Pengetahuan-Saya

Menemukan heteroseksualitas


Homoseksualitas bukan sesuatu yang baru bagi saya. Saya mengenalnya sekitar tahun 1992 ketika di SMP. Saya mengenal seorang laki-laki feminin di sekolah. Dia senior saya dan kami tidak berteman baik, hanya sering berpapasan, bertukar sapa dan senyum. Sebut saja namanya Fajar. Orangnya baik dan tidak mengikuti arus pergaulan remaja laki-laki yang negatif. Dia tidak kasar, tidak suka berteriak atau ikut tawuran. Saya menyukainya.

Namun, sebagian teman laki-laki saya tidak menyukainya. Inilah yang mengherankan. Fajar sering diolok-olok karena kehalusannya, gaya berjalannya, dan gaya bicaranya yang dianggap seperti perempuan. Olokan mereka kasar sekali dan kadang mereka mendorong, sengaja menyenggol, menabrak sambil membuat kegaduhan agar orang lain melihat tingkah mereka. Saya berempati pada Fajar karena saya tidak melihat dia berbuat kesalahan. Dia berbeda, itu saja.

Pernah suatu kali dalam perjalanan pulang dari sekolah, saya dan Fajar berjalan bersama. Saya pamit duluan untuk menyebrang. Ketika dia berdiri sendirian, sekelompok teman laki-laki datang dan mulai mengolok, berteriak, dan menabrakkan diri secara sengaja ke tubuh Fajar. Saya tidak suka melihat perlakuan mereka tapi saya hanya bisa berdiri di tempat saya dan merasa tersakiti. Saya tidak tahu kenapa saya merasa tersakiti walaupun saya tidak berteman dekat dengan Fajar. Peristiwa itu terjadi di pinggir jalan dengan banyak orang lalu-lalang. Sebagian orang di situ, termasuk teman-teman kami tidak mencoba melerai bahkan tertawa melihat Fajar diolok-olok. Saya dan seorang teman perempuan saling berpandangan karena kami berdua merasa tidak nyaman. Fajar terlihat marah dan memaki mereka tapi itu tidak menghentikan olokan teman-teman. Sepertinya Fajar ingin menangis tapi dia berusaha keras untuk menahannya.

Saya tidak akan pernah tahu penderitaan Fajar menghadapi perlakuan kasar dari teman-temannya di sekolah. Namun, kejadian dan pengalaman itu sangat membekas dalam diri saya. Saya jarang mengingatnya sampai mulai kuliah. Saat itu sebagian teman memiliki pacar atau pasangan. Paling tidak teman-teman perempuan mempunyai ketertarikan seksual dengan lawan jenis. Saya tidak merasakannya dan merasa gelisah. Apakah saya normal? Apakah saya seperti Fajar?

Saat itu, secara seksual saya tidak merasa tertarik dengan laki-laki dan perempuan. Hmm…apakah saya makhluk aseksual?

Saya bertanya ke teman dekat tetapi tidak mendapat jawaban. Dia berpikir mungkin belum saatnya saya tertarik pada lawan jenis. Lagipula, mana ada sih perempuan suka perempuan. Saya mengikuti pengajian di kampus dan sudah mengetahui pendapat mereka mengenai homoseksual. Saya merasa beruntung dapat mengakses internet dan memutuskan mencari informasi sendiri mengenai homoseksualitas terutama dalam islam.

Perasaan saya campur aduk. Khawatir, penasaran, takut, bersemangat, dan lain-lain. Bagaimana kalau saya mengetahui siapa saya sebenarnya, orientasi seksual saya? Saya ingat menemukan website dari seorang gay di AS. Orang tuanya berasal dari Mesir dan dia beragama Islam. Saya membaca kisahnya, refleksinya, hasil bacaannya, dll. Saya belajar banyak dari tulisannya. Kemudian saya memberanikan diri untuk mengirim email ke seorang gay muslim lain. Berhubung saya masih awam, mungkin dia merasa terintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang sepertinya kurang berempati sehingga hubungan via email hanya berumur pendek.

Dari internet, saya mulai mengenal GAYA Nusantara antara tahun 1999 – 2000. Saya kurang suka website GAYA saat itu karena terlalu banyak cerita seks dan minim informasi atau refleksi. Pencarian informasi mengenai kelompok gay lebih banyak daripada kelompok lesbian. Melalui internet, saya mengenal kelompok Srikandi tetapi tidak pernah berhubungan dengan anggota mereka.

Internet dan koleksi perpustakaan menjadi surga bagi saya untuk belajar seksualitas. Perlu waktu yang sangat lama untuk memahami seksualitas diri saya sendiri karena hampir tidak ada teman diskusi untuk membicarakan hal satu ini. Selama itu pula saya masih bingung mengenai orientasi seksual dan apakah setiap orang harus memilikinya? Sampai akhirnya saya merasa menemukan heteroseksualitas dalam diri saya dan merasa nyaman dengannya. Saya bahagia karena tidak menerima seksualitas atau heteroseksualitas itu apa adanya atau take for granted that everyone is heterosexual by birth. Belajar mengenai homoseksualitas telah membawa saya pada penemuan ini.

Menjadi heteroseksual bukan berarti saya mampu dengan sendirinya menjalin hubungan emosi yang hetero. Saya tidak suka menjalin hubungan emosi dengan laki-laki dan cenderung menutup diri. Tadinya saya merasa sudah cukup menjalin hubungan dengan bapak, adik, paman, sepupu, presiden, menteri, gubernur, walikota, sopir bus, dll yang semuanya laki-laki. Namun, saya ingin merasakan heteroemosional yang berbeda; yang lebih intim. Thank God, I am in love; proportionally in love actually dan saat ini saya menjadi heteroseksual yang menjalani heterorelationship. Yay, yay!

Dalam penemuan dan menjalani heteroseksualitas ini, saya akan terus mengingat pengalaman dengan Fajar. Berharap kali ini saya tidak akan diam jika melihat ada teman homoseksual yang diperlakukan tidak adil.

Jakarta, 27 Oktober 2009

Advertisements

One thought on “Menemukan heteroseksualitas

  1. ikut sneng deh mbakyu niken..atas anugerah cinta yg kau miliki saat ini. love is a great energy, right? dg begitu mungkin bisa lebih produktif dlm menjalani segala sesuatu. and actually..I never fall in love…maybe..just waiting for that moment. tp manakah yg mb niken sepakati…menunggu atau mencari sang mr.right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s