Pengetahuan-Saya

Apa kabar generasi muda?


Generasi muda biasanya identik dengan perubahan. Namun, belum banyak gerakan kritis yang mengorganisir generasi muda sebagai penerus gerakan mereka. Just Associates adalah salah satu lembaga yang ikut bergiat pada penguatan kapasitas feminis muda. Saya merasa bangga untuk menjadi bagiannya. Saya merasa fokus penguatan itu sangat penting karena selama ini jaringan, semangat dan dinamika generasi muda kurang diperhatikan dan dikelola dengan baik.

Saat ini usia saya 30 tahun dan relatif berada di pertengahan antara dewasa muda dan senior. Namun, saya tidak merasa tersingkir jika ada orang-orang yang lebih muda tampil, berprestasi, berbuat kesalahan, belajar untuk “bisa”, dan terus mencoba. Saya tidak mengharapkan semua kelompok muda adalah mereka yang percaya diri, cerdas, menguasai berbagai keahlian, dsb. Kelompok muda tidak perlu identik dengan kelompok terpelajar kelas menengah yang ada di kota-kota besar. Kelompok muda termasuk bagian dari korban kekerasan, kemiskinan, de-politisasi, dan perusakan lingkungan. Mereka pewaris identitas tersebut dari orang tua dan kemungkinan besar akan mewarisinya ke anak-anak mereka.
Aquino Hayunta dalam artikelnya di Jurnal Perempuan (No. 61, Des 2008) menulis bahwa

Setelah sekian lama dibungkam, akhirnya anak muda ikut berperan aktif dalam reformasi tahun 1998 yang menumbangkan Presiden Suharto. Namun ketika itu, anak muda Indonesia sudah ketingalan jauh dalam mengenal isu-isu demokrasi, hak asasi manusia atau kesetaraan gender, sehingga gerakan anak muda yang muncul ketika itu tidak memperoleh fondasi serta visi yang kuat. (hlm. 99)

Saya merasa sebagai bagian dari anak muda yang terasing dari berbagai isu sosial dan minimnya upaya membangun kesadaran kritis. Negara di bawah rezim orde baru tidak dapat diandalkan untuk membangun kesadaran tersebut karena dapat mengancam stabilitas kekuasaan mereka. Gerakan fundamentalisme agama yang terorganisir di akhir 90-an seakan menjadi oasis bagi sebagian generasi muda yang mendambakan ruang diskusi yang toleran dan kritis terhadap pemerintah. Ide-ide revolusioner dan kegiatan pengembangan kapasitas yang mereka lakukan disambut dengan semangat.

Dulu saya termasuk yang penasaran dengan ide-ide tersebut. Perhatian seorang remaja sangat terfokus pada diri mereka sendiri dan kelompok pergaulan sehingga mereka akan merasa kuper jika tidak memiliki gerombolan. Dengan jalur ini, kelompok pengajian terbentuk dan membentuk jaringan. Ketika di SMA, saya termasuk remaja yang tidak punya gerombolan dan memang menjauhi gerombolan. Saya pernah mengikuti kelompok pengajian (ROHIS) tetapi mereka tidak menjawab kegelisahan saya dengan tuntas sehingga saya keluar dan lebih tertarik menekuni koleksi di perpustakaan.

Ketika menjadi mahasiswa, terjadilah krisis moneter dan krisis politik. Saya disadarkan bahwa saya tidak tahu banyak mengenai negara dan bangsa ini selain dari bahan-bahan Penataran P4. Kebangsaan bangsa Indonesia yang majemuk dan kompleks muncul secara mengejutkan karena sebelumnya bangsa ini kurang diajarkan untuk berbangsa dalam perbedaan.

Selain gerakan fundamentalis, gaya hidup konsumerisme yang berlebihan juga menggoda generasi muda. Mereka yang tidak tertarik dengan politik dan fundamentalisme akan berpaling ke gaya atau style ini sebagai bentuk pencitraan diri. Saya kadang menjadi penganut gaya hidup ini. Bagi mereka, politik tidak menarik karena diisi oleh old-bureaucratic-people with obsolete-style. Politik juga mahal sementara hanya sebagian kecil generasi muda yang berasal dari kelas menengah ke atas. Sebagian orang dewasa melihat generasi muda sebatas sebagai penerus dalam arti meneruskan saja yang sudah ada. Mereka diatur dalam rambu-rambu ketat sedemikian rupa agar seminim mungkin melakukan penyesuaian sesuai dengan konteks.

Lalu saya “melayang” (tidak perlu pakai narkoba, cukup dengan tidur-tiduran dan berimajinasi), mencoba melihat berbagai masalah dari “atas” (dari luar diri) dengan harapan dapat melihat hubungan masing-masing dan melihat pola yang samar-samar. Kadang berhasil, kadang membuahkan lebih banyak pertanyaan. Kadang menjadi lega, kadang jadi lapar. Seorang “muda” sering berhadapan dengan kebingungan.

Ketika saya lulus kuliah, saya makin dibuat gila dengan kegelisahan itu lalu memutuskan mencari pengalaman bekerja di LSM. Saya memang akhirnya mendapat sesuatu yang berbeda. Namun, seperti yang ditulis Hayunta, banyak generasi muda yang berpotensi kuat merasa tidak dapat terlibat dalam gerakan karena terbatasnya kesempatan kerja di organisasi-organisasi sosial atau LSM. Padahal keterlibatan dalam gerakan sosial tidak terbatas di LSM, lembaga internasional atau lembaga donor. Dengan begitu, pola-pola keterlibatan generasi muda dalam gerakan terorganisir selain LSM perlu dikembangkan.

Citra keliru mengenai politik perlu diberantas (akhirnya saya menggunakan kata ini! *dance*). Politik sebenarnya tidak mahal, tidak hanya dapat dilakukan orang dewasa dari kelas menengah ke atas yang terpelajar, dan tidak sebatas pada politik legislatif dan eksekutif. Membangun kesadaran kritis tidak hanya dilakukan oleh LSM, sangat mungkin difasilitasi oleh LSM tetapi kesadaran itu pun perlu dipelihara dan dilatih. Kesadaran adalah sesuatu yang tumbuh sejalan dengan kehidupan.

Usia dan pengalaman yang muda adalah tantangan besar yang akan mengantarkan kita dalam pilihan menjalani “kedewasaan”. Orang dewasa yang saya hadapi nanti adalah generasi muda yang dibesarkan oleh realitas hari ini.

Jakarta, 20 Okt. 09
SM

Advertisements

One thought on “Apa kabar generasi muda?

  1. Hi SM! I really like your writing!
    Benar memang politik dan demokrasi adalah sesuatu yang asing untuk generasi muda. Memang banyak cara untuk “mengipas-ngipasi” anak muda supaya mau tahu dan bergerak untuk lingkungan politik yang sehat di Indonesia.
    LSM bisa fasilitasi, saya setuju sekali. Harus lebih banyak LSM yang menyisipkan program-program untuk anak muda dalam kerjanya.
    Cheers & bottoms up.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s