.

Sebagai lulusan ilmu perpustakaan yang saat ini tidak bekerja di institusi perpustakaan, saya merasa perlu ada deskripsi jenis pekerjaan yg dapat dilakukan lulusan ilmu perpustakaan, baik yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan pengelolaan informasi dan pengetahuan. Mungkin sudah ada tapi saya belum tahu.

Di bagian lain, Kamil berbagi keprihatinan dengan kondisi “tidak ada kejelasan tentang fungsi-fungsi institusi informasi seperti arsip, perpustakaan dan dokumentasi.” (No. 4). Saya tidak akan menanggapi hal itu secara langsung, melainkan justru ingin mengetahui jika ada bentuk-bentuk (lembaga) lain yang melakukan “fungsi perpustakaan” yang berkembang di komunitas? Atau bagaimana perpustakaan memberdayakan masyarakat untuk mengantisipasi munculnya berbagai media yang difasilitasi LSM sebagai sumber informasi populer?

Poin di atas berhubungan dengan nomor 5 mengenai banyaknya anggota masyarakat yang berniat baik untuk ikut serta membangun kepustakawanan tetapi tidak didukung oleh pengetahuan dan keahlian yang memadai. Saya sendiri “curiga” bahwa banyak perpustakaan didirikan dengan asumsi bahwa masyarakat pemakai mengetahui tentang fungsi, manfaat, dan potensi perpustakaan. Padahal yang terjadi mungkin sebaliknya. Dugaan lainnya, masyarakat menilai perpustakaan daerah sebagai institusi top-bottom sehingga mereka tidak mempunyai suara atau dilibatkan dalam membentuk layanan perpustakaan.

Kesinambungan layanan perpustakaan disinggung di poin 6. Masalah klasik dalam berbagai profesi adalah ketika lulusan lebih berminat bekerja di kantor institusi yang mapan dengan status, penghasilan & fasilitas yang memadai sementara faktor-faktor itu tidak ditemui di perpustakaan daerah (yang belum berkembang).

Nomor 7, Kamil menilai sudah ada terlalu banyak “gerakan” untuk mempromosikan
kepustakawanan. Saya pikir sebaliknya. Promosi yang “terlalu banyak” dilakukan itu menekankan pada ajakan membaca dengan mengunjungi perpustakaan. Sementara pada banyak komunitas, ngumpul-ngumpul dan bertukar cerita secara lisan jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat bagi keseharian mereka. Prosesi membaca bersama lebih banyak dilakukan pada kegiatan agama seperti sekolah minggu, tadarusan, …(silakan ditambahkan). Tanpa didukung oleh pemahaman terhadap kebiasaan dan budaya masyarakat, pustakawan dapat terjebak pada anggapan bahwa minat baca masyarakat sangat rendah.

Saya sepenuhnya setuju dengan poin nomor 8, terutama pada pernyataan bahwa “perpustakaan tidak dianggap sebagai salah satu pilar pendidikan”.

Bicara mengenai standarisasi kepustakawanan di poin 9, saya ingin agar proses tersebut tidak menjadi beban baru dan menjadi hambatan untuk pengelola perpustakaan yang sedang berkembang. Kita bisa belajar dari kasus Ujian Nasional.

Pada poin 11 disebutkan tentang pendidikan Indonesia yang kurang menghargai filsafat, ilmu, dan metodologi perpustakaan. Saya setuju. Namun, tidak itu saja. Minimnya pemahaman dan penghargaan masyarakat terhadap informasi berimbas pada minimnya penghargaan terhadap orang yang mengelolanya. Menghargai bekerja dua arah, jika pustakawan menghargai informasi dan pengetahuan komunitas pemakainya maka kemungkinan besar komunitas tersebut akan menghargai informasi yang kita miliki.

Dari pengalaman saya bekerja di LSM dan pernah meneliti tentang telecenter di pedesaan, pemahaman mengenai informasi perlu dibangun oleh pustakawan atau petugas lapang karena masyarakat jauh lebih antusias mendapatkan alat ekonomi berbentuk fisik yang dapat langsung dipakai (bibit,tanah,kayu,sampan,dll) daripada informasi yang mungkin harus mereka cerna sebelum siap dipakai. Sebagian masyarakat juga menilai informasi yang mereka dapatkan dari luar cenderung lebih sesuai untuk masyarakat industrialis, sementara basis kehidupan mereka agraris. Kita paham bahwa lazimnya isu yang dimunculkan di media dan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan target/segmen pembaca dengan latar belakang identitas tertentu. Oleh karena itu, kelompok di luar segmen mungkin akan sulit membaca dan menghubungkan dampak informasi tersebut bagi kehidupan mereka. Mungkin juga isu yang diangkat sangat tidak penting bagi mereka. Apa gunanya bagi masyarakat Desa Kertosari, Lumajang membaca tentang situasi kemacetan di Jakarta?

Bicara tentang pemanfaatan teknologi, sudah ada cukup banyak LSM lokal yang berupaya mengontekstualisasikan informasi dan memberdayakan masyarakat sebagai sumber informasi. Kemudian bermunculan media komunitas seperti radio komunitas, TV komunitas, dan aplikasi SMS gateway. LSM tersebut memfasilitasi terbentuknya media informasi dan membantu masyarakat mengelolanya, termasuk mengkritisi media populer.

Pengalaman tersebut membuka mata saya bahwa pustakawan tidak sendiri dalam pekerjaan mereka. Jika fungsi pustakawan masih terbatas sebagai pengelola informasi dan pengetahuan yang “sudah jadi” maka perannya sebagai fasilitator dalam meningkatkan kecerdasan sosial menjadi sangat tidak optimal.

Ini saja pendapat dan apresiasi saya terhadap sebagian tulisan Harkrisyati Kamil. Apakah saya bisa mendapatkan tulisan yang komplit? Semoga dapat memunculkan diskusi lebih lanjut.

Salam
Niken Lestari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s